Diajari Soal Baik, Benar, dan Betul

dr faida MMR, direktur RS Bina sehat JemberJEMBER (titik0km.com) – Tidak banyak yang tahu mengapa dr faida MMR mengambil profesi sebagai dokter dan kini memegang dua rumah sakit ternama. Selain sebagai direktur Rumah Sakit Bina Sehat Jember juga sebagai Chief Executive Officer (CEO) RS Al Huda Genteng Banyuwangi.

“Saya mengikuti jejak Abah (Alm Musytahar Umar Thalib, ayahanda Faida) menjadi dokter bukan tanpa sebab. Sejak kecil, kita tinggal di lingkungan rumah sakit. Yang kita tahu cuma profesi yang berhubungan dengan rumah sakit. Dokter, perawat, hansip, analis laboratorium, bidan, guru, dan kepala stasiun,” ujarnya.

Menurut Faida, saat itu, dirinyat idak kenal profesi lain, seperti anak kota bergaul pada umumnya. “Profesi dokter, saya pandang keren waktu itu. Dokter itu kan humanis pekerjaannya. Akhirnya, saya bulatkan keinginan menjadi dokter,” tegasnya.

Faida baru menjadi partner ayahnya setelah ayahnya pensiun dari rumah Sakit Krikilan. “Itu setelah Abah merintis usaha sendiri. Saya disuruh membantu Abah yang sebelumnya bekerja sendiri,” ujarnya.

Menariknya, Abahnya sempat berpesan khusus kepada Faida. “Kalau bisa berbuat sepuluh, ya jangan sembilan yang dikerjakan. Kalau bisa sepuluh, tapi sekarang mampunya tujuh, jangan berhenti sampai tujuh. Yang lainnya harus dikejar sampai dapat, sesuai kemampuan,” ujarnya.

Faida diharapkan tidak sampai puas sebelum bekerja maksimal. “Kalau bisa mengerjakan sembilan kerjakan sembilan. Kalau mampunya sepuluh kerjakan sepuluh. Banyak nasehat Abah yang sampai saat ini selalu saya ingat,” ujarnya.

 Satu lagi, nasehat yang sampai saat ini dipegang teguh Faida. “Kalau ada masalah, kita diminta untuk berpikir ulang lagi. Apakah itu ketika menghadapi konflik keluarga, dengan orang lain, atau dalam pekerjaan. Kita disuruh berpikir ulang, apakah yang kita lakukan sudah benar atau belum,” ujarnya.

Terlebih Abah Faida ini orangnya kuat dalam filosofi. “Kata Abah, kalau kita lagi menghadapi masalah dan kita bingung untuk memutuskan, hendaknya memegang teguh tiga hal. Kalau kamu merasa bingung apakah ini benar atau salah, ini mulia atau tidak, kata Abah, ukurannya cuma tiga. Baik, benar, dan betul,” tegasnya.

Apa saja itu? Kalau sudah baik, benar, dan  betul, maka jangan takut untuk melangkah. Kalau ada satu saja dari tiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka mundur dulu satu langkah. Pasti ada sesuatu yang tidak benar. Semuanya harus dipastikan dulu, apakah sudah baik tujuannya, benar hukumnya, betul caranya.

“Meskipun baik tujuannya, baik hukumnya, tapi ndak benar caranya, jangan diteruskan. Tiga-tiganya tidak boleh ditawar-tawar lagi.” Pungkasnya. (tnt)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: