Apakah JFC di Jember Atau Jember Di JFC

(WARNA) JEMBER DI JFC ATAUKAH JFC (YANG ADA) DI JEMBER

Oleh : Akhmad Fauzi*

Perlu waktu memang untuk menyimpulkan judul di atas, tergantung sudut pandang mana untuk menjadi acuan penyimpulannya. Dengan biaya yang begitu besar ditambah keterlibatan semua infrastruktur di dalamnya lebih-lebih jangkauan peliputan yang sudah mendunia rasanya memang terlalu riskan kalau penilaiannya tanpa dasar yang kuat. Disamping dianggap gegabah, akan terasa hambar pula penilaian itu jika disandingkan dengan rating yang sudah menembus angka empat se-dunia itu.

Faktanya, JFC (Jember Fashion Carnival) adalah rutinitas Pemerintah Kabupaten yang sudah berlangsung selama belasan tahun. Perjalanan selama ini tentu telah mencatatkan banyak keringat pengorbanan di dalamnya. Jelas, sebuah “gawe” yang tidak main-main untuk melaksanakannya. Jelas, tidak akan mungkin bisa terlaksana jika niatan hanya setengah-setengah. Tetapi sebuah kewajaran kalau event ini juga menyisakan catatan-catatan, yang itu nantinya bisa jadi, menjadi penyempurna pagelaran ini untuk ke depan.

Tulisan ini bukan untuk mengundang kontroversi, bukan pula untuk menghadang laju yang telah terlanjur melesat mendunia itu. Tulisan ini adalah tanda tanya dari sebuah pemikiran yang bisa jadi nilai kebenarannya memang luput didiskusikan saat menggelar konsep acara itu. Atau bisa jadi malah terlalu usang!

Kalau melihat respon event ini, dari pemberitaan media lokal tidak ada yang melihat kecatatan yang tertulis diulasannya. Semua begitu haru biru dalam mengulas event ini, meskipun terkesan itu euphoria. Hal ini adalah wajar, karena media lokal memang harus memilki beban moral akan “kebaikan nama daerah”, yang menginginkan juga event ini menjadi ikon abadi (lihat peliputan Radar Jember dan media online @titik0km.com pasca acara tersebut). Begitu merambah ke media nasional mulai ada sentuhan objektifitas penilaan. Ada beberapa stasiun televisi yang “coba-coba” melihat adanya sedikit carut-marut pelaksanaan ini yaitu ketika devile karnaval sudah menjauh dari tribun kehormatan.

Kembali fakta berbicara (kalau kita mengacu ke pemberitaan media itu) bahwa JFC yang ke duabelas ini mampu mendongkrak ratingnya menjad peringkat keempat dunia (setelah Mardi Grass USA, Rio De Jeneiro Brasil, dan The Fastnacht Koln, Jerman lihat @titik0km.com dan Radar Jember). Penilaian ini didasarkan dari sisi heboh dan uniknya acara. Lebih heboh lagi karena event ini disaksikan oleh 2904 awak media dan fotografer dari dalam dan luar negeri. Saat pelaksanaapun terbukti pula mampu menghpnotis puluhan ribu penonton dari dalam dan luar wilayah jember untuk bekumpul memadat di sepanjang 3,6 km jalan protokol yang telah di sulap menjadi catwalk raksasa. Banyak sekali catatan-catatan yang bisa membuktikan event ini memang bisa dibanggakan. Pertanyaannya, inikah yang memang menjadi bidikan event ini? Kalau iya, berarti penulis patut angkat topi akan keberhasilannya, karena memang faktanya demikian dan terbukti event ini tercatat sudah mendunia.

Kalau titik tekannya adalah menjadikan event ini bertengger di papan dunia, maka habis sudah diskusi-diskusi tentang event ini. Yang ada adalah refleksi penguatan-penguatan untuk lebih memantapkan event ini di mata dunia.

Penulis tidak tahu, apakah masih ada ruang bagi yang melihat event ini dari sisi lain. Bisakah panitia penyelenggara (dalam hal ini dikelola oleh sebuah organizer yang didukung penuh oleh pemerintah daerah) mau mendengarkan suara luar itu? Sudahkah dihitung dampak sosial dari event ini bagi masyarakat Jember yang notabene masih banyak yang kelas menengah ke bawah? Salahkah kalau ada pendapat yang sedikit keluar dari suara-suara yang -seperti- yang disuarakan beberapa media itu? Kalau masih ada, berarti tulisan ini tidak akan menjadikan kebaran jengkot siapapun. Bisa jadi tulisan ini disapa sebagai sparing partner untuk lebih menyempurnakan event ini.

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan standar yang akan selalu mengemuka di setiap kegiatan apapun. Komulasi pertanyaan itu akan semakin menguat jika ada beberapa nilai yang terasa terpinggirkan. Standarnya (kewajaran) pertanyaan tersebut adalah naluri alamiah akibat dari gesekan-gesekan norma yang mencoba di ujicobakan di tengah masyarakat. Jangan berharap gesekan itu akan mulus seperti yang diinginkan oleh salah satu pihak karena itu akan melahirkan monotensi gerak. Bagi masyarakat yang dinamis, monotensi gerak ini adalah terali besi yang sangat ditakuti, karena akan terjadi pengkebirian kreasi dan pendapat (yang berseberangan). Di saat masivnya globalisasi, tentu nuansa ini seharusnya sudah tidak berlaku lagi.

1. Konsep dan Tema

Sebagaimana dalam beberapa tulisan penulis tentang Jember, penulis selalu mengatakan kalau JFC adalah kerja brillian, suatu lompatan besar dari pengabnya Jember untuk bersuara di (minimal) tingkat nasional. Ketika tulisan “Melukis Jember” selesai (lihat : http://www.titik0km.com/melukis-jember.html), yang ada dibenak penulis adalah besarnya potensi yang dimiliki kota ini. Namun sayang, potensi itu tidak pernah tersinergikan dengan baik sehingga terkesan berserakan dan tak terurus.

Mari kita lihat konsep dasar JFC ini. Kalau kita telusur awal gelar JFC ini tidak lebih sebagai salah satu rangkaian BBJ (Bulan Berkunjung -di- Jember), sebuah rekayasa untuk mendongkrak kabupaten ini menjadi kabupaten alternatif kunjungan baik bagi wisatan domestik maupun mancanegara. Terbukti, konsep dasar BBJ sekarang malah kalah oleh nama besar JFC. Berarti kratifitas pelaku JFC cukup energik untuk menata salah satu rangkaian ini sehingga ketika digelar perhelatan BBJ yang ada di fikir kita adalah JFC. Maka bisa dikatakan, konsep dan tema yang diusung untuk mata acara ini (JFC) sudah cukup tepat. Hanya ada yang perlu dikritisi, sinergiskah “melambungnya” konsep dan tema event ini dengan kondisi riil masyarakat Jember? Untuk menjawab itu diperlukan ulasan lain. Korelasi ketimpangan sinergitas itu semakin tampak apabila kita perhatikan penamaan tema-tema setiap eventnya yang cenderung mengadaptasi nilai-nilai transnasional, lebih-lebih bahasa yang digunakan kurang familier dikalangan masyarakat awam (coba disimak istilah-istilah ini : artechsion, painting exhibition, artdeco, octopus dan lain-lain).

2. Penempatan Nilai Budaya Lokal

Lihat tulisan penulis yang berjudul “JFC, Rada Jember Banget Ya? Manghayubakya Untuk Jember Fashion Carnival” di http://sosbud.kompasiana.com/013/08/24/jfc-rada-jember-banget-ya-manghayubagya-untuk-jember-fashioncarnival-583588.html, tampak sekali keinginan penulis melihat event ini menjadi sebuah kolaborasi budaya lokal dengan budaya “alternatif”. Namun apa yang terjadi? Alih-alih terjadi “pelaminan”, yang ada adalah (menurut penulis) full budaya alternatif yang notabene merupakan (lebih pada) lahirnya budaya baru. Kalau toh ada penyeretan budaya lain itu lebih bisa diartikan sebagai ikut berperansertanya budaya tersebut dalam event ini (contoh : tibet, betawi, dan lain-lain).

Tidak ada warna yang tegas yang menunjukkan ‘inilah perkawinan kultur” itu yang bisa menjadikan budaya alternatif baru bagi masyarakat Jember yang berwarna plural dan urban ini. Sepanjang peserta yang tampil, yang tampak adalah hentakan kreasi fashion yang bervisi global. Bagi sebuah kreasi ini menjadi hiburan yang menarik memang dan patut diacungi jempol untuk kreasinya itu. Tetapi bagi daerah yang masih mencari warna dan mencoba menitipkan warna di event yang bernilai miliaran ini bisa dikatakan tanpa makna.

Setidaknya ada empat budaya lokal yang bisa menjadi inspirasi warna JFC ini, yaitu: 1) Osing (gandrung dan sejenisnya yang lebih bernuansa gemulai), 2) Madura (tegas dan religi), 3) Reog ponorogo (jantan dan elegan), 4) Barongsai (jantan dan elegan). Kalau diamati dengan jeli ruh emosi dari warna JFC ini lebih dominan pada watak-watak antagonis (seram dan postmo). Bisa jadi ini adalah untuk mewadahi unsur Reog dan barongsainya (meskipun sebenarnya Reog dan Barongsai ini lebih pada kejantanan dan elegansi sikap dengan nilai filosofi cerita yang tinggi di dalamnya). Nilai ceria dan gemulai budaya Osing serta religinya masyarakat Madura kurang mendapat tempat di sana. Paragraf ini murni sebatas renungan penulis ketika mengamati setiap liukan dan rona yang ada di JFC itu (karena memang tidak ada diskripsi resmi dari penyelenggara tentang makna-makna dari setiap pernak-pernik mode yang dikenakan dalam JFC itu).

Justifikasi penulis ini lebih pada menggugah infrastruktur yang ada dan yang terkait untuk terpicu akan hal ini. Betapapun semua mengakui kalau euphoria kehebatan itu hanya berhenti di tataran elite tidak mampu menyapa akar rumput apalagi akan menjadi embrio budaya daerah. Sekali lagi, kalau event ini bervisi mendunia harus diakui sudah tercapai, tetapi kalau mengakar ke bawah rasanya kok perlu dikaji kembali.

3. Efek Domino

Terlihat jelas efek domino dari event ini menjalar di eventevent lain. Ketika ada karnaval tingkat kecamatan, warna JFC mulai menggila. Ironisnya, busana wajib karnaval (yang selama ini selalu tampak di momen tujuhbelasan ini) mulai tersisih. Mulai hilang minatur dari ke-Bhinneka-an yang selama ini menjadi titik tekan penailaian. Bahkan penulis melihat ada yang lebih berani lagi, yaitu menggabungkan konsep JFC ini dengan konsep “Busana Daur Ulang”.

Sebagai masyarakat yang sedang membangun karakter bangsa, seharusnya ini menjadi indikasi yang “menggelitik” untuk segera disikapi. Tidak akan elok kalau pekik slogan budaya bangsa, karakter bangsa, kearifan lokal menyerbu bangku-bangku sekolah justru di sisi pragmatisnya kita menbidik warna baru yang itu terkesan benar-benar produk baru dengan nilai-nilai dan warna baru pula.

Catatan tegas dari penulis dari efek domino JFC ini adalah ekspresionis dan abstraksnya warna yang ditemakan menjadi imajinasi tersendiri bagi masyarakat. Yang itu membuai kita seakan hidup di alam tak bernama.

4. Simpulan

Tulisan ini adalah warna yang sempat penulis tangkap dari event ini. Penangkapan ini sengaja melihatnya dari sisi yang berlawanan. Pola berlawanan ini diterapkan agar ada nilai lain dari ulasan yang sudah-sudah. Sangat salah kalau tulisan ini untuk menghakimi “hebatnya” JFC. Keberadaan penulis sangat rentan untuk bisa menghambat laju event ini yang sudah terlanjur tercatat di dunia entertaimen itu. Jadi, event ini sudah cukup menjanjikan bagi eksistensi Jember sebagai pendatang baru untuk bersuara di belantara warna global. Tetapi ada catatan yang tertinggal yang mungkin diperlukan untuk menyempurnakannya.

Sebenarnya masih banyak sisa-sisa yang harus menjadi refleksi penyelenggara event ini, mulai dari besarnya biaya yang harus ditanggung peserta, penataan yang lebih lagi di sepanjang 3,6 km itu sehingga tidak terkesan sebagai ajang “foto bareng” (sehingga merusak tatanan sebagai sebuah karnaval), sampai pada seberapa kuat PENYANDANG DANA membiayai event ini.

Ada cerita yang mungkin menginspirasi, sekitar pukul 10.00 WIB, siang hari di hari H pelaksanaan event itu, teman saya yang berdomisili kurang dari 3 km dari arena acara itu bertandang ke rumah (katanya mau ke pantai Watu Ulo). Tentu ini menjadi tanda tanya besar bagi saya, maka saya tanyakan ke beliau : “Lho, piye toh, lha wong sedang punya hajat kok ditinggal ke pantai?”. Jawabnya singkat, “Pusing…”. Sulit untuk menterjemahkan jawaban itu. Tetapi cukup bisa sebagai salah satu indikasi lain bagaimana sebenarnya JFC bagi warganya. Belum lagi beberapa teman guru dan beberapa teman anak saya yang “mengeluh” akan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

JFC, penulis hanya menyapa, karena inginnya momen ini menjadi figur abadi bagi daerah kita, Jember. Nuansa penggugatan adalah kewajaran, karena penulis tidak ingin ada yang hilang di masyarakat. InsyaAllah kita sama dalam menatap kota kita, hanya berbeda dalam melihatnya. Semoga Rahmad yang terlahir nantinya.

Salam kreasi,
Maju Jember, sinergikan…!!! (*)

Kertonegoro, 11 September 013

Sumber Data Utama : dari ulasan yang ada di Radar Jember dan @titik0km.com, utamanya pada ulasan selama tiga hari pra dan pasca gelar JFC ini. Data lain dari pengamatan lapangan penulis dan share dari beberapa orang yang tidak dapat penulis sebutkan semua di tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: