Dibekali Falsafah Hidup Bukan Pujian

dr faidaJEMBER (titik0km.com) – Didikan orang tua ternyata besar peranannya bagi perjalanan dan kesuksesan hidup seseorang. Ini pula yang dirasakan dr Faida MMR, Direktur Rumah Sakit Bina Sehat dan Chief Executive Officer Rumah Sakit Al Huda Genteng Banyuwangi. Memimpin dua rumah sakit secara bersamaan dan lain tempat, tentu bukan persoalan gampang. Terlebih yang diurus menyangkut nyawa pasien. Belum lagi mengurus para dokter, spesialis, dan karyawan yang jumlahnya ribuan orang. Apalagi itu dilakukan oleh sosok perempuan.

Tapi semua itu bisa dilakoni dr Faida yang lulus cumlaude dari  program pascasarjana UGM ini. Apa kuncinya? Ternyata selain memahami manajemen rumah sakit dan membangun sinergi dengan banyak kalangan, Faida merasakan betul didikan dari ayahandanya Alm Musytahar Umar Thalib yang merintis berdirinya RS Al Huda Genteng dan RS Bina Sehat Jember.

“Boleh dibilang, Abah (Alm Musytahar Umar Thalib) ini orangnya pelit memberi pujian. Sampai aku bilang, kalau kita kerja sama orang lain, kita ini sudah ditepuk tepuk pundaknya. Bagus kamu Nak, rajin kamu Nak,” ujar Faida. Namun kenyataannya, Faida ini tidak pernah ditepuk tepuk sama Abahnya. “Namanya orang biasa, tentunya perlu juga pujian dan ditepuk tepuk. Abah cuma bilang,” ujarnya.

Apa jawab Abah faida saat itu? “Abah tahu bukan itu yang kau butuhkan Nak. Buat apa diberi pujian. Tidak terlalu kamu butuhkan. Itu orang lain bisa beli. Tapi Abah tahu harus memberimu apa.” Itulah kata-kata Abah Faida yang masih tergiang hingga saat ini yang terus memotivasi perjalanan hidupnya.

“Soal kerja di mana, mau menikah sama siapa, mau berkarir apa nantinya, Abah ngomongnya cuma satu. Satu jawaban untuk tiga pertanyaan. Miliki yang kamu cintai, cintai yang kamu miliki. Kamu ingin jadi dokter, ya cintailah dengan segala keruwetan profesi dokter,” paparnya.

Waktu membantu Abahnya menangani rumah sakit, , Faida pun harus buat surat lamaran dulu. “Bayarannya cuma Rp 300 ribu. Kalau kerjasama dengan orang lain bisa Rp 750 ribu, kerja sama Abah gajinya Rp 300 ribu,” ujarnya.

Saat itu, Abah Faida hanya bilang singkat tapi mengena betul di hati faida. “Kamu nanti akan merasakan nikmatnya merintis. Merintis itu tidak bisa dibeli, tidak bisa diminta. Merintis itu jalan hidup,” paparnya.

Awalnya, Faida tidak mengerti maksud Abahnya tersebut. “Abah selalu melibatkan anak-anaknya dalam pekerjaannya. Setelah berkeluarga dan punya anak, saya sadar, itu ternyata tidak sekadar bermain. Saya sempat disuruh ngumpulin satu persatu kota rokok. Saya pikir buat apa kita kumpulin kotak rokok tersebut. Saya cuma nuruti saja. Pada hari Minggu, saya sama adik dikerahkan disuruh membantu ringkes-ringkes kamar praktek dan obat-obatan,” tuturnya.

Kotak rokok tersebut kemudian disusun rapi untuk tempat obat. Paling tinggi tiga tingkat kotak rokok, depannya dua tingkat kotak rokok, paling depan lagi satu tingkat kotak rokok. “Ternyata Abah mengajari anaknya soal sistematika. Namanya anak-anak, setiap minggu harus menata obat, capek juga,” tegasnya.

Namun dengan sabar, Abah Faida cuma bilang sedikit kata lagi. ”Nak sandang panganmu di sini. Betapa Abah telah melibatkan anak-anaknya untuk menyadari perjuangan orang tua,” tegasnya. Sejak saat itu, Faida berusaha untuk melaksanakan segala tantangan dan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya. (tnt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: