Jatim Surplus Beras 4,5 jt ton dan Jagung 3,7 jt ton

SURABAYA (titik0km.com)Jawa Timur yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional, kini tetap memberikan kontribusi dengan surplus pada beberapa bahan pokok, seperti beras dan jagung. Untuk beras surplus mencapai 4,5 juta ton dan jagung 3,7 juta ton.

“Kita selalu kelebihan produksi beras dan jagung setiap tahun, sehingga kita ekspor ke sejumlah daerah di luar Jawa yang membutuhkan. Tidak tanggung-tanggung, setiap tahun sekitar 4,5 juta ton beras dan 3,7 juta ton jagung,” kata Gubernur Jatim, H Soekarwo, Kamis (16/1).

Ia menuturkan, produktivitas beras petani di Jatim rata-rata mencapai 7,9 juta ton, sedangkan kebutuhan untuk konsumsi warga Jatim hanya sekitar 3,4 juta ton per tahun, sehingga surplus sekitar 4,5 juta ton per tahun. Sedangkan jagung menghasilkan lebih dari 6,2 juta ton dan untuk konsumsi warga Jatim hanya 2,5 juta ton sehingga surplus 3,7 juta ton.

Dengan adanya sumbangan beras sekitar 4,5 juta ton per tahun ke luar Jatim, berarti Jatim mampu memenuhi kebutuhan pangan sekitar 55 juta rakyat Indonesia. Selain beras dan jagung, komoditas telur ayam juga surplus, bahkan telur ayam yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, 41 persennya berasal dari Jatim.

Dari beberapa komoditas pangan yang mengalami surplus, ada beberapa komoditas yang minus, yakni kedelai. Sebab, produksi kedelai di provinsi itu tidak sebanding dengan jumlah produksinya. Kebutuhan kedelai di Jatim mencapai 420 ribu ton per tahun, sedangkan produksinya hanya 366 ton per tahun. “Ke depan kami akan mengembangkan produksi kedelai di Tuban dan Bojonegoro, dengan harapan mampu menghasilkan 470 ribu ton per tahun agar tidak sampai kekurangan,” ujar Soekarwo.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Achmad Nurfalakhi mengatakan, tahun ini kita bisa mencapai swasembada kedelai. Produksi kedelai Jatim bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Jatim, karena harga sesuai HPP cukup tinggi sehingga petani akan banyak yang berminat tanam kedelai.

Dengan adanya Harga Pokok Pembelian (HPP) kedelai yang mencapai Rp7.400 per kg, kata dia, masyarakat mendapatkan kepastian harga saat panen, sehingga mereka mulai tertarik menanamnya. Terlebih dalam pembelian kedelai, Bulog selalu menyesuaikan dengan harga yang sedang berlaku dipasaran bahkan pembelian kedelai petani diatas HPP.

Selain itu, Dinas Pertanian Jatim juga berupaya melakukan perluasan lahan produksi. Di antaranya keberjasama dengan PHBM, Pemanfaatan Hutan Bersama Masyarakat di lahan seluas 10.000 hektar. Penanaman kedelai juga dilakukan di lahan yang biasanya masih panen dua kali dan di beberapa lahan yang bisa dilakukan dengan metode tumpang sari. (pemprov jatim/asd)

Sumber : Website Pemrov Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: