Bebas Adalah Absurd

(Refleksi Kebebasan untuk Konteks Ibu Satinah)

Hari ini aku merasa lega, pasalnya, konflik berbulan-bulan yang ingin ikut aku urai telah menemukan titik puncaknya. Bukan karena sudah terurai dan selesai, tetapi karena ihtiar yang telah aku lakukan (tentunya semampu Tuhan memberikan) sudah dalam batas maksimal. Kalau toh hasil yang diharapkan ada yang terkecewakan, setelah saya renungkan, ternyata memang sebatas itu langkah maksimal upaya saya. Ternyata berat memang ketika berada dalam lingkaran konflik.

Tiga hari yang lalu, siswa yang merengek di inbox FB saya karena sedang dalam kondisi marah dan kecewa. Usut punya usut, siswa itu dalam posisi terdholimi. Nasehat yang saya berikan adalah memaafkan yang mendholimi. Ternyata nasehat itu tidak menjadikannya lega dan hilang marah kecewanya. Di akhir diskusi di FB itu, siswa tadi berkata : “Andai Bapak menjadi saya, tidak mungkin Bapak akan pernah memaafkannya”. Maka saya jawab, “Ia mbak, saya dalam menyarankan untuk memaafkan sudah menangis lebih dulu, namun akan lebih menangis jika Bapak harus mengajakmu untuk melakukan yang tidak perlu…”. Entah kenapa, hati ini lebih pas dan bebas menutup diskuisi itu. Yang saya lihat esok hari, siswa itu tersenyum lebih manis rasanya. Teriring do’a, semoga senyum itu karena siswa saya berkenan menuruti nasehat saya. Semoga.

Ayah teman anak saya, setahun yang lalu memasuki masa pensiun. Kebetulan profesinya sama dengan saya. Saya sempatkan bersilaturahmi seminggu sebelum masa pensiun. Dengan berseloroh dia berkata, “Pak Fauzi masih kelihatan gagah, ingin rasanya kembali di usia Bapak”. Terkejut juga menerima selorohannnya. Untuk mengimbangi obrolan itu maka saya jawab saja “Ahh, pak X, justru saya yang iri, terbayang hari-hari Bapak penuh dengan kebebasan. Tidak terbebani target kerja, lebih-lebih masalah yang mengikutinya. Apalagi putra sudah mentas semua.”

Sedikit cemberut yang aku lihat, sampai saya berpamitan pulang tidak terjawab mengapa cemberut. Tidak terjawab pula masalah tentang “siapa yang bebas,” saya yang masih aktif kerja atau beliau yang sudah paripurna?

Tiga sekelumit catatan hidup yang pernah terjadi dalam perjalanan waktu saya. Simpulan yang bisa saya ambil adalah : 1) Kelegaan saya di fenomena pertama adalah karena saya sudah membuktikan untuk ingin berbuat, telah berbuat, dan tetap berdo’a meski tidak lagi mampu melakukan apa-apa. 2) Untuk diskusi dengan siswa, kebebasan saya adalah memaksimalkan upaya saya untuk menghantarkan dilema yang dirasakan siswa agar tidak masuk ke jurang yang lebih dalam meski fakatnya dia dalam posisi yang benar. Marah dan kecewanya merupakan kesakitan hati yang ia rasanya, sangat dholim kalau saya harus memberikan rasa sakit yang baru lagi. Saya mengajaknya untuk memukul kemarahan dan kekecewaannya itu dengan jalan norma tingkat tinggi: “memaafkan ketika dalam kondisi didholimi” (meski saya sendiri belum tentu semampu itu). 3) Mengenai fenomena yang ketiga, entah mana yang benar. Ketika harus ditanyakan ke saya, jawaban saya jelas jika Bapak X yang mau pensiun itulah yang bebas. Tetapi ketika saya lemparkan pertanyaan itu ke beliau, cemberutnya lebih menyiratkan ketidak-setujuannya.

Teringat saya pada sebuah buku yang pernah saya baca lebih dari 15 tahun silam, tentang “sukses”. Dari 100-an tokoh dan ahli yang diwawancarai mengenai definisi “sukses”, semuanya tidak sama. Ada yang melihat sukses dari sisi kemantapan materi, ada yang membidiknya dari sisi kematangan idealisme, ada juga yang melihatnya dari kondisi stabilitas kehidupan keluarga. Bermacam-macam dan penuh tendens latar belakang pendefinisinya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu Satinah juga keluarga beliau, saya mencoba renungan kali ini mempetakan tiga fenomena di atas ke dalam lingkaran kasus yang membelit beliau. Bagi saya jelas, siapapun yang berada dalam lingkaran kasus tidak akan pernah merasa enak, lebih-lebih kasus yang berkaitan dengan kelangsungan hidup seseorang. Sesuatu yang menjadi sebab munculnya polemik aturan dan norma di setiap peradaban.

Idealnya memang ada diyat yang telah disepakati bersama dan dibayarkan, maka selesai sudah masalah. Apakah itu menjadi sebab Ibu Satinah bebas? Dari sisi hukum jika itu langkahnya maka Ibu Satinah dinyatakan bebas dari segala konsekwensi hukum. Tetapi mungkin ada yang lupa, jika memori seseorang, apalagi dalam menangkap peristiwa yang cukup fenomenal, tidak akan pernah hilang. Sering para psikolog mewanti-wanti agar menjaga anak usia dini dari segala trauma yang dilihatnya, baik ucapan apalagi tindakan. Peristiwa yang dialami ibu Satinah lebih berpotensi memberika dampak trauma bagi pelaku dan keluarga.

Kontens peristiwa yang dialami bu Satinah termasuk yang luar biasa. mendengar kata “pancung” saja sudah merinding seluruh tubuh, belum lagi sampai pada hilangnya nyawa. Yang mengalami, yang memancung, yang mendengar kasusnya, apalagi keluarganya pasti dalam kondisi trauma dengan kadar sesuai nilai keterkaitan psikologi dengan Ibu Satinah. Apakah gejala traumatis ini bisa dikatakan bebas? Bagaimana dengan nilai rasa terhadap korban dan keluarganya? Dan, ini yang perlu segera di ketahui, bagaimana tingkat kelabilan psikologi yang sebenarnya dari seorang Satinah?

Penjabaran ini tidak ingin menyentuh nilai rasa yang ada di hati Ibu Satinah dan keluarga, karena jelas sudah bagaimana rasanya. Umpan balik yang ingin saya sampaikan adalah betapa tidak mudahnya kebebasan itu. Mungkin ada yang mengatakan jika kebebasan adalah suatu keadaan dimana diperbolehkan perilaku apapun tanpa ada koridor yang mengungkungnya. Nyata sekarang, dalam kasus Ibu Satinah, persepsi kebasan semacam itu menjadi batal adanya. Nyatanya, perilaku harus di ukur dengan batasan hukum dan aturan, dan itupun masih juga tidak akan mampu membebaskan orang sepenuhnya.

Mengkuliti kebebasan sama dengan menarik benang untuk dikaitkan ke semua sudut. Ketika benang sudah tertarik, maka jika ada salah satu sudut benang yang putus bisa jadi penglihatan sudut lain akan mengatakan bahwa itu bukanlah pelanggaran. Sama dengan yang dialami Ibu Satinah, Apakah diyat adalah langkah untuk membebaskannya? Masih bisakah tindakan membunuh dan dengan balasan hukuman harus dipancung sama-sama melanggar? Sebebas apa orang membunuh dan semelanggar bagaimana hukum pancung itu? Lebih jauh lagi, dalam kondisi seperti apa Ibu Satinah bisa dikatakan bebas? Lantas bagaimana dengan nilai traumatisnya, juga rasa berterima kasihnya kepada yang membebaskannya? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah variabel yang memiliki unsur “tidak bebas”. Lantas kapan harus dikatakan bebas?

Ah, panjang memang kajian ini kalau harus menjawab tuntas. Penulis buku “sukses” pun diakhir bukunya tidak berani mengambil simpulan tentang apa itu sukses. Apalagi tulisan ini adalah tema yang menjadi isyu krusial di semua lini kehidupan, bahkan bisa menjadi picu awal ambruknya suatu kekuasaan.

Sebelum menutup renungan ini, saya ingin menyisipkan sedikit fenomena tentang Jokowi. Bebaskah Jokowi? Atau malah lebih bebas AU? Atau, bisa jadi keduanya sebenarnya dalam lingkaran “tidak bebas”. Kok bisa? Karena ulasan tentang Jokowi ini hanya menyisipkan, biarlah jawabannya ada di masing-masing pembaca. Sudah bebaskah Jokowi? Benarkah beliau sudah sukses? Tanya dalam hati masing-masing, akan tertemukan simpulan yang baku, “Ternyata yang mencintai dan yang membenci Jokowi harus lebih berhati, karena Jokowi sendiripun belum tentu bebas dengan kecintaan yang ada tetapi juga belum tentu tidak bebas dengan para pembencinya…” Renungkan!!! Karena bebas adalah…?

Catatan :
Pengambilan setting Ibu Satinah dalam tulisan ini dikarenakan lebih pada nilai aktual dan ketinggian kasus yang ada, bukan pada rasa hati dan kontens masalah yang sedang menyelimuti dirinya. Penulis tidak ingin menarik simpulan apapun tentang Ibu Satinah, karena ranah penulis hanyalah mengajak merenungi fenomena yang ada. Mohon maaf untuk ibu Satinah dan keluarga. Do’a dari penulis, semoga semua, khusunya Ibu Satinah, senantiasa dalam kebaikan yang diberikan Tuhan, Allah SWT. Karena penulis termasuk yang meyakini jika kebebasan yang sebenarnya adalah berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Warna berserah diri berarti : menerima segala keputusan Tuhan yang sudah tertulis dalam takdirNya karena telah 1) mentaati aturanNya, 2) menjauhi laranganNya. Itu menurut saya. (*)

Kertonegoro, 2 April 014

Ilustrais http://vahrur.blogdetik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: