Apa Kabar Penulis Jember

Menunggu Lahirnya Penulis Jember

Oleh : Akhmad Fauzi*

Sebenarnya lebih pas judul di atas adalah mewadahi berserakannya penulis di Jember, cuma untuk nilai pasarnya mungkin lebih “ngeh” kalau seperti judul yang sekarang. Bukan barang baru memang bagaimana sulitnya melahirkan penulis-penulis yang “istiqomah” dalam karyanya. Jangankan level kabupaten, level nasionalpun rasanya susah untuk ditemukan. Ada yang menarik dari pernyataan Thamrin Sonata, penulis senior ini mengatakan : “SAYA kerap tak percaya dengan remaja kita menulis puisi. Apa pasal? Ini negeri lisan, negeri yang lebih senang omong. Maka menjadi berjubel peserta jika ada Lomba Baca Puisi, namun sepi puisi yang ditulis puitis: berima dan berdiksi secara nges”. Yah, fakta sosial kalau kita lebih suka “ngrumpi” daripada mengambil bolpoint untuk menuangkan ide, imajinasi dan opini yang ada.

Gaya kasak-kusuk di jalanan ini memang tidaklah haram, tetapi sangat mubazier dan menjadi makanan empuk bagi mereka-mereka yang dibidik. Carut-marutnya penggugatan kebenaran, enjoynya penguasa dengan kekuasaannya, mudah tersulutnya masyarakat akan isyu-isyu merupakan ekses tidak langsung dari matinya ketajaman dan kekuatan penulis-penulis yang ada.

Tulisan ini bukan menjustifikasi kalau saya sudah dalam kondisi sebagai penulis yang istiqomah. Karena saya meyakini keistiqomahan penulis bisa dilihat (kebanyakan) setelah mereka masuk pada keudzuran hidup. Tetapi apa jadinya jika ketika energiknya diri membiarkan imajinasi dalam ruang hampa kegelapan? Padahal, ketajaman mata pisau tulisan tidak jarang menjadi “hantu” bagi siapa saja. Mampu membelah fenomena yang ada di masyarakat untuk dikuliti kebenarannya agar bisa diambil hikmah terbaiknya. Hanya kegersangan nantinya yang ada kalau setiap gejala kehidupan dipandang apa adanya. Sudah menjadi bukti sejarah kalau kepolosan situasi itu akan mengkerdilkan, bahkan membutakan semua untuk bisa menuju istana kebenaran yang lebih lagi.

Seorang Penulis memang bukan satu-satunya alat kelengkapan untuk membalikkan keadaan. Keberadaan penulis adalah salah satu penyeimbang dari berjalannya peradaban. Ketika gejala sosial diungkap dengan segala sisi dan gaya maka sebenarnya saat itu gejala sosial sedang diuji agar bisa diterima oleh jaman. Ketika sebuah regulasi sedang diseret-seret kebenarannya, sejatinya ada ruh keinginan agar regulasi itu bisa diterima oleh semua pihak.

Ketika tulisan sudah masuk ke ranah publik jangan hanya dilihat hitam-putihnya. menyibak akar tulisan dan mempoles konten untuk ke depan lebih diperlukan. Ketika seorang penulis melemparkan idenya, sejatinya dia berusaha menjadi jembatan untuk semua. Hiruk pikuknya kontroversi akan tulisan itu adalah motif dari kehidupan ini. Kalau perlu justru menjadi justifikasi kalau sebenarnya masing-masing diri dalam kondisi kekerdilan wawasan. Kalau toh kontroversi itu mental ke mana-mana seharusnya kita sudah yakin kalau kebenaran itu sangat dekat dan tampak adanya.

Akankah tulisan ini bisa menggugah penulis-penulis yang ada? Atau sebenarnya sudah tergugah tetapi berserakan? Ataukah masing-masing penulis sudah enjoy dengan jalannya sendiri? atau memang benar kita adalah bangsa lisan yang lebih terhibur dengan bicara dan mendengar tanpa mau susah-susah membungkus ide itu dalam tulisan? Atau justru memang kita sedang membangun budaya bungkam!

Jember telah mampu membangun image hingga mendunia. Jember bukan lahan untuk menidurkan potensi-potensi. Jember adalah metropolitan yang sedang mewarnai karakternya. Dan Jember masih butuh gugatan-gugatan.

Mari kita kolaborasikan geliat kota ini dengan menumbuhkan wacana-wacana yang dinamis dan menggairahkan. Semoga salah satunya adalah menggeliatnya penulis-penulis kota ini @titik0km.com dan Radar Jember, sangat ditunggu kiprah anda membangun sinergi itu.(*)

Salam kreasi!

Kertonegoro, 25 September 013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: