Demokrasi Rasa Sambal Istri

(Tatap Semua Dengan Cinta)

Oleh : Akhmad Fauzi*

Pedas, terengah-engah
Kadang hambar, sesekali lupa terasi
Jangan! Apalagi sampai tanpa garam

Melotot
Sebaiknya tersenyum sembari mencubit
Yang mana?
Yang diperbolehkan agama
Dan negara!

18 tahun serumah -untunglah- hanya sesekali saja terbelalak mata. Yang banyak adalah ngomel sambil sok berwacana, seakan sambal adalah keahliannya, ya saya!

Demokrasi sambal! Meski menempel hanya di pinggiran cobek, suaranya membahana sampai ke kolong meja kerja. Jika lagi apes, di alam kubur pun (bisa-bisa, kata lelucon yang pernah ada) menjadi diskusi tersendiri. Pedas, karena itulah filosofinya sambal. Tetapi harus diingat, tidak selalu sedap, apalagi emosi sedang bergairah –dus- hati sedang lupa jika dipunya.

Sambal istri, demokrasi negeri! Tidak akan pernah menghasilkan bubrahnya rumah tangga. Kecuali, jika sambal itu menjadi momen yang tepat untuk menjadi alasan mendua! Cobek bisa melayang, logikapun sering dibuang.

Dalam demokrasi sambal ala istri, semua diperbolehkan. Jika lagi menipis anggaran, cukup sejimpit saja dibuat, untuk semua penghuni. Kurang asin, bisa diberi alibi jika lupa membeli (garam). Kurang pedas, salahkan saja petaninya, atau malah negara, yang sesukanya menaikkan harga tanpa berpikir bagaimana jelata. Sekalian saja sok berbicara ala pejabat negara.

Pedas demokrasi ini ala sambal istri. Bergumul disembarang tempat dan waktu. Menarik kisah masa lalu dan berkuliah wacana di masa mendatang. Dulu hanya berdinding bambu, besok terjanjikan apartemen, walau di tengah jurang. Membeberkan yang terdalam, sampai mencitrakan rumah tetangga seberang. Nyatanya, sambal tetap sambal! Alangkah bijaknya jika hanya berharap sang istri saja yang terus menyajikan.

Sambal bajak kesukaanku
Dibuat ketika wajah tampak ayu

Salah!
Bukan bajaknya
Apalagi tampak ayu

Salah!
Sambal memang bukan intinya
Peluh di sela-sela gemulai tanganlah
Sambal itu lumat bermakna

Demokrasi negeri ini sering terlihat pedas, selalu menarik rakyat sebagai kekuatan intinya. Padahal tahunya dari lidah, sambal itu sedap dan campa! Lantas dimana letak dinamika sinergitas demokrasi yang terus menyeret rakyat seakan harus ikut berdiplomasi? Sementara lidah tidak akan pernah berontak jika hati sudah sepakat menanamkan cinta?

Kalau sekarang aurora negara seakan meriang, berarti belum tuntas bahasan rumah tangga yang dulu terijabkan di depan wali negara! Subtansi demokrasi teramat mahal kalau harus sering-sering dijual dengan atas nama. Demokrasi absolute dalam kedemokrasiannya, bias mewacanakan tidak harus menyeret demokrasi itu turun tahta.

Sehari lalu anak saya mencret, istri yang menjadi sumber tanya, mengapa?! Menampar wajah istri dengan dalih bersalah sungguh alasan yang nista. Mengobati sebab sakit dengan mengistirahat emosi ternyata lebih memanggil hati untuk mengakui jika kita adalah hamba. Tidak bisa apa-apa.

Malam sebelumnya, tetangga tepat sebelah rumah dipanggil sang kuasa. Hari ini, ibu teman sekerja juga dipanggil Dia! Do’a tulus dipanjatkan sebagai bentuk ketuntasan hati meyakini takdir. Bela sungkawa memang seharusnya ada, mutlak tertampakkan jika ingin berada dalam kosmis hubungan manusia.

Sakitkah ibu pertiwi? Akan meninggalkah demokrasi atas nama? Atau harus mengumpat sejadinya? Atau malah melirik gadis tetangga!? Dan terpanggil ingin mendua?

Ini sambal istri. Jangan sampai pedasnya sambal lebih menarik untuk dipuja dari pada sosok sang istri itu sendiri (yang konon kata sebagian pujangga, lebih sering ikut merana). Sambal ada karena ketulusan istri. Istri tulus karena paham siapa suaminya. Pedas adalah esensinya, tetapi kalau sedikit menggetirkan jangan robek cinta rumah tangga.

Ini demokrasi, masak harus kalah dengan sambal istri!

Temaram berselimut awan
Tataplah hanya sebagai fenomena penggalan
Bukan titik
Apalagi tanda seru

Aku tidak peduli dengan demokrasi
Cukup ada sambal
Berarti masih ada istri. (*)

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/014/09/26/demokrasi-sambal-istri-690738.html

Kertonegoro, 26 September 014
Salam,

Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif

Catatan :
Dimanakah posisi penulis menatap demokrasi negeri? Rasakan sambal yang sedang anda cicipi. Asal sambal itu buatan istri sendiri, bukan membeli, apalagi dari mencuri! Disitulah ada sebagian sisa tatap demokrasi saya.

Ilustrasi : arsip pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: