Bangkitlah

Oleh : Agus Susanto*

Seperti halnya sakit penyakit yang banyak menyerang kita dan sekeliling kita. Ada yang divonis terkena diabetes, ada juga yang divonis terkena kolestrol dan asam urat, ada juga yang terkena sakit tekanan darah tinggi dan ada juga yang terkena sakit jantung,dan macam-macam penyakit yang lainnya.

Kehidupan ekonomi juga mirip seperti kehidupan bersama penyakit. Ada banyak yang mengeluhkan keadaan ekonominya tak kunjung membaik, gali lubang dan tutup lubang. Selalu kalah dalam sebuah persaingan bisnis, ada juga yang mengeluhkan tidak punya modal dan lain sebagainya.

Tulisan saya kali ini tidak membahas bagaimana cara memberantas supaya permasalahan penyakit ekonomi yang mendera saya dan saudara menjadi sembuh total lantas tidak adalagi persoalan-persoalan ekonomi dan hutang yang membelit, tidak ada lagi persoalan-persoalan persaingan yang tidak sehat, tidak ada lagi persoalan permodalan yang selalu kurang. Akan tetapi saya akan memberikan suatu cara sehat hidup bersama dengan penyakit-penyakit ekonomi tersebut diatas.

Ada banyak dari kita ingin cepat sembuh dari pada penyakit-penyakit ekonomi yang mendera kehidupan kita, malah bukannya jadi tambah sembuh melainkan jadi tambah sakit bahkan lebih parah lagi sakitnya. Karena apa? Biasanya solusi obat yang instan itu Cuma baik didepannya, kelihatannya kalau kita sakit kepala lantas diberi minum obat sakit kepala lalu sakit kepalanya menjadi berkurang itu yang kita sebut dengan kata sembuh. Padahal tidak demikian, obat sakit kepala tersebut cuma memberantas rasa sakitnya saja, bukan meyembuhkan inti kenapa kita bisa sakit kepala.

Demikian juga halnya dengan penyakit ekonomi kita, biasanya obat yang paling ces pleng adalah uang yang didapat dengan mudah dan instan, dipastikan bahwa uang tersebut mampu mengatasi masalah yang terjadi hai itu,dan ujung-ujungnya menambah masalah yang lebih besar dikemudian hari. Kenapa? Karena uang yang didapat dari instan tersebut biasanya lebih mahal bunganya, lebih beresiko cara mendapatkannya. Ujung-ujungnya membuat sakit ekonomi bertambah menjadi komplikasi. Berhati hatilah disana.

Lantas bagaimana kalau kita sudah terlanjur terkena serangan penyakit ekonomi tersebut? Cara terbaik adalah hidup bersama penyakitnya. Bersabar dan minum obat dengan dosis yang sesuai. Apalagi kita yang terkena penyakit darah tinggi ekonomi, itu seumur hidup harus minum obat “amlodipine 10 mg” setiap hari sampai akhir hayat kita.

Kalau kita sudah terkena penyakit ekonomi,semisal terkena penyakit “influenza ekonomi” yaitu penyakit gali lubang tutup lubang. Jangan takut untuk tidak bisa membayar. Jangan pikirkan didalam diri kita untuk sesegera mungkin untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Tapi apa yang harus kita pikirkan? Fokuskan kepada usaha kita. Fokuskan kepada hal-hal marketing supaya penjualan atau omset hasil yang didapat sehari-harinya lebih besar dari pada hari kemarin. Pikirkan dengan serius apa saja yang bisa menambah pendapatan kita. Kalau sudah bisa memperoleh hasil yang lebih, jangan terburu-buru juga untuk segera melunasi hutang-hutang yang ada. Cari peluang-peluang lain yang bisa menambah pundi-pundi pendapatan kita.

Saran saya mungkin kelihatannya merusak tatanan hidup kita. Tapi inilah yang bisa untuk hidup bersama dengan penyakit ekonomi kita. Kenapa koq tidak disarankan untuk mengeluh dengan hidup “influenza ekonomi?” yang selalu kadang batuk dan kadang pilek, yang selalu kadang  gali lubang dan selalu juga tutup lubang? Karena situasi yang sedemikian inilah yang membuat hidup kita menjadi kreatif dan lebih terpacu untuk mendapatkan peluang-peluang yang setiap saat lewat didepan mata kita.S elalu ada saja lubang yang ingin kita gali. Yang penting ada yang disebut dengan tutup lubang.

Selalu berpikir kreatif inilah yang dibuat harus tetap ada. Karena secara psikologi manusia, kalau sudah hidup menjadi nyaman, mulailah rasa malas, rasa ingin menikmati hal-hal yang enak dan mewah mulai muncul.Rasa ingin membeli barang mewah sudah menjadi tidak terkendali lagi.peluang-peluang usaha yang muncul berseliweran tak pernah kelihatan. Ini yang bahaya! .Jadi kan lebih baik hidup bersama penyakit “influenza ekonomi” yaitu gali lubang tutup lubang khan?

Kalau kita terkena penyakit “jantung ekonomi” yaitu penyakit persaingan bisnis,kita selalu kalah terus dengan pelaku-pelaku bisnis yang lebih besar. Jangan cepat marah dan frustasi dengan keadaan demikian.Tetap buka saja usaha kita,tetap berjualan seperti biasa,buat usaha kita semakin bersih saja itu sudah membuat pemain bisnis besar menjadi keder. Untuk membuat usaha menjadi bersih kan murah?Cuma butuh sapu dan kain pel .Masalah yang dihadapi pemain besar itu ada di sumber daya manusianya.Kalau sumber daya manusia yang sesungguhnya didapat dari kita-kita yang kecil tidak bisa berbuat baik, maka usaha yang besar itu pun bisa runtuh.Ingat gajah bisa mati karena semut loh, asal tepat kita membidiknya pasti lama kelamaan bisa mati juga.

Masalahnya kita-kita yang kecil ini pun tidak mau bergandengan tangan untuk bersehati berhadapan dengan pemain-pemain besar. Cobalah buat asosiasi yang terdiri satu macam jenis usaha yang sama. Pasti ada teman-teman senasib yang mempunyai masalah yang sama didalamnya dan bisa saling menguatkan. Contohlah komunitas anak-anak muda di sebuah club motor atau mobil. Pasti mereka bisa bertukar solusi mengenai masalah mesin ataupun mengenai masalah suku cadangnya.

Jadi tetap hiduplah bersama dengan penyakit “jantung ekonomi” yaitu penyakit persaingan bisnis, jangan takut kalau ada pemain besar yang masuk ke daerah kita,yang membuat kita keder dan dredeg setiap hari. Kalau kita fokus dengan keder dan dredeg setiap hari malah hal yang terjadi adalah omset kita pasti turun, turun dan turun. Bangkitlah! Tetaplah fokus dengan usaha kita, Buat pemain-pemain besar yang lain keder juga. Jangan mau menjadi nomer satu ,jadilah nomer dua,tiga bahkan nomer sepuluhpun tidak masalah. yang penting didalam sebuah persaingan bukanlah proses bersaingnya tapi hasil akhir yang menjadikan kita kadang menang dan kadang kalah. Kalau kita kalah kita ga punya hati dan perasaan apa-apa, lah ya memang kita kalah semuanya, tapi kalau suatu saat kita menang satu angka itu bagi pemain besar langsung mengadakan rapat besar untuk membahasnya kenapa yang besar bisa kalah? Mainkan persaingan bisnis ini menjadi persaingan psikologi! Dan jadilah pemenangnya.

Tentang penyakit “kurang darah ekonomi” yaitu penyakit modal? Ada banyak instasi perbankan yang bersedia memberikan pinjaman seperti yang kita inginkan,syaratnya sederhana jujurlah terhadap usaha yang mau kita besarkan.urus semua ijin-ijin yang diperlukan untuk sebuah usaha.jangan main belakang, bayarlah pajak yang memang seharusnya untuk negara secara baik dan benar. Pasti penyakit “kurang darah ekonomi” yaitu permodalan akan segera bisa diatasi.Malah bisa mendapatkan modal dengan biaya yang ringan dan menyenangkan.

Akhir kata,tidak ada masalah dengan penyakit-penyakit ekonomi yang sedang kita alami.Bangkitlah dan jadi Teranglah! Karena sesungguhnya TerangMu itu sudah datang dan membuat kehidupan kita menjadi pemenang bahkan lebih dari pemenang!! Hiduplah bersamanya dan nikmati pula apa-apa saja yang terjadi didalamnya. Semoga bermanfaat! Salam entrepreneur. (*)

Agus Susanto ([email protected])

One thought on “Bangkitlah

  1. Tertarik dg tulisan cak Agus Susanto, memberi inspirasi N support..apa sy bisa b’gabung cak?tks Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: