Direktur KITLV Jakarta Kunjungi Peninggalan Belanda

Dr. Roger Tol Kunjungi Pabrik Gula Semboro JemberJEMBER (titik0km.com) – Dr. Roger Tol, Direktur Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) kantor Jakarta berkesempatan mengunjungi peninggalan Belanda di Jember, kunjungan dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dan Pabrik Gula (PG) Semboro (8/4). Turut serta dalam kegiatan ini para dosen sejarah dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember. Kunjungan kali ini dilaksanakan dalam rangka merintis kerjasama antara Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dengan KITLV.

KITLV adalah lembaga yang didirikan oleh Kerajaan Belanda yang mengkaji mengenai bahasa, negara dan antropologi. KITLV sendiri dikenal sebagai lembaga yang fokus pada penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah wilayah Asia Tenggara, Oseania dan Karibia terutama wilayah yang dahulunya menjadi jajahan Belanda. Lembaga yang berpusat di Universitas Leiden ini berdiri sejak tahun 1851.

“Perusahaan pembuat crane ini masih ada sampai sekarang, dan sejak dahulu memang terkenal sebagai perusahaan pembuat alat-alat berat di Belanda,” jelas Dr. Roger Tol kepada rombongan saat melihat alat pemindah tebu dari lori ke meja tebu di PG Semboro. Alat buatan GEBR. Stork & Co tahun 1926  bercat kuning ini masih menjadi andalan PG Semboro saat musim giling tiba. PG Semboro sendiri adalah pabrik gula yang mulai dibangun tahun 1927 dan mulai beroperasi tahun 1928.

Uniknya, di bawah nama perusahaan pembuat crane tadi ada kata 100 picol. Semula beberapa anggota rombongan mengira kata picol berasal dari Bahasa Belanda. “Bukan, kata picol itu berasal dari Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia yakni pikul. Jadi kekuatan crane ini sekali angkat seberat 100 pikul, satu pikul kira-kira antara 50 sampai dengan 60 kilogram,” urai Dr. Roger Tol. Penjelasan Direktur KITLV Jakarta ini membuat anggota rombongan manggut-manggut sambil tersenyum, termasuk beberapa karyawan PG Semboro yang juga baru tahu arti tulisan kata picol yang ada di alat tersebut.

Selanjutnya Dr. Roger Tol berserta rombongan diantaranya antropolog asal Belanda Robert Wessing berkesempatan naik lori yang dihela oleh lokomotif uap milik PG Semboro menuju kebun Sumber Jeruk. Lokomotif uap tua buatan Jerman tahun 1926 ini saat ini hanya tinggal dua. Perlu waktu untuk memanaskan ketel berbahan bakar kayu agar mampu menghasilkan uap panas untuk menggerakkan roda-rodanya. “Bulan Mei ini kita akan coba untuk menawarkan wisata naik lokomotif uap ini kepada masyarakat,” jelas Arif Agung, Kepala Pelayanan Teknik PG Semboro.

Sebelumnya, rombongan mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Kaliwining. Di pusat penelitian mengenai kopi dan kakao satu-satunya di Indonesia ini rombongan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan lembaga yang semula didirikan oleh para pekebun Belanda di tahun 2010. Rombongan juga berkesempatan melihat dari dekat koleksi buku-buku kuno milik Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Dalam sambutannya, Nawiyanto, Ph.D., dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra menuturkan jika kedatangan rombongan kali ini terutama para peneliti sejarah Universitas Jember diharapkan mampu mengembangkan jalinan kerjasama antara kedua lembaga. (ads)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: