Bencana Ekonomi Petani

ARTIKEL PERTANIAN

Oleh : MIRFANO

JEMBER (titik0km.com) – 18 Juli 2012, adalah tanggal yang tidak mungkin dilupakan oleh para petani di Jember.  Pada hari rabu itu hujan turun selama 15 jam dengan curah hujan 196 mm, akibatnya lebih dari 2.000 hektar tanaman tembakau siap panen mengalami kerusakan dan menurut informasi terakhir lebih dari 1.500 hektar tembakau gagal panen.  Belum lagi ratusan hektar tanaman lombok yang mengalami dampak serupa.  Curah Hujan sebesar 196 mm diibaratkan sama dengan hujan satu bulan yang dicurahkan sekaligus dalam sehari

Kalau saja saya tidak mengikuti pertemuan Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ) pada hari Jum’at lalu mungkin saja saya “melupakan” kejadian yg sempat direlease selama beberapa hari berturut-turut diberbagai media lokal.   Kerugian material akibat penyimpangan iklim tersebut diperkirakan mencapai angka lebih dari Rp. 50 M dengan kalkulasi investasi usaha tani tembakau rata-rata Rp. 25 juta per hektar. Adapun yang terkena dampak adalah ribuan orang yang terdiri dari petani, buruh tani, belandang dan eksportir beserta seluruh keluarganya termasuk juga pemerintah.  Belum lagi dampak psikososial yang muncul sebagai akibat dari gagalnya memperoleh keuntungan usaha yang akan digunakan untuk berlebaran tahun ini

Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia , kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.  Adapun berdasarkan sumbernya bencana dapat dibagi menjadi bencana alam (banjir, tanah longsor, kekeringan, tsunami, gempa bumi dan erupsi gunung berapi), bencana non alam (wabah penyakit) dan bencana sosial (teror dan konflik sosial)

Apabila jumlah korban jiwa menjadi faktor penentu, maka sangat sulit menempatkan derita petani tanggal 18 Juli 2012 tersebut dengan status bencana alam meskipun sumbernya adalah alam. Tidak ada satupun korban jiwa  pada saat penyimpangan iklim terjadi.  Jember sebagai daerah pertanian, dengan PDRB yang didominasi oleh sektor pertanian lebih dari 40%, agaknya perlu mempertimbangkan dampak anomali iklim terhadap ekonomi petani tanpa harus mempertimbangkan jumlah korban jiwa akan tetapi lebih mengedepankan pada cakupan luas wilayah dan dampak sosial ekonomi dalam RAPERDA tentang bencana yang akan dibuat nanti. Bukan tidak mungkin anomali iklim akan terulang kembali dimasa yang akan datang karena faktor itulah yang menjadi resiko potensial di sektor pertanian

Bencana Ekonomi Petani, itulah status bencana yang pantas untuk menggambarkan kesedihan mereka pada bulan ramadhan ini.  Petani di Jember adalah petani tangguh, kuat dan berani menghadapi resiko apapun. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kesabaran kepada mereka semua, amiin ya robbal alamiin (Pemerhati Pertanian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: