Apakah Kita Bahagia?

Oleh :  Akhmad Fauzi*

Melihat rentetan peristiwa yang menimpa negeri ini, semakin pesimis keyakinan untuk menghitung seberapa banyak orang yang masih bisa merasa bahagia dengan apa yang dimilikinya. Bayangkan, peristiwa beruntun itu melibatkan. sosok, mereka, orang-orang yang sebenarnya harus banyak-banyak bersyukur. Sulit terbantahkan jika mereka sebenarnya tidaklah sekalut masyarakat kebanyakan yang harus mengumpulkan kekuatan untuk menyambung langkah besok. Apa yang belum tersanding dalam hidupnya, semua tersaji sebegitu mudahnya. Mengapa harus menghempaskan “nama” yang dirintisnya jauh sebelum kenikmatan ditangan dengan cucuran kegigihan? Jika senista itu akhirnya, berarti bukan kebahagian yang selama ini ternikmati.

Memang tidak seluruhnya demikian, masih banyak contoh lain, mereka yang hebat yang berani bertahan untuk bisa bahagia. Bahagia, sebuah episode yang patut dicurigai masih ada di kehidupan mereka yang dianggap khalayak pantas untuk bahagia. Lantas bagaimana dengan yang (kebanyakan) jelas-jelas tidak pantas untuk bahagia? Memang masih ada yang mengatakan kebahagian tidak harus diukur harta. Tetapi kita sedang hidup di jaman logika! Maka logikanya sederhana, dijaman yang tidak lagi serba gratis ini hanya mereka yang dalam kondisi kelebihan harta yang mampu melayani hidupnya dengan baik. Wajar jika ada yang mulai beralih visi kalau hidup identik dengan pemenuhan kebutuhan ragawi. Wajar jika “kebahagian tidak harus kaya” mulai diragukan kebenarannya.

Ada dua tanda besar yang bisa menjadi ukuran seseorang bahagia. Dua tanda ini bisa berlaku kepada siapa saja tanpa memandang apapun kondisi orangnya.

1. Tidur Nyenyak Di Malam :

Banyak ulasan-ulasan psikologi yang tidak mengkorelasikan nyenyaknya tidur ini dengan dengan kondisi fisik. Justru psikis yang menentukan seseorang bisa nyenyak dalam tidur. Kelelahan fisik memang mendukung untuk semakin nyenyak, tetapi kelehan psikis justru akan berakibat sebalinya.

Maka, bagi siapa saja yang bisa merebahkan dirinya dengan nyenyak ketika waktunya (baik siang apalagi malam hari) besar kemungkinan beban psikisnya telah dalam kondisi titik nol. Kunci melunakkan beban psikis ini terletak pada seberapa hebatnya diskusi hati dan fikir dalam menaruh beban itu. Bagi mereka yang menggunakan konsep agama, besar kemungkinan hanya kepasrahan yang bisa wadah yang tepat untuk meletakkan beban itu. Bagi yang menggunakan konsep selain agama, saya yakin merekapun akan tetap mencari wadah untuk meletakkannya, apapun itu namanya. Yang pasti, semakin hebat perdebatan fikir-hati terjadi, semakin jauh rasa nyenyak dalam tidurnya.

2. Detik Pertama Bangun Tidur Terasa Nyaman :

Indikasi ini tidak lain adalah efek domino dari indikasi pertama di atas. Semakin nyenyak dalam tidurnya, semakin fresh yang dirasa saat bangun. Ketika bangun kita di detik pertama membuka hidup lagi merasa tanpa beban apalagi (ini tuntunan dari agama saya) ingat Tuhan, maka sudah cukup baginya kebutuhan hidup seharian ke depan. Ketika detik pertama yang terbaca di hati dan fikir kita adalah Tuhan, kemudian mensyukurinya yang dilanjutkan memohon ampun dan diakhiri dengan ikrar ketauhidan, merupakan waktu yang tidak sembarang orang bisa menemui dan menikmatinya. Ada sebagian ulama yang mengatakan dia seperti telah memiliki langit dan bumi.

3. Kita Di Posisi Mana?

Hanya kita yang tahu, apakah kita pernah dan sering merasakan kedua tanda itu, ataukah hanya salah satunya saja, atau bahkan seumur diri belum pernah merasakan nyenyaknya tidur yang berakhir dengan bangun penuh keluhan.

Untuk bagaimana cara mengatasi ketidak-normalan indikasi di atas? Saya tidak memiliki kemampuan dalam hal itu. Setahu saya, kedua indikasi di atas akan berimbas pada kejernihan fikir dan warna diri seseorang. Mengapa? Mungkin karena telah terjadi pemaksimalan dari kebutuhan lahir dan batinnya.

Semoga malam-malam kita bisa menikmati tidur dengan nyenyak, kemudian bangun dengan senyum menyapa Tuhan Kuasa. Ternyata cukuplah itu yang kita cari selama ini dari hiruk-pikunya obsesi-obsesi dan langkah-langkah yang selalu menggoda! (*)

Kertonegoro, 7 Oktober 013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: