Arum Sabil Kembali Berorasi di Jalan

SURABAYA (titik0km.com)  – Ribuan petani tebu dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam organisasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), kembali turun jalan pada hari Senin (22/9) yang lalu. Dengan dipimpin oleh Arum Sabil, Ketua APTRI, Sang orator asal Jember itu, untuk kesekian kalinya berteriak lantang memperjuangkan nasib petani tebu, yang merasa dipecundangi Dirut PTPN XI Persero.

Pergerakan ribuan petani tebu dari belasan PG di Jatim termasuk PG Semboro, itu dimulai dari pelataran DPRD Provinsi Jatim di Jalan Indrapura Surabaya, menuju kantor direksi PTPN XI Persero, sejak pagi sekitar mulai pukul 09.30. Dengan membawa pengeras suara di atas truk, sejumlah pengurus APTRI bergantian orasi di sepanjang rute longmarch demo ribuan petani tebu tersebut.

Di atas mimbar demonstrasi, Arum Sabil berkali-kali teriak, bahwa Dirut PTPN XI Andi Putoko patut diduga agen mafia gula impor. Baginya, tudingan itu sangat beralasan, tatkala sang dirut telah melemahkan SK Memperindag No 527/MPP/Kep/9/2004. “Mafia impor musuh petani dan kami siap memeranginya,” tegasnya.

Kata Arum, pelemahan SK Memperindag tersebut, sama artinya dengan upaya mendorong kebijakan importir gula umum atau bebas. Ironisnya lagi, Dirut tersebut sering melakukan misi terselubung dengan mengadu domba petani dan karyawan, dengan tujuan menghancurkan PG yang berbahan baku tebu rakyat Indonesia. “Jangan adu domba kami,” teriak Arum dari atas truk.

Bukan hanya upaya pelemahan SK Memperindag. Orang nomer satu di PTPN XI itu, juga dituding telah mencederai Permendag Nomor 45 Tahun 2014, tentang jaminan harga jual gula petani minimal Rp 8.500 perkilogram gula. “Lelang gula petani selalu dibawah HPP. Salah satu penyebabnya karena marak gula impor. Sementara orang yang menjadi penyebab, tidak mau bertanggung jawab,” sesal pria asal Tanggul Jember itu.

Di hadapan ribuan anggota APTRI yang berkumpul di depan kantor direksi PTPN XI, Arum kembali mengungkapkan kekesalannya, karena rendemen tebu milik petani selalu dinilai dibawah 7 persen. Padahal hasil survei rendemen dari sejumlah pihak, tebu petani di lapangan mampu mencapai 9 persen. “Kami pun akhirnya menduga, ada gula dan tetes tak bertuan, hasil pencurian yang dilakukan pihak Dirut,” ungkapnya.

Masih kata Arum, dugaan pencurian gula dan tetes milik petani dengan modus mengurangi rendemen, bagian dari kebijakan ‘gelap’ yang dilakukan Dirut, untuk menuntut kerugian PTPN XI pada musim giling tebu 2013. Bahkan diungkapkan pimpinan APTRI itu, kerugian yang harus ditanggung PTPN XI hinggan hampir mencapai Rp 1 Triliun. “Karenanya, kami tidak berlebihan jika meminta Polda Jatim mengusut skandal ini,” imbuhnya.

Puas menyampaikan orasinya di depan kantor direksi PTPN XI sekitar satu jam lamanya, demonstran kembali menuju gedung DPRD Jatim. Di gedung wakil rakyat Jatim tersebut, sedikitnya 25 perwakilan petani tebu ditemui sejumlah anggota DPRD Jatim. Selain anggota dewan yang menemui, sejumlah petinggi Polisi Daerah (Polda) Jatim, juga hadir mendengarkan laporan dugaan permainan rendemen tebu petani itu.

Bahkan, dalam rapat dengar pendapat tersebut, dalam waktu dekat, dewan sepakat akan memanggil Dirut PTPN XI beserta jajarannya dan disaksikan Polda Jatim maupun Polrestabes Surabaya. Bahkan, dewan akan segera membentuk Pansus Rendemen. “Kami siap mengusut kasus yang menimpa petani tebu ini,” janji Miftahul Ulum, legislator yang juga ketua DPC PKB Jember.

Di tempat yang sama, koordinator aksi Sunardi Edi Sukamto, menegaskan, bahwa pihaknya konsisten mendorong Direskrim Polda Jatim, untuk membuat tim penyelidikan rendemen dan tetes bermasalah tersebut. “Kami yakin, pelaku koruptor yang merongrong hak petani tebu, akan terungkap dan pelakunya bakal dijebloskan kejeruji besi,” yakinnya. (asd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: