Awas! Musim Pencuri

oleh: Akhmad Fauzi*

Musim Pencuri

Sajak Tanpa Arah :

Musim Pencuri,

Kalau di Dusunku, di awal selesai musim tanam

Kalau di negeri mereka, sebelum bertanam

Kalau di Dusun, berdasarkan lapar dan sulit kerja

Kalau di negeri itu, karena untuk kenyang dan peluang kerja

Musim pencuri berlomba-lomba membagi siasat, di negeri itu

Siasat yang sesaat dengan filsafat melompat-lompat

Di dusunku, filsafat itu untuk mencari tikus!

Yang melompat-lompat, yang kadang harus berlepotan keluh kesah

Tapi di negeri itu, menjadikannya untuk pembibitan,

Yang kemudian akan di dudukkan di pelaminan

Dusunku, kata orang merana

Tapi untunglah tidak kenal negeri itu

Maka, dusunku tetap mencari tikus

Dan akan waspada setelah musim tanam

Agar pencuri tahu diri

Inspirasi puisi yang tidak ada arah ini sepele. Ketika itu, penulis sedang serius mengamati sebuah talkshow di sebuah televisi. Entah karena genitnya fikir atau seriusnya dalam mengamati, tiba-tiba imajinasi penulis keluar dari acara itu. Melanglang beberapa jauh, kemudian menangkap kejadian beberapa waktu lalu di sekitar dusun penulis. Pak Kebun di sekolah, harus kehilangan tabung gas dan beberapa barang jualannya. Tetangga belakang rumah harus merelakan hampir setengah kwintal tembakau kasturinya ketika ditinggal sholat isya’. Setahun lalu, di musim yang sama, kejadian itupun pernah terjadi. Yang satu merugi sekitar empat ratusan ribu, sementara di kejadian kasturi, agak lumayan, yaitu sekitar hampir dua jutaan.

Imajinasi penulis kembali fokus ke talkshow, dipercaya atau tidak, konten yang dibicarakan  “sebenarnya” sesuatu yang sudah tidak mengejutkan lagi. Ternyata benar, dari tahun ke tahun, kualitas dan kuantitas “pencurian” semakin “membaik”. Apa acara talkshow tersebut? Apa temanya? Yah, MATA NAJWA dalam edisi bagi-bagi program dalam menghadapi 2014.

“Nilai kerugiannya sih tidak terlalu banyak, yang kami temukan masih hanya kisaran 3-4 milyar”, kata seorang anggota BPK. BPK melanjutkan, “Tapi biasanya akan meningkat menjelang PEMILU (MATA NAJWA edisi tayang 20 Februari 2013)

Sekelumit ilustrasi di atas adalah fenomena lima tahunan yang akan terus terjadi seiring kedewasaan negeri ini dalam menatap sebagai bangsa. Wacana ini akan semakin menggumpal begitu waktu “gawe nasional” kurang sedepa lagi. Kalau dicermati, hal ini bukanlah sesuatu yang “sintal” lagi (meminjam istilah Bang Sutan BG). Ketidaksintalan semakin menguat kalau kita jeli dalam  mengamati fenomena ini dari waktu ke waktu. Apanya yang aneh? Tidak ada kan? Toh modus operandinya ya begitu-begitu saja sejak beberapa era. Jalur distribusinya? Juga nggak berbeda jauh dengan yang telah berjalan di musim (lima tahun) lalu. Jadi apanya? Setelah merenung sejenak, imajinasi penulis menemukan kejanggalan, kejanggalan yang lebih cenderung bernuansa “mbandel”! Apanya yang mbandel?

Untuk sekarang, Wacana itu sudah membumi kok. Hampir di sudut-sudut kehidupan wacana ini selalu dibahas. Bahkan mereka yang berkategori “ngah-ngoh” pun sudah berani membuka fikirnya untuk urun rembuk. Inilah yang penulis lihat sebagai kejanggalan. Kejanggalan semakin membandel setelah melihat bahwa, di satu sisi, meski “musim pencurian” ini terasa memuakkan disetiap kali rutinitas lima tahunan berlangsung, toh di sisi lain, si pencuri semakin tidak tahu malu! Di satu sisi, media begitu habis-hiabisan memblow-up wacana ini, lha kok di sisi lain blow-upan itu dianggap sebagai “iklan gratis!”  Di satu sisi, sistem semakin diperkuat, di sisi lain “diskusi” di belakang meja semakin insten! Lantas kita harus bagaimana…..?!!

Benarkah ini yang dikatakan keburukan terorganisir yang telah mampu mengalahkan kebaikan yang berserakan? Atau jangan-jangan kita yang terjebak arus “saling mengelabui”. Lho…., maksudnya? Yah, jangan-jangan di sela-sela diskusinya, masyarakat sedang mengelabui hati kalau sebenarnya dia ingin juga melakukan. Jangan-jangan di sela-sela blow-upan media tentang pencurian ini, nggak tahunya masing-masing blow-upan (secara halus) ternyata saling memberangus. Dan jangan-jangan pula, di sela-sela perbaikan sistem ternyata memberikan dasar yang kuat akan diskusi gelap di belakang meja itu.

Imajinasi penulis kembali bergerak, penulis coba untuk bersikap positif. Yah, mungkin saja “musim pencuri” di negeri itu realitanya memang tidak ada. Kalau toh BPK menemukan indikasi pencurian itu,  semoga itu salah melihat angka-angka. Bagaimana dengan diskusi-diskusi dan pemblow-upan? Mungkin saja mereka hanya iseng saja, biasa, untuk mencari perhatian.

Benarkah? Ini hanya imajinasi saja kok. Imajinasi memutarkan logika yang berdasar pada informasi di talkshow itu. Untunglah imajinasi ini hanya penulis yang memiliki. Karena hanya sebuah imajinasi, maka dusun ku tetap bergerak dengan tradisi musim pencuri selalu terjadi setelah bertanam dan berkeluh kesah setiap kali muncul wabah tikus! Bagaimana di negeri sana? Ah… penulis belum mampu mengimajinasikan dengan lugas. Entahlah……..

 

*Penulis adalah

Pemerhati Sosial dan Pendidikan

Berdomisili di Desa Kertonegoro – Jenggawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: