Arum Jalani Operasi Hernited Nucleus Pulposus (HNP)

HM Arum SabilJEMBER (titik0km.com) – HM Arum Sabil, pengusaha asal Tanggul, Jember, Jawa Timur bersyukur karena terlepas dari kelumpuhan karena menderita Hernited Nucleus Pulposus (Hnp). Inilah kisahnya setelah berhasil menjalani operasi yang disampaikan dalam bahasa bertutur.

 Saya seorang petani yang hidup di Desa Tanggul Kulon, Jember, Jawa Timur, sengaja menulis tentang kisah sakit saya ini untuk berbagi informasi. Dua tahun belakangan ini rasa nyeri dari punggung, paha, dan betis sudah saya rasakan, namun rasa nyeri itu datang dan pergi begitu saja.

Di suatu pagi, tepatnya tanggal 2 Maret 2013 ketika bangun tidur, saya merasakan rasa nyeri yang aneh di punggung saya. Ketika turun dari tempat tidur, rasanya seperti ada beban mencengkeram. Setelah saya bawa jalan kira-kira 5 langkah, rasa nyeri di punggung tersebut sedikit menghilang. Keesokan harinya, rasa nyeri aneh tersebut semakin meningkat. Itu pun tidak saya rasakan. Saya beranggapan mungkin itu hanyalah faktor kelelahan.

Pada tanggal 8 Maret 2013, tepatnya hari Jumat, saya memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Jember. Rasa kemeng dan kesemutan di kaki serta rasa nyeri di paha dan betis, mulai sedikit terasa dan hal itu pun terasa setelah turun dari mobil. Namun setelah jalan terasa agak baikan.

Setelah selesai memberikan kuliah umum, pada hari itu juga pukul 16.30, saya berangkat ke Surabaya. Punggung masih terasa kemeng dan peningkatan rasa nyeri pada saat naik maupun turun mobil bahkan setelah bangun tidur. Saya berpikir kalau itu sebenarnya adalah karena otot-otot saya kaku.

Keesokan harinya pada saat bangun tidur pada tanggal 9 Maret 2013 rasa kemeng dan nyeri semakin meningkat, namun tidak saya rasakan. Apa lagi pada hari itu, kami bersama Tim PT. Charoon Pokhpan merencanakan berangkat ke Thailand untuk melakukan studi peternakan.

Betapa semangatnya diri ini, ketika saya dan rombongan hendak mengunjungi Thailand pada tanggal 9 Maret 2013 lalu. Meski kepergian kami ke negeri Gajah Putih itu, bukan sebagai pelancong yang siap memanjakan diri, dengan segala keindahan pesona wisata seribu Pagoda tersebut. Namun semangat dalam diri ini, seolah tidak pernah surut seperti ombak yang ada di laut pasang.

           Semangat tersebut muncul karena saya dan rombongan akan mengunjungi beberapa tempat peternakan modern di negara tersebut. Tentunya, keyakinan akan membawa ilmu baru, sepulang dari kunjungan tersebut, selalu menjadi stimulus dalam setiap gerak dan langkah pada diri ini.

          Sebelum berangkat menuju bandara internasional Juanda Surabaya, yang siap menerbangkan kami ke negara yang beribu kotaBangkok tersebut, saya sudah merasakan nyeri di pinggang. Namun waktu itu, saya menganggapnya sebagai rasa nyeri biasa yang selalu muncul pada seseorang yang merasakan kelelahan.

          Saya pun tidak begitu menghiraukan rasa nyeri yang semakin terasa mengganggu dalam perjalanan mencari ilmu baru tersebut. Apa yang saya lakukan selama ada di Thailand, hanya saya fokus pada serangkaian agenda kunjungan, yang begitu berharga dalam hidup ini. Meski sebenarnya, rasa nyeri di punggung ini, semakin membuat tubuh ini tidak nyaman.

          Perjalanan penerbangan dari Bangkok menuju Chiang Mai, dilanjutkan perjalanan darat menuju kawasan peternakan yang harus ditempuh selama 8 jam pulang pergi itu, membuat fisik semakin memburuk. Apalagi ditambah padatnya agenda kunjungan, semakin membuat nyeri di punggung ini, semakin terasa sakit. Namun rasa sakit itu, seolah saya tukar dengan semangat mendapatkan ilmu, dengan harapan bisa membawanya pulang untuk perubahan dunia peternakan di Indonesia.

          Sudah genap seminggu, saya dan rombongan di Thailand. Jadwal kepulangan ke tanah pertiwi pun mengajak kami segera beranjak menuju bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Di bandara itulah, rasa nyeri yang sudah beberapa hari ada di punggung, paha, dan betis saya mulai melemahkan sistem kerja tubuh ini.

          Kaki sebelah kanan yang selalu setia mengantarkan badan ini bergerak, dari satu tempat ke tempat lainnya, harus terhenti dan tidak mampu melangkah lagi karena rasa sakit dari pangkal paha dan betis yang sangat luar biasa. Saya pun sangat terkejut, dengan kondisi kaki kanan tersebut. Padahal, saya harus berjalan dari ruang check in pesawat ke pintu pesawat yang akan mengantarkan kami pulang berjarak sekitar 1 Km.

          Melihat keriangan yang tampak pada paras setiap wajah anggota rombongan, membuat diri ini tidak tega mengeluh di hadapan mereka. Saya pun berusaha melaju, meski saya harus menggeret kaki kanan saya yang terasa sakit tiada tara.

          Terasa sangat berat berjalan sejauh satu kilometer dengan hanya menggunakan satu kaki. Jika saat itu saya boleh memilih, lebih baik saya harus berjalan sejauh seribu kilometer, namun dengan kaki yang normal.

          Segala upaya harus saya lakukan agar anggota rombongan lainnya tidak ikut merasakan apa yang saya rasakan saat itu. Akhirnya, saya pun berimajinasi seolah menjadi seorang tentara sedang tertembus timah panas dan harus segera menyelamatkan diri. Alhasil saya tersugesti dan mampu berjalan sejauh satu kilometer dengan kondisi kaki kanan yang pincang.

          Di atas pesawat selama tiga jam penerbangan dari Bangkok ke Jakarta, rasa nyeri mulai terasa sangat sakit. Setelah kami tiba di Jakarta dan harus pindah pesawat menuju Surabaya, kaki kanan saya pun tidak lagi mau berkompromi. Rasanya saya tidak punya daya lagi untuk berjalan karena rasa sakit yang luar biasa dan kaki ini rasanya sangat sulit untuk digerakkan, sehingga dengan tertatih-tatih saya berjalan dengan berbisik kepada istri dan anak saya yang mendampingi saya agar dicarikan kursi roda.

Saya berpesan kepada istri dan anak saya agar sakit yang saya derita ini tidak didengar oleh teman-teman lain yang satu rombongan karena saya tidak ingin teman-teman yang satu rombongan dengan saya merasa panik melihat kondisi saya. Maka istri dan anak saya mulai mencari kursi roda sebagai alat bantu untuk menuju transit pesawat dari Jakarta menuju Surabaya. Namun kursi roda sulit ditemukan karena dipakai oleh para jamaah yang baru pulang dari umrah.

          Seolah semakin diuji kesabaran saya saat itu oleh Allah SWT. Membutuhkan kursi roda yang bisa membawa saya berpindah ke pesawat yang hendak ke Surabaya tidak bisa saya dapatkan di bandara Soekarno-Hatta, Akhirnya dengan terpaksa saya pun harus didorong kursi roda yang sebenarnya diperuntukkan untuk anak-anak.

          Rasa nyeri yang semakin menusuk punggung itu semakin terasa menyiksa badan, Setiba di Surabaya, saya sudah mulai merasa panik karena rasa sakit yang sangat luar biasa dan rasanya kaki kanan ini sudah tidak punya kemampuan lagi untuk digerakkan apalagi berjalan.

Saya teringat dengan seorang teman dr Indra yang sering bersama-sama fitnes di Surabaya. Beliau menyarankan agar saya menemui seorang dokter spesialis ortopedi terbaik di sebuah rumah sakit ternama di Surabaya. Maka saya langsung menuju rumah sakit tersebut. Pada tanggal 15 Maret 2013 kira-kira jam 16.30, saya sudah berada di rumah sakit yang direkomendasikan teman saya.

Para perawat yang menerima saya juga telah berkomunikasi dengan dokter yang akan menangani saya. Saat itu, saya langsung foto MRI. Obat anti nyeri mulai dimasukkan ke tubuh melalui infus. Itu pun tidak mengurangi rasa nyeri yang sangat luar biasa pada kaki kanan saya. Rasa nyeri yang mendera sambil menunggu kehadiran dokter yang akan menangani sakit saya tersebut rasanya cukup menyiksa. Saya baru ketemu dengan dokter tersebut pada malam harinya sekitar pukul 21.00. Dokter masih belum bisa menyimpulkan secara pasti tentang sakit saya karena masih menunggu hasil foto MRI.

          Tanggal 16 Maret 2013 malam sekitar pukul 20.00, dokter tersebut datang ke ruang rawat inap saya dan sekaligus membacakan hasil dari MRI. Betapa kagetnya kami sekeluarga ketika dokter spesialis ortopedi tersebut memfonis saya mengidap penyakit Hernited Nucleus Pulposus (HNP) pada lumbal 4-5. Suatu penyakit yang biasa orang awam sebut saraf terjepit yang ada di tulang belakang manusia. Saya dan keluarga mengalami kepanikan yang sangat luar biasa di saat mendengar penjelasan dari dokter tersebut tentang dampak dari penyakit yang saya alami ini ternyata bisa mengalami kelumpuhan permanen.

Kepanikan tersebut diperparah lagi ketika dokter yang menangani saya akan melimpahkan saya kepada dokter seniornya. Saya dijanjikan untuk bisa dikomunikasikan kepada dokter senior tersebut. Saya harus menunggu lagi dengan sabar dengan rasa sakit yang sangat tidak tertahankan untuk menunggu kabar pelimpahan kepada dokter yang lebih senior tersebut.

Tiga hari tiga malam, saya merasakan sakit yang semakin meningkat dan tidak bisa tidur, sehingga tensi darah saya mengalami kenaikan yang tidak pernah terjadi seumur hidup saya yaitu 161/100. Panik, stres, kecewa, rasa sakit yang bercampur aduk.

Sebagai orang awam yang sama sekali tidak mengerti sebab dan akibat dari penyakit yang saya derita ini, saya menjadi bingung mencari tempat untuk bertanya. Di tengah kepanikan saya tersebut, manager saya Restu Prayogi dengan berbekal I-Pad melalui jaringan Internet mencari informasi tentang Hernited Nucleus Pulposus (HNP) begitu juga dengan dokter ahli yang punya kemampuan terhadap penyakit tersebut.

Dari informasi HNP yang berhasil dihimpun oleh seorang manager saya itu, akhirnya ditemukanlah dokter dan rumah sakit, yang bisa menangani penyakit saya tersebut. Namun yang menjadi persoalan baru, dokter dan rumah sakit tersebut berada di Singapura. Sementara kondisi saya saat itu, tidak melangkahkan kaki untuk berjalan. Bahkan, untuk duduk dan bersandar pun, tidak bisa mampu saya lakukan.

Meski demikian, kami terus berusaha mencari solusi, agar bisa berobat ke rumah sakit tersebut. Bahkan, manager saya tersebut sempat berinisiatif, akan mencarter pesawat, khusus untuk pergi ke Singapore menemui dokter di rumah sakit tersebut.

arummmPersiapan keberangkatan ke Singapura pun sudah kami lakukan. Bahkan, kami hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan saja. Namun, sehari sebelum kami terbang ke Singapura (18/3), kenapa diri ini mengingat salah seorang rekan sesama pengusaha, yang bernama  Mbak Justini.

Melalui telepon seluler yang selalu saya bawa ini, saya mencoba menceritakan penyakit saya tersebut. Mendengar cerita saya itu, rekan saya itu ternyata sudah mengenal jenis penyakit tersebut. Pasalnya, salah seorang manager di perusahaan miliknya itu, juga pernah terserang penyakit yang sama persis, dengan penyakit saya itu. Kagetnya lagi, ternyata managernya itu, sembuh pada dokter di Surabaya yang bernama dr Sofyan. Saya pun dimintanya berobat pada dokter tersebut.

Merasa belum yakin dengan anjuran rekan saya tersebut, saya mencoba menghubungi salah seorang sahabat, yang berprofesi sebagai direktur RS Bina Sehat Jember, dr Faida MMR. Namun sama, pemimpin RS Bina Sehat itu ternyata juga merekomendasikan saya, untuk berobat ke dr. Sofyan.

Agar diri ini semakin mendapatkan keyakinan yang kuat, saya pun mencoba berkonsultasi dengan salah seorang kerabat, dr Burhan, yang juga berprofesi dokter. Dokter yang juga menjadi Humas di Jember Klinik itu, ternyata memberikan saran yang sama, meminta saya berobat ke dr Sofyan. Bahkan, sahabat saya yang bernama Soehariyanto, juga menganjurkan ke dokter yang sama, yaitu dr Sofyan.

 Karena saran sahabat dan kerabat, mengerucut kepada dr Sofyan, akhirnya saya pun mengurungkan niat berobat ke Singapura dan beralih mencari tempat praktik dokter tersebut. Dengan petunjuk yang diberikan dr Faida, saya pun akhirnya mendapatkan alamat rumah sakit bedah tersebut di Jl. Raya Manyar No. 9 Surabaya.

Tidak berpikir panjang lagi, setelah memperoleh informasi lokasi rumah sakit bedah itu, saya pun segera di evakuasi. Tepat pada hari Senin malam (18/3), sekitar pukul 18.00 saya akhirnya tiba di rumah sakit tersebut.

Sesampai di ruang unit gawat darurat (UGD) rumah sakit bedah itu, saya langsung ditangani secara cepat, oleh para perawat dan dokter jaga. Rupanya, para perawat dan dokter jaga tersebut, sudah mendapat petunjuk dari dr Sofyan, agar memberikan perawatan pertama pada saya. Infus mulai terpasang di tubuh saya, bahkan obat anti nyeri dosis tinggi sejenis morvin, juga sudah mulai dimasukkan melalui infus tersebut.

Sesaat kemudian, dr Gigih yang ahli bidang bedah saraf, datang ke UGD menemui saya, memastikan obat apa saja, yang sudah masuk ke dalam tubuh saya ini. Selain itu, saya juga mendapatkan rekomendasi dari dr Gigih, agar segera menjalani rawat inap. Di kamar inap rumah sakit itu, akhirnya bisa membuat saya tertidur lelap.

Sehari berikutnya (19/3), sekitar pukul 09.00, akhirnya dr Sofyan mendatangi saya dengan membawa hasil MRL. Bahkan, dia juga sempat menjelaskan hasil MRL tersebut, secara gamblang pada saya dan keluarga yang setia menemani saya itu.

Dengan tegas, dr Sofyan menyatakan, bahwa saya harus menjalani operasi. Karena menurutnya, penekanan bantalan tulang belakang ke saraf sudah mencapai 70 persen. Dengan diawali permintaan maaf kepada dr Sofyan, saya bertanya berapa kali dr Sofyan melakukan operasi terhadap orang lain yang sakitnya sama dengan saya? Saat itu, dr Sofyan menjawab sudah sering melakukan operasi dengan kasus penyakit serupa.

Pertanyaan yang kedua saya adalah, apa benar  jika orang  mengalami syaraf kejepit seperti yang saya alami jika dioperasi berdampak kelumpuhan. dr Sofyan menjawab, ”jika ada orang yang dioperasi lumpuh, itu bukan saya yang mengoperasi. Yang saya lakukan selama ini adalah saya mengoperasi orang lumpuh dan bisa berjalan.”

          Pertanyaan saya selanjutnya, seandainya saya dioperasi berapa persen tingkat keberhasilannya operasi saya. dr Sofyan menjawab, ”saya tidak bisa mendahului kehendak Tuhan, tapi saya jamin 95%.”

Dengan jawaban yang mampu dilontarkan dr Sofyan tersebut, saya akhirnya merasa memiliki harapan sembuh, meski dapat saya akui jika saat itu, saya masih belum mempunyai keberanian, untuk memutuskan memilih opsi operasi.

Saya pun meminta kesempatan kepada dr Sofyan, untuk berpikir sebelum memutuskan langkah operasi. Bahkan, saya sempat kepada dr. Sofyan untuk dilakukan fisioterapi terlebih dahulu.

Setelah dr Sofyan pergi dari ruang inap saya itu, saya pun mencoba menghubungi para teman dan sahabat, untuk dimintai saran dan pertimbangan.

Rasa sakit di paha dan betis kaki kanan saya ini, terus mengalami peningkatan yang mendalam. Tidur dengan berbagai posisi pun, rasanya tidak nyaman dan terasa sangat  sakit. Saya pun terus berikhtiar dengan menghubungi salah seorang sahabat saya yang pernah menjabat sebagai Deputi Kementerian BUMN, yang bernama Agus Pakhpahan. Sahabat saya itu pun menyarankan saya, agar saya tidak memilih jalan operasi. Karena menurut informasi yang dia dapatkan, ada seorang temannya yang berpenyakit serupa, semakin lumpuh dan malah mengalami kematian, seusai di operasi.

Mendengar penjelasan tersebut, hati ini mulai terasa gelisah kembali. Saya pun terus berikhtiar dan memantapkan hati, dengan menghubungi teman, sahabat, dan kerabat dekat lainnya untuk mintai pertimbangan. Saran mereka pun juga sama, mereka juga melarang saya melakukan operasi. Kerabat saya Anang dan Ashanty yang sempat datang dan bermalam di tempat saya dirawat itu, juga menyarankan saya agar tidak dioperasi.

Bahkan, istri saya pun akhirnya juga ikut-ikutan bersikeras melarang saya dioperasi. Bukan hanya mereka, seorang tokoh ulama karismatis yang juga kenal baik dengan saya itu, Kyai Hasyim Muzadi, juga menyarankan agar saya tidak memilih jalan operasi.

Opsi agar saya tidak melakukan operasi, juga muncul seorang Dahlan Iskan. Beliau menceritakan jika dirinya, pernah menderita HNP pada tahun 1995, dan penyakitnya tersebut bisa dia sembuhkan dengan cara kontraksi dan fisioterapi. Sampai hari ini, dia mengaku jika penyakitnya tersebut, tidak pernah mengalami kekambuhan lagi.

Keesokan harinya, dr Sofyan dan dr Gigih visite, menemui saya dan memberikan penjelasan lagi secara detail, terkait penyakit yang dideritaku tersebut. Bahkan, kedua dokter tersebut menyampaikan, jika posisi saraf tulang belakang saya itu, sudah terjepit sekitar 70 persen.

Mereka menyampaikan, jika saraf tulang belakang saya tersebut mulai cedera dan saya pun mulai ngompol tak kendali, maka kedua dokter tersebut mengatakan bahwa sakit yang saya derita, akan sulit disembuhkan.

Dokter Sofyan yang didampingi dr Gigih juga menjelaskan jika mengambil opsi operasi tidak menyarankan dengan operasi mikro. Dikhawatirkan dalam jangka panjang akan bisa kambuh kembali, bahkan lebih parah karena kerusakan pada tulang antara lubal 4-5 akibat bantalannya sudah rusak.

Beliau mengarahkan saya untuk melakukan operasi makro atau besar dengan mengganti bantalan tulang belakang di antara lubal 4-5 dan diperkuat oleh pemasangan titanium di antara lumbal 4-5. Saat itu saya merasa bingung Seolah-olah saya ada di sebuah persimpangan jalan dan harus memilih jalan mana yang harus saya tempuh.

Di saat kebingungan, resah, dan gelisah untuk memutuskan pilihan, tiba-tiba saya kedatangan seorang pasien dr Sofyan yang bernama Bapak Satrio. Pria asal Purwokerto yang sudah berusia 70 tahun itu, berjalan menuju ruang inap saya dan menceritakan jika sebelumnya, dia juga mengalami sakit yang sama dengan saya. Bahkan, penyakit yang di deritanya itu, lebih parah dari apa yang saya rasakan.

Bahkan, dia sempat bertutur kepada saya, karena sudah terlalu sakit yang harus dia derita, akhirnya dia juga sempat meminta kakinya diamputasi. Namun, sebelum permintaan amputasi pada kakinya itu, akhirnya Bapak Satrio bisa disembuhkan melalui operasi yang dilakukan dr Sofyan bersama tim medis rumah sakit bedah Surabaya. Tiga hari setelah dioperasi, dia mengaku rasa sakitnya yang luar biasanya hilang dan dia pun kembali bisa jalan seperti biasanya.

Melihat fakta yang terjadi di hadapan mata itu, tanpa ragu lagi saya langsung memutuskan untuk segera melakukan operasi makro atau besar, dengan memasang titanium di antara lumbal 4-5. Maka, pada Kamis (25/3) pagi itu, sekitar pukul  06.00, saya akhirnya dioperasi.

Pagi itu, tubuh saya diangkat dipindahkan ke tempat tidur dorong menuju ruang operasi. Saya melihat istri dan anak saya, Riski Ayuningati dan Fikri Andika Putra, dengan setia mendampingi saya. Dengan bisikan doa sebagai support untuk memacu semangat, agar saya tetap optimistis.

Saya merasa semangat dan termotivasi, karena ternyata para teman, sahabat dan kerabat saya pun, juga setia menunggui saya dengan sabar, dalam proses operasi tersebut.

Tempat di mana saya berbaring itu, terus menggelinding menuju ruang operasi yang ada di rumah sakit itu. Di ruangan yang begitu tampak menyeramkan itu, saya pun berdoa sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, dengan berharap operasi yang akan saya jalani tersebut, bisa berjalan dengan lancar dan berhasil.

Saya pun bermunajat kepada Allah SWT, dan menyerahkan tentang hidup dan matiku kepada Dzat pemilik alam semesta itu. Saya memohon kepadanya, agar Allah SWT selalu memberikan kesembuhan, melalui dokter yang sedang melakukan operasi pada tulang belakang saya itu. Setelah saya melafalkan doa itu, saya pun mulai tidak ingat apa-apa lagi.

Dan selanjutnya, sekitar pukul 11.00, saya mulai sadar dan terbangun dari tidur, meskipun sebenarnya, mata ini masih terasa ngantuk sekali. Saya hanya berpikir, jika rasa ngantuk tersebut sebagai reaksi dari obat bius.

Saat diri ini terlelap dari tidur, telinga mulai mendengar sapaan istri dan anak-anak, dan beberapa teman, sahabat, dan kerabat, yang secara bergantian menyapa saya.

Kesadaran saya pun mulai terasa pulih, dari reaksi obat bius membuat mata ini terlelap. Setelah saya sudah mulai terasa sadar, pertama saya lakukan ialah menggerakkan kaki kanan, yang awalnya terasa sakit dan terasa seperti lumpuh tersebut.

Ternyata, rasa sakit tersebut, sudah mulai tidak terasa dan kembali pada titik normal. Setelah kaki terasa kembali normal, kedua kanan ini mendapatkan giliran untuk saya gerakan. Seketika saya bersyukur dan mengucapkan takbir, atas kuasa Allah SWT, yang telah kembali memberikan kesehatan. kepada hambanya ini.

Tanggal 27 Maret 2013 sekitar pukul 12.00 siang dr Sofyan dan dr Gigih ahli visite, kembali datang ke kamar inap yang saya tempati. Mereka berdua meminta saya untuk duduk dan berjalan, di sekitar kamar inap saya tersebut. Mendapat anjuran dari kedua dokter yang sempat mengoperasi saya sebelumnya, saya pun mencoba mengikutinya.

Alhamdulillah kembali saya harus bersyukur, kepada pemilik mukjizat tersebut. Ternyata di hari itu pun, saya bisa duduk dan mulai bisa berjalan dengan jarak kurang lebih 6 meter, meski dengan kaki yang sedikit gemetar. dr Sofyan, pun mulai memberikan penjelasan tentang gemetarnya kaki saya itu. “Gemetarnya kaki Haji Arum ini, karena kedua kaki Haji, sudah terlalu lama tidak digunakan untuk berjalan. Tapi prinsipnya, kaki Haji Arum sudah pulih,” ujar dr Sofyan waktu itu.

Sata merasa senang dan bahagia saat itu, rasa tersebut muncul karena saya sudah mulai bisa duduk dan berjalan, meski hanya sejauh 6 meter. Namun setidaknya, kemampuan berjalan tersebut, sebagai bukti kemajuan yang ada pada kondisi kesehatan saya tersebut.

Keesokan harinya (28/3), kondisi kesehatan saya mulai merasa ada peningkatan. Hal tersebut tampak, dengan kemampuan berjalan saya, yang semakin meningkat, dengan mampu jalan kaki sekitar 60 meter. Bahkan, hari berikutnya (29/3), saya sudah mampu menempuh jalan kaki sejauh 1 km.

Perkembangan kesehatan saya pun, terus membaik dan selalu mengantarkan saya, pada titik kesehatan yang ideal. Bahkan, saya yang awalnya mengalami kesulitan melakukan salat itu, akhirnya mampu melakukan salat dengan sujud dan rukuk yang begitu sempurna.

Melihat kondisi kesehatan saya yang semakin membaik itu, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk segera pulang, ke rumah saya yang ada di Desa Tanggul Kulon, Kabupaten Jember.

Sesampainya di rumah, saya yang sebagai seorang petani, sudah merasa gatal melihat kebun yang sudah lama saya tinggalkan itu. Tepat setelah 12 hari saya dioperasi (6/4), saya pun langsung melakukan kegiatan rutin saya. Seusai salat subuh, seperti biasa saya langsung melakukan olahraga dengan berjalan di sekitar kediaman saya tersebut.

Tidak tanggung jarak tempuh yang saya ambil, dengan waktu sekitar 1,15 jam, saya mampu berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 6 km. Setelah itu, saya pun lanjutkan perjalanan saya menuju kebun dan kandang sapi maupun ayam, dengan mengendarai traktor yang saya kemudikan sendiri. Bahkan, saya pun mencoba berlatih seni bela diri, asal negeri Tiongkok yaitu Taichi. Kegiatan tersebut saya lakukan, hanya untuk membuktikan pernyataan dr Sofyan, jika aktivitas saya akan kembali normal, terhitung 12 hari dari operasi yang saya lakukan itu.

Betapa bersyukurnya hati ini, akhirnya kaki kanan yang sempat terancam lumpuh itu, akhirnya bisa pulih meski sempat mengalami kesakitan sekitar setengah bulan tersebut. Dengan menyebut takbir beberapa kali, saya pun bisa melangkah lagi dengan kedua kaki ini. (tnk)

One thought on “Arum Jalani Operasi Hernited Nucleus Pulposus (HNP)

  1. Hallo pak arum. Sebelumnya perkenalkan, nama saya ikbal. Orang tua saya, ayah saya. Baru2 ini mengalami penyakit yg nampaknya serupa dengan bapak. Berdasarkan hasil pantauan dokter melalui MRI, beliau ada penyempitan di tulang sumsum leher. Kekhawatiran terlihat jelas pada ayah saya. Saya dan keluarga pun gelisah akan hal ini. Saya sangat bersenang hati, apabila saya bisa berkomunikasi dengan bapak. Apabila bapak berkenan, saya meninggalkan email disini. [email protected] untuk berbincang2 lebih lanjut. Terima kasih pak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: