Detak Hati Menghitung Hari

Oleh : Akhmad Fauzi*

Ibu, kemarin anakmu berebut keputusan
Padahal dua hari sebelumnya ada yang saling menyalahkan
Seakan melengkapi nakalnya anak-anak yang sekarang dikarantina
Satu per satu
Wajar kok, memang mereka harus berebut
Dan mempersiapkan untuk berebut
Seperti juga yang pernah diperebutkan Ibu, dulu
Mungkin juga, kini
Ngga perlu ada lepas kendali ya Bu
Agar Bapak bisa menyelesaikan tugas akhirnya
Agar Ibu tetap manis di mata anak-anak
Agar anak-anak berebut dengan leluasa
Seseuai karakter mereka
………………………..
Kasihan yang tertidur pulas, Ibu
Yang tidak mengerti liukan liur ambisi ini
Dari riuhnya negeri
Yang akan terhelat sebentar lagi
……………………
nafas mereka hanya mimpi
Yang selalu terjejali
…………………………
Jamah hatinya Ibu
……………………….

Berdiam sejenak barang satu jam di hampir tengah malam, di depan rumah sambil menatap jauh hamparan sawah sejauh mata memandang, adalah waktu yang sulit tergantikan di malam-malam saya. Apalagi ditemani sedikit sisa kopi yang sore tadi terseduh istri –plus- separuh pak rokok sisa pembelian siang tadi. Batas akhir waktu saya melayani dan memikirkan hidup hari ini. Batas meletakkan sejenak beban keluarga. anak teduh dalam lelapnya, istri nyenyak meski memeluk kelelahan hidup.

Malam yang bebas dari kegundahan target, lepas dari pesimis kalkulasi atau menatap sedih jalangnya praduga. Malam yang miskin membuminya dendam, menepis liciknya liukan liur ambisi. Senyap dari gelegar sakit hati yang tersumbat.

Malam, sedikit makhluk yang beraktifitas, hanya sesekali deru kendaraan, itupun tidak lebih dengan rentang 2-3 menit sekali. Malam yang tepat untuk melepas sebentar baju manusia kita. Mencumbu kepekaan, menelusur kekritisan, menjamah segilanya kebaikan-kebaikan. Merangkul visi, mengubur kebinasaan-kebinasaan.

Tapi kini tinggal menghitung hari. Hari yang telah menggiring malam yang mulai terbiasa oleh anasir-anasir sisa siang tadi yang masih melekat didinginnya malam ini. Sudah mulai ada terik meski hembusan angin dini mendekati pagi, yang terkontaminasi opini-opini dan kepentingan. Malam, yang sejauh mata memandang tidak lagi terang walau gelap, tetapi gelap dalam kegelapan.

Terbayang, sudah dimulainya gerakan ide koalisi dua raksasa negeri untuk menjadi pengaruh kuasa negeri ini. Dicoba melemparkan joke dan sinyal-sinyal untuk saling menerima dan memprediksi. Dibiarkannya jutaan mata dengan terka dan duganya sendiri-sendiri. Yakinlah, sebentar lagi akan muncul tema lain dengan ide gerakan tandingan yang juga sama intinya, berebut pengaruh demi negeri ini.

Detak hati negeri semakin menghentak, panas! Ketika tokoh tidak lagi dirupakan ketokohannnya. Ide, gagasan, dan pernyataan pun menjadi amunisi untuk saling menghabisi. Seakan sejarah dikubur lengkap dengan catatan peluh yang pernah dibuatnya. Seakan negeri ini baru saja lahir dengan manusia-manusia yang tidak lagi punya kebaikan. Apa yang menjadi adegan mereka pasti dilengkapi barisan pembelaan dan pembenaran, sementara di seberang jalan siap terhunus ribuan kata-kata hujatan menentang melawan.

Semakin memanas, karena serombongan pasukan sudah tuntas membagi peran sempurna dengan kepiawaian masing-masing. Bagi yang menyimpan puluhan nol angka rupiah akan segera membuka kunci lemari untuk membeli. Membeli situasi, membeli wacana-wacana, membeli strategi-strategi. Membeli orang lengkap dengan gaya beropini bahkan ada label nasi bungkus sesekali. Mata, hati, dan mata hati terkelabui semudah cara yang dilakukan.

Penguasa infromasi dan dunia maya, semakin memanaskan saja. Tidak saja menjajakan jasa medianya tetapi malah terlibat menjadi pemain untuk dijajakan dirinya. Saling menghitung untung ruginya, menutup yang sini untuk melebarkan yang memungkinkan menguntungkan dirinya. memarkup data merubah wajah. Mensiarkan mana yang bisa meninggikan wibawanya!

Pengamat terkooptasi, jua beli opini mengebiri jati diri. analisis-analisis yang seakan mendalam padahal (ternyata) ada catatan-catatan yang telah terkorupsi di bawah meja. Tajam dan kritis bukan lagi senjata, marwah dan kiprah sejarah keahliannya tidak lagi yang pertama. Masyarakat berkaca-kaca, apalagi yang bisa ia mintai fatwa untuk meyuarakan dirinya!

Penulis mengkristal menjadi gelembung warna-warni. Memaniskan frase, mengaktualkan wacana dengan ruh kebenaran yang sudah tidak berdaya. Tajamnya pena hanya berdurasi detikan waktu, dengan menyimpan sisa sesak baru dikemudian hari. Penulis simbol aktualisasi perbaikan jaman yang sedang diguncang oleh letupan faham.

Pasti akan panas, karena masih menyisakan baju-baju tahanan yang tinggal tunggu waktu saja untuk dikenakan. Terkabar siar kalau terjahitkan baju-baju baru karena baju yang ada sudah menyimpan nama-nama kandidat untuk dipanggil namanya. Baju panas dari gerakan ganas sebelumnya.

Instagram, banjir dengan emosi yang hampir melupakan etika bersuara. Anak belum cukup umur pun bersenda gurau dengan ringannya membanting karakter yang seharusnya dibutuhkannya. Maya menjadi media sarat akan marah! Entah oleh karena susah hidup, tersakiti karir politik, terpinggirkan penguasa, merebut kue kuasa, memuluskan calon jumawanya, atau menghancurkan musuh-musuh.

Semakin panas, padahal malam terlalu dingin oleh uap banjir yang menggenangi negeri. Ozon kesejukan tidak lagi tergerak untuk turun mencairkan didihan. Hanya mengintip dan memandang trenyuh gelagat anak-anak negeri yang merah mata dan fikirnya.

Ibu, Pertiwiku!
Inikah cara untuk mencari Bapakku
Tidakkah ada jalan lain yang lebih berjati diri
Atau menambah suci
Atau yang kebal harakiri?
Bapak, muncullah dengan selamat
Jangan mau jadi akibat
Atau sebab kiamat!
Negeriku,
Mata merah cakrawala nusantara
Jangan pernah engkau sapa dengan gundah
Nyanyian nyiur kelapa masih merdu
Walau kadang
Disembunyikan kemerduannya
…………………..

(Sahabat, kuasa bukan untuk dibahayakan. Karena yang berbahaya adalah : “kuasa yang tidak bersahabat”) (*)

Kertonegoro, 25 Januari 014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: