Avanza Di Parkiran Sekolah Oh Nelangsanya

Oleh : Akhmad Fauzi*

Biar tidak terjadi bias duga, saya dahului dulu jika yang di parkiran itu bukan milik saya. Biar pembaca artikel ini akan menemukan korelasinya antara avanza dan nelangsa. Yang berarti ada kemungkinan yang tidak punya diparkiran itu nelangsa. Cuma, jangan dahulu menduga yang nelangsa adalah saya. Terus, siapa? Sebaiknya jawabannya ada di akhir tulisan saya, ya…

Ini ada korelasinya dengan profesi tetapi juga tidak mutlak karena ada perbaikan di profesi ini. Avanza di parkiran sekolah adalah konteks kekinian, tidak labih dari satu tahun ke belakang. Bukan manifestasi perubahan kultur, karena nyatanya ada unsur gerakan masif dari pemilik modal (leasing) yang merangsek di pintu-pintu sekolah. Bukan pula perubahan pola hidup, karena kemapanan visi yang dimiliki terasa eman untuk digeser ke hal baru. Avanza di parkiran sekolah tidak lebih dari ganti suasana saja.

Sebegitu hebatkah kuda besi ini membanjiri parkiran? Kalau dibandingkan dua tahun silam saja iya. Bahkan jangan heran, teman saya yang baru keluar dari mobil diparkiran dinas pendidikan, sudah tersodori lembar promosi “kredit murah”. Suasana yang sebelumnya belum pernah ada. Ketika saya tanya seberapa cepat proses realisasi? Sang promotor (alias salesgirl) tidak menjawab, malah memberikan kepastian dengan sedikit mendesah, “Gampanglah, Pak. Nanti survey, lusa Bapak sudah di taman wisata dengan Avansa..”.

Atau, ada lagi yang lebih “gila”, setiap kali jam kosong ia manfaatkan mem-browser website perdagangan. Utak-atik mouse mencari yang cocok dengan selera diri dan keluarga, cocok pula antara rupa barang dan harga. Aktifitas browsing yang bisa berjalan berhari-hari.

Lebih terinci lagi ketika ada pentahapan langkah. Pertama, rumah dipoles untuk mempersiapkan tamu baru ini, setelah itu mencari sopir yang enak untuk diajak kemana-mana, bisa juga untuk menjalin bisnis rentalan yang sederhana. Baru ke dealer survey harga. Hanya dalam hitungan hari, di meja saya pasti ada bungkusan yang diberikan karyawan kebersihan dengan embel-embel titipan salam, “Dari Pak X, Pak Fauzi, mohon bantuan do’anya, hari ini nganyari Avanzanya…”. Nah lho.

Lebih gila lagi, ketika nama diri sudah berjejal di beberapa bank, tetapi masih juga tergiur menaikinya, ya yang diparkiran itu. Anehnya, lolos juga ia dengan permohonan kredit itu. Ironisnya, tiga pekan kemudian, kerutan di dahi mulai tampak, agak sedikit merenung. Tersiar kabar dia mulai menjalankan bisnis baru dengan label istilah “hanya untuk sampingan”.

Bagaimanakah dengan saya, apakah juga ingin memarkir avanza di parkiran yang mulai sesak itu? Ah, sulit untuk menjawab! Di satu sisi anak memang berharap, di sisi lain istri sudah sedikit memberikan peringatan lengkap dengan konsekuensinya.

Mungkin bukan Avanza, Pak? Yang lain, yang lebih murah? Bisa juga diterima saran itu, tetapi tidak perlu saya jabarkan di sini karena tema saya sekarang adalah Avanza. Mobil keluarga Indonesia penghias parkiran sekolah yang kadang terkesan mewah tidak jarang menakutkan, bagi saya….

Apakah ini nelangsa…? Entahlah.(*)

Kertonegoro, 1 Desember 013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: