Broken Window

Broken Window

Oleh : Agus Susanto*

Menjadi nasabah prioritas sebuah bank memang sangat menyenangkan. Semua fasilitasnya dibuat sebagus dan senyaman mungkin untuk menyenangkan nasabahnya. Sofa yang empuk dan tempat duduk yang lain dibuat tertata seperti bukan didalam sebuah bank. Seolah-olah para nasabah istimewanya berada didalam café kelas atas yang menyajikan aneka minuman dan makanan kecil, yang juga bukan makanan kecil yang biasa ditemui di kelas minimarket biasa.

Sapaan dan senyum dari para staf bank tersebut sangatlah ramah dan baik. Bacaan majalah dan buku-buku interior serta buku-buku yang menunjang life style papan atas juga disajikan secara gratis untuk menambah wawasan nasabah prioritas di tempatnya.

Siapapun orangnya, saya jamin pasti tertarik untuk bisa menjadi nasabah prioritas dari bank tersebut, meski ada nilai yang harus ditanamkan disana.

Saya ajak saudara berjalan lagi bersama saya. Suatu hari saya berada ditempat showroom mobil yang baru diresmikan. Fasilitas-fasilitas yang ada didalam showroom tersebut tidak ubahnya dengan fasilitas seperti didalam sebuah bank yang ada ruang prioritasnya. Sangat baik dan bagus. Ada ruang tunggu dengan televisi LED terbaru yang inchinya lebih dari 50. Toilet yang dijaga oleh staf yang berseragam khusus.

Sangat nyaman untuk bertransaksi di showroom mobil tersebut. Seolah membuat calon konsumen segera untuk memberi tanda jadi untuk unit-unit mobil yang dipasarkan didalamnya.

Ayo kita jalan lagi, saya ajak ke sebuah rumah sakit. Rumah sakit ini sedang berbenah menuju sebuah Rumah Sakit yang baik. Lift-lift didesign khusus setiap lantainya. Setiap ruang ada nuansa yang berbeda. Indah sekali, malah pasien tidak merasa tinggal didalam sebuah rumah sakit.

Satu tempat lagi yang saya akan ajak kepada saudara semua. Saya pernah diundang di acara pemerintahan di kabupaten. Dinding ruang pertemuan sudah dilapisi dengan pelapis model terbaru, bukan lagi memakai wallpaper. Tapi sudah memakai bahan PVC yang bermotif alami menyerupai serat kayu, dipandang dari jauh indah dan anggun sekali. Undangan yang hadir adalah orang-orang penting kota itu.

Sudah. Cukup saya ajak saudara ke 4 tempat saja untuk saya bercerita kepada saudara semua. Tempat-tempat tadi dibuat dan diadakan semata-mata untuk kepentingan yang harusnya lebih baik. Ruang yang didesign dengan baik seharusnya bisa menimbulkan perasaan yang baik pula kepada semua tamu dan undangan yang datang ketempat-tempat tadi.

Namun,saya akan bercerita tentang suatu keadaan yang bertolak belakang dari ke empat tempat tadi. Saya akan runut kembali kepada sebuah bank. beberapa saat lalu saya sampai tiga kali mengeliingi sebuah bank untuk sekedar mau parkir didalamnya. Apa yang terjadi? Tidak ada satupun staf bagian parkir yang terlihat untuk membantu saya mencarikan tempat parkir.

Di showroom mobil saya saya ceritakan sangat wah sekali, yang harusnya membuat konsumen datang dan datang lagi. Ternyata juga ada cerita yang membuat saya harus menceritakannya juga ditulisan ini. Malam hari saya bersama teman mengalami sedikit masalah dimobilnya yang over heat, kepanasan. Saya sampaikan taruh saja dibengkel yang resmi dan yang baru itu. Malam itu mobil sudah berada dibengkelnya dan dititipkan karena memang sudah sangat berbahaya untuk dijalankan. Singkat cerita ternyata ada masalah dikipas radiatornya. Yang seharusnya cuma diganti kelistrikannya saja, ternyata jawaban dari mekanik disana harus diganti utuh dengan kipas-kipasnya juga. Dan pasti harganya selangit.

Jalan lagi ke sebuah rumah sakit yang saya ceritakan tersebut, teman saya punya pengalaman dibentak suster yang jaga disana, hanya masalah ibu teman saya yang sakit merasa mual. Sampai-sampai ibunya yang sakit jadi tambah sakit. Sampai teman saya bersumpah katanya tidak akan lagi menginjak rumah sakit tersebut.

Lanjut ke acara di pemerintahan yang ruang pertemuannya modern, saya ingin buang air kecil saat acara berlangsung. Mencarilah saya dimanakah toilet terdekat yang ada. Jujur saya kaget dan malu melihat kondisi toilet di tempat pemerintahan yang tidak terurus dan bau.

Ada sebuah teori yang dikembangkan oleh krimonolog dari Amerika Serikat yang bernama George L. Kelling dan Catherine M. Coles. Kedua orang ini mengembangkan sebuah teori yang disebut dengan teori “Broken Window”. Teori ini menjelaskan bahwa satu jendela pecah yang dibiarkan akan mengundang orang lain untuk memecahkan kaca jendela yang lainnya. Jendela pecah yang tidak diperbaiki menimbulkan kesan ketidakpedulian, inilah yang memicu datangnya kerusakan-kerusakan lain yang lebih parah. Demikian juga dengan aksi corat coret atau vandalisme.

Bagi mereka, jika kaca-kaca jendela yang pecah berhasil diatasi, maka yang lainpun akan menyusul. Maka mereka berdua pun jalan terus. Sebuah rute mereka pilih dan diujung jalan dibangun sebuah pos pembersihan. Sampai benar-benar tidak ada jendela yang pecah dan aksi corat coret disana.

Suatu tempat yang sudah dibuat sedemikian bagusnya dengan sistem yang terbaik, akan bisa runtuh seketika jikalau hal-hal kecil yang terjadi didalam suatu proses sistem itu tidak diperhatikan secara baik pula.

Bolehlah seorang pemimpin sudah berbuat yang terbaik untuk tamu-tamunya, namun coba diurut satu-satu sampai kebawah. Adakah “broken window” didalam tempat kerja kita? Kemana tukang parkir kita? Kenapa harus diganti utuh? Kenapa dengan suster jaga rumah sakitnya? Kemana cleaning service toiletnya? Apakah ada keran air yang bocor? Apakah ada lampu yang sudah berkedip-kedip? Selokan-selokan kita apa sudah dibersihkan? Ingat,musim hujan sudah dekat loh. Awas banjir. Kerusakan-kerusakan kecil seperti itu harus segera diperbaiki, karena pasti akan menjadikan kerusakan yang lebih besar. Dan pasti juga biaya yang dikeluarkan akan jadi lebih besar pula.

        Karena sebatang paku terlepas, lepaslah sepatu kuda.

        Karena sepatu terlepas, terjatuhlah kuda.

        Karena kuda terjatuh, jatuh pulalah si penunggang kuda.

        Karena si penunggang jatuh, maka pesan ke garis depan tidak terkirimkan.

        Karena pesan tidak terkirim, pasukan kalah perang.

        Karena kalah perang, jatuhlah sebuah negara!

Mari saudara semua, perhatikan hal-hal yang kecil didalam kehidupan kita. Jangan sampai kerusakan-kerusakan kecil itu menjadikan kehidupan kita yang sudah baik menjadi hancur. Jangan sampai ada tamu-tamu penting kita, nasabah-nasabah kita, pasien-pasien kita, para pemimpin daerah lain yang berkunjung ke daerah kita yang berpikiran “mengurusi hal-hal yang kecil saja tidak bisa,apalagi hendak berurusan dengan hal-hal yang lebih besar.”

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil ia juga tidak benar dalam perkara-perkara besar. Semoga bermanfaat! (*)

Agus Susanto (housemus[email protected])

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: