Titik 0 km | Dari Sini Semua Berawal
Anda di sini: Home » Bisnis » Tim 5 Dirlantas Polda Jatim Nilai Jalur Blackspot Pakusari dalam Program OK BOS

Tim 5 Dirlantas Polda Jatim Nilai Jalur Blackspot Pakusari dalam Program OK BOS

Tim 5 Dirlantas Polda Jatim Nilai Jalur Blackspot Pakusari dalam Program OK BOS

Jember (titik0km.com) – Jalur tengkorak timur terminal Pakusari tepatnya di depan PTPN Kebun Kertosari Pakusari Jember jadi penilaian kegiatan “Open Karo Black On The Spot” (OK BOS) Daerah rawan kecelakaan lalu lintas (Blakcspot) dari Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim, jalur di Desa Kertosari Pakusari di piliha karena angka kecelakaan paling tinggi dibanding 6 daerah rawan laka (blackspot) yang ada di Jember.

“Kami memilih jalur ini sepanjang 500 meter ke timur dan 500 meter ke barat dari titik blackspot yang ada di depan PTP Kertosari karena daerah ini paling rawan kecelakaan dan mengakibatkan korban meninggal dunia, tahun 2017 saja dari 10 kejadian 6 meninggal dunia,” ujar tim penilai jatim 5 yang diketuai Kasat PJR Polda Jatim AKBP. Aris Yudha Legawa SIK.

Legawa menambahkan bahwa penilaian terhadap program OK BOS ini merupakan program Dirlantas Polda Jatim dalam penanganan korban kecelakaan lalu lintas, dimana penilaian melibatkan semua stakeholder seperti Dinas Perhubungan, Jasa Raharja maupun kepala desa di tiap-tiap titik black spot.

“Penilaian pada program OK BOS ini lebih ditekankan pada bagaiamana penanganan saat fase-fase laka lantas yang meliputi Pra laka lantas, saat laka lantas maupun pasca laka lantas, bagaimana penanganannya, makanya semua kita libatkan termasuk kepala desa di tiap-tiap polres,” ujar Legawa.

Kasatlantas Polres Jember AKP. Prianggo Malau Parlindungan kepada sejumlah media mengatakan bahwa desa Pakusari di pilih untuk penilaian program OK BOS dikarenakan daerah ini angka kecelakaan tertinggi mengakibatkan korban meninggal dunia dibanding 7 daerah lainnya, terlebih selama gelar operasi keselamatan lalu lintas yang digelar secara serentak beberapa waktu lalu menjadikan Jember sebagai kota dengan tingkat kecelakaan tertinggi di Jatim.

“Ironi memang ketika Jember menjadi kota tertinggi dengan angka kecelakaannya, makanya dengan adanya program ini, ternyata bisa menekan angka kecelakaan, sejauh ini selama 2018, di jalur Desa Pakusari nihil kecelakaan sampai meninggal dunia, dan mudah-mudahan tidak ada, dan untuk daerah lain yang disebut sebagai daerah blackspot, juga akan kami berlakukan dengan mendirikan pos pantau seperti di Pakusari,” pungkas Prianggo. (*)

Bagikan :

Leave a Comment

Scroll to top