Titik 0 km | Dari Sini Semua Berawal
Anda di sini: Home » Features » Siapa Takut Jakarta

Siapa Takut Jakarta

Siapa Takut Jakarta

Oleh : A. Gugun Ginanjar

Dahulu teman kuliahku pernah berkata “Kalo lo sudah bisa hidup di Jakarta tanpa menjadi gila atau mati, lo bisa hidup dimana saja dibelahan bumi Indonesia walaupun di hutan belantara sekalipun,” ujar dia, sebuah quote bernada satir tentang Jakarta dan memang terbukti sekarang.

Jakarta dengan luas daratannya 661,52 km² dihuni oleh 10.187.595 jiwa (2011) dan merupakan mega metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia. Tumplek blek Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN. Jadi tidak heran apabila Jakarta menjadi magnet bagi penduduk Indonesia untuk mengadu peruntungan, banyak yang berhasil dan banyak pula terpaksa kembali ke kampung halaman tanpa membawa hasil. Tantangan untuk bisa berhasil sangat kompleks, Jakarta bagaikan medan perang yang harus dihadapi dengan taktik dan strategi yang jitu untuk sekedar bertahan hidup, dengan segala permasalahan yang membelit Jakarta dan penghuninya.

Macet

Macet adalah merupakan penyakit menahun yang menjangkiti  Jakarta, tidak mengenal musim bahkan di musim penghujan dapat dipastikan Jakarta akan macet parah, setiap hari kecuali libur Lebaran dapat dipastikan Bagi warga Jakarta atau warga Bodetabek yang merupakan daerah penyangga Jakarta yang ingin menuju Jakarta untuk bekerja atau beraktivitas lainnya dipastikan harus berjuang ekstra keras untuk mencapai tempat tujuan. Kemacetan diakibatkan oleh : pertama, pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 11% per tahun. Data Polda Metro Jaya juga menyebutkan, 12 juta kendaraan bermotor rata-rata masuk dan melintas di Jakarta setiap hari.

Bayangkan juga jika jumlah kendaraan baru di Jakarta per hari mencapai 1.130 unit. Akibatnya, tak hanya lokasi kemacetan yang bertambah, tetapi durasi jam macet di Jakarta dipastikan juga akan semakin lama. Angka pertumbuhan jumlah kendaraan pertahun tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan ruas jalan yang hanya 0.01% tahun. Panjang jalan di Jakarta yang hanya 7.208 km masih sekitar 60% dari kebutuhan ideal panjang jalan yaitu 12.000 km dengan asumsi jumlah penduduk Jakarta 12 juta jiwa dan laju pertumbuhan kendaraan 0% sampai dengan kebutuhan ruas jalan terpenuhi. Bahkan diperkirakan tahun 2015 pada rush hour kemacetan akan dimulai pada saat mobil kita keluar dari halaman rumah apabila tidak ada kebijakan yang bersifat sulap untuk mengatasi kemacetan.

Kedua, pertumbuhan prasarana transportasi publik yang tidak signifikan dan menurunnya jumlah pengguna sarana transportasi publik di Jakarta. Jumlah kendaraan angkutan umum dari segala jenis pada 2010 lalu hanya 63.112 unit, justru menurun dibanding tahun sebelumnya 63.427 unit. Data Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) juga menyebutkan ironi, bahwa pangsa angkutan umum terhadap total perjalanan di Jabodetabek turun dari 38,2% pada 2002, menjadi hanya 17,1% pada 2011. Data lain yang disajikan oleh pihak Organda pada 2010 menunjukkan bukti serupa. Terjadi penurunan tajam jumlah pengguna angkutan umum yang hanya menyisakan load factor sebesar 24%

Beragam upaya telah dilakukan oleh pemprov Jakarta dan yang sudah nyata nyata adalah pembangunan sarana transportasi public berupa Busway. Jalur jalan umum dibelah untuk membuat jalur busway yang bebas hambatan kecuali traffic light (teorinya) yang perlu lebih diperhatikan adalah kualitas pelayanan sarana dan prasarana lebih ditingkatkan sehingga mampu menyihir pengendara kendaraan pribadi untuk beralih ke transportasi public. Sedangkan untuk subway dan MRT sampai sekarang belum terlihat geliat pembangunannya.

Kerugian yang ditimbulkan kemacetan terutama dari segi ekonomi selain kerugian waktu dan tingkat kesehatan warga Jakarta yang walaupun ujungnya meninmbulkan kerugian secara ekonomi pula. Berdasarkan data Kadin DKI yang didapatkan dari kajian Universitas Indonesia (UI), kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta ini setiap tahunnya berkisar Rp12,8 triliun. Angka itu diperkirakan akan terus bertambah tiap tahun. Hal itu dipengaruhi naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tidak seimbangnya pertumbuhan kendaraan bermotor dengan infrastruktur jalan. Di bidang kesehatan diperkirakan biaya kesehatan untuk meminimalisir akibat polusi udara per penduduk Jakarta  adalah sekitar  30 ribu perbulan atau 36 M untuk warga Jakarta. Angka yang sangat fantastis hanya untuk kerugian yang diakibatkan macet.

Untuk berangkat kerja atau aktivitas lainnya penduduk Jakarta dan sekitarnya harus menyiapkan fisik dan mental baja bagaikan tentara hendak berperang. “Musuh” dijalan dapat berupa apa saja, penyebrang jalan sembarangan, pintu tol, traffic light, pedagang asongan, anjal dan pengemis, pengendara yang ceroboh, penyerobot antrian, pejabat lewat yang menggunakan jasa vojrider, angkutan umum yang ngetem sembarangan, pendemo, pelaku criminal dan sebagainya, membuat pengendara harus selalu waspada dan berusaha melewati rintangan secepatnya untuk segera sampai ke tempat tujuan sehingga membuat tingkat stress pengendara di Jakarta sangat tinggi.

Jadi jangan heran bila sering kali kita melihat pengendara yang begitu emosional menghadapi kemacetan. Untuk anda yg belum pernah mengalami kemacetan Jakarta bayangkan ketika jaman revolusi dahulu tentara dibantu rakyat, secara sporadis berusaha merebut daerah yang dikuasai musuh. Ada yang membawa senjata api rampasan, bamboo runcing, golok, pisau, atau bahkan tangan kosong menyerbu musuh. Rintangan dan tantangan sangat hebat, sehingga dibutuhkan strategi dan siasat khusus untuk bisa merebut wilayah yang dikuasai musuh bahkan nyawa taruhannya. Begitulah analogi dari kemacetan Jakarta.

Banjir

Apabila macet tidak mengenal musim, banjir agak lebih lumayan dalam hal menambah tingkat stress penduduk Jabodetabek karena hanya akan mampir bila di musim penghujan walaupun dampaknya sangat merugikan. Hampir semua wilayah di Jakarta apabila musim penghujan akan dilanda banjir, bahkan saking terbiasanya alih2 untuk memperhalus kata “banjir”, banjir yang melanda wilayah Jakarta yang dibawah 1 m akan disebut genangan air. Akibat banjir yang melanda, Jakarta lumpuh, Ekonomi terhenti, masyarakat mengungsi dengan menderita kerugian materi bahkan tidak jarang kerugian jiwa, infrastruktur rusak parah.

Trilyunan rupiah kerugian yang ditanggung Jakarta dan penduduknya dari berbagai sector terutama ekonomi, belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk memulihkan dampak banjir.  Banjir diakibatkan dari berkurangnya lahan daerah aliran sungai dan lahan resapan air. DAS berkurang oleh ekspansi penduduk Jakarta yang mendiami bantaran sungai belum lagi kebiasaan warga Jakarta yang sembarangan membuang sampah sehingga mendangkalkan dan menutup aliran air ke laut.

Luas DAS Ciliwung sebagai sungai utama yang membelah Jakarta kini sudah semakin sempit. Luas DAS yang sebelumnya mencapai 38 ribu hektare (ha) kini merosot hampir 50 persen. Di bagian hulu, luas hutannya hanya tinggal 9,5 persen. Padahal idealnya luas hutan mencapai 30 persen. Alhasil, kemampuan DAS Ciliwung pun merosot 50 persen dalam waktu 15 tahun. Padahal DAS Ciliwung dan subdas di Jakarta berpotensi menahan 3 miliar meter kubik air per tahun. Namun kini Jakarta dikepung sekitar 1,3 m3 air per tahun akibat kemampuan DAS menyerap air menyusut setengahnya.

Jika dahulu Belanda dipusingkan dengan banjir dengan DAS yang luasnya 50% lebih luas dari DAS yang ada apalagi kini pemprov Jakarta, dan bisa dipastikan dampaknya 50% lebih hebat. Lahan terbuka hijau sebagai daerah resapan air juga berkurang, Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta mencatat, selama kurun waktu 2001 hingga 2012, luas ruang terbuka hijau (RTH) di Ibu Kota hanya 2.718,33 hektare. Angka ini sama saja dengan 10 persen dari total luas DKI Jakarta dan angka ideal RTH yang dibutuhkan adalah sekitar 30% dari luas wilayah.

RTH banyak berkurang akibat dari kebanyakan ekspansi bisnis, banyak lokasi bisnis seperti mall dan perkantoran merebut lahan RTH ini. Jika mengamati dan membandingkan RUTR 2005, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2010, dan RTRW 2030, jelas terlihat penyimpangan fungsi lahan di Ibu Kota. Pengembangan tata ruang Jakarta periode 2005-2010 telah mendegradasi luasan ruang terbuka hijau. Hampir 20 persen ruang terbuka hijau yang ada berubah menjadi kawasan ekonomi. Dibutuhkan kebijakan dan keberanian pemprov Jakarta untuk mengamankan RTH yang masih tersisa bahkan menambah area RTH dengan merebut kembali lahan RTH yang dijadikan kawasan ekonomi bila jelas jelas melanggar RUTR dan RUTW DKI Jakarta.

Kebijakan mengatasi banjir ibukota lebih kepada kebijakan elit, karena hanya dengan tangan besi lah rencana kebijakan untuk mengatasi banjir bisa dijalankan. Tarik menarik kepentingan terutama kepentingan bernuansa ekonomi dan politis akan sangat kental. Karena kondisi Jakarta sekarang ini adalah akibat pembiaran aturan yang dilanggar demi kepentingan ekonomi dan politik.

Angka Kriminalitas yang Tinggi

Jakarta dan wilayah penyangganya telah menjadi daerah yang rawan kejahatan, hal ini dikakibatkan oleh Jakarta merupakan pusat bisnis dan tingginya tinggat urbanisasi ke Jakarta dan sekitanya  belum lagi potensi konfilk antar penduduk local dan pendatang sehingga tidak menyisakan rasa aman lagi bagi penduduknya. Sekitar 1970-1980, kriminalitas banyak terjadi di Pasar Baru, Senen, Kramat, serta Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk.

Kriminalitas yang muncul berupa kejahatan ringan seperti pencopetan, penjambretan, ataupun penodongan, kriminalitas dominan terjadi di pusat-pusat keramaian seperti kawasan Senen yang terdapat pasar, terminal, dan stasiun. Seiring berjalannya waktu pusat bisnis mulai bergeser kearah timur dan barat Jakarta untuk mengurangi tekanan pembangunan di wilayah selatan.

Pusat pertumbuhan juga mulai tersebar merata seperti Glodok (barat), Jatinegara, Manggarai, dan Pulogadung di Timur, Tanjung Priok (utara), serta Senen dan Tanah Abang (pusat). Kini Jakarta adalah pusat bisnis di Indonesia dan perputaran uang akibat dari tingginya aktivitas ekonomi diperkirakan 2.000 T dan ini setara dengan APBN Indonesia.
Tingginya uang yang beredar merupakan daya tarik sendiri bagi pendatang. Banyak yang dengan modal nekat datang ke Jakarta sehingga ketika tiba di Jakarta menjadi pengangguran dan memicu tingginya angka kriminalitas. Setiap 10 menit terjadi satu kejahatan di Ibu Kota. Selain itu, selama tahun 2013 terjadi 51.444 kasus kejahatan. Sementara, kasus yang diselesaikan hanya 37.665 kasus. Maka berhati-hatilah bagi anda yang tinggal di Jakarta karena kejahatan dapat menimpa siapa saja meskipun sudah berada di dalam rumah sendiri.

Beginilah kondisi Jakarta terkini, bagi anda yang sangat ingin mengadu nasib di Jakarta persiapkan dahulu segalanya. Keahlian untuk menunjang pekerjaan sangat dibutuhkan disamping keberanian ekstra dan mental baja. Begitu anda berada di Jakarta, anda serasa di medan perang yang harus diwaspadai 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Bahkan ketika anda sedang terlelap tidur setelah seharian menembus belantara Jakarta, banjir dan kejahatan bisa datang dengan tiba-tiba tanpa permisi dan pemberitahuan terlebih dahulu. Kreativitas untuk bertahan hidup sangat dipaksa dan merupakan keharusan. Dan ketika anda sudah bisa hidup dan mengikuti irama Jakarta tanpa menjadi gila dan mati karenanya anda akan dapat hidup tenang dimanapun anda berada di belahan bumi Indonesia walaupun dihutan belantara sekalipun. (*)

*Penulis adalah Kontributor Titik Nol Kilometer untuk Jawa Barat dan Banten

Bagikan :

Leave a Comment

Scroll to top