Dul Hanyalah Korban Ego Orang Tua Semata

Oleh : Akhmad Fauzi*

Terkesan kasar memang judul di atas, tetapi itulah kenyataannya. Ego yang harus memberangus kebutuhannya sebagai anak, ego akan sebuah masalah yang dia sendiri tidak faham akan masalah itu, ego yang menjadikan ego itu melekat selamanya…!!!

Ego, sebuah sikap menang sendiri yang tidak lagi memberi ruang orang lain untuk memberi atau diberi. Apa yang terjadi di adik belia kita ini adalah salah satu dari sekian rentetan dampak ego ini. Bagi saya, yang sudah bergelut dengan siswa selama puluhan tahun, rasanya cukup bisa merasakan bagaimana warna kejiwaan Dul ini. Hampir 80% (hitungan acak penulis) siswa yang bermasalah pasti berangkat dari keluarga yang kurang harmonis (kalau tidak boleh disebut berantakan). Kerentanan kejiwaan anak yang memiliki masalah keluarga ini sering penulis temukan. Intinya memang bukan “bubrahnya” rumah tangga orang tua, tetapi lebih pada pelayanan yang tidak semestinya dari orang tua terhadap si anak. Banyak sudah testimoni yang mengatakan bahwa harta bukanlah jaminan si anak akan tumbuh secara wajar. Itu saya temukan kebenarannya setiap kali melihat dan ikut menangani siswa yang bermasalah.

Andai saja Dul bukanlah putra seorang maestro, tetap, dia adalah korban ego itu. Kalau sekarang berita tentang dia menghangat itu tidak labih dari konsekwensi status yang ia sandang sebagai selebriti, apalagi sang orang tua popularitasnya tidak diragukan lagi di dunia entertainmen di negeri ini. Pernahkan kita merasakan betapa hebatnya pertarungan si anak melihat kedua orang tuanya (yang terkenal itu) harus menenggelamkan kehidupan yang semestinya mereka pentaskan di hadapan sang anak? Apa yang ada di benaknya ketika momen-momen indah harus timpang karena tidak utuhnya orang tua. Ketidak-utuhan rumah tangga dari orang tuanya bukanlah dosa, tetapi itulah yang saya maksud korban ego ini.

Apakah bisa kecelakaan itu menjadi indikasi kekalutan seorang Dul? Saya percaya, kecelakaan itu adalah efek dari kekalutan. Berangkat dari peristiwa kecelakaan inilah fenomena kekalutan Dul akan tampak dengan sendirinya. Lihatlah, bagaimana seusia dia harus mengemudikan mobil, lebih miris lagi tersiar kabar dia celaka setelah mengantarkan sang pacar. Saya yakin betul sebelum-sebelum itu ada hal-hal yang miris yang telah mereka lakukan. Dan saya sangat setuju kalau hal itu tidak perlu dikuak lebih dalam, karena kelabilan psikologinya dengan usia yang masih 13 tahun ini bukanlah bahan yang empuk untuk menjadi topik utama pemberitaan. Lebih dari itu, bukan dia yang menyebabkan semua ini terjadi!

Berbicara mengenai kenakalan anak (Dul termasuk kategori anak-anak kalau menurut UU No.3 tentang perlindungan anak, karena masih di bawah umur 18 tahun), hampir semua psikolog dan pemerhati anak mengatakan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kesalahannya kepada si anak. Karena seorang anak, maka wajib hukukmnya dia diberi pelayanan khusus apabila mengalami gejala minor di masyarakat. Mari kita lihat kenakalan yang sering saya temui pada siswa didik saya seusia Dul, yaitu :

1. Perkelahian/tawuran

2. Merokok dan mengkonsumsi zat aditif (narkotika dan lain-lain)

3. Pergaulan tanpa batas bahkan mengarah ke pornografi dan perzinahan

4. Tanpa etika lebih cenderung bersikap anarkis

5. Perjudian dan kriminalisasi

Untuk permasalahan Dul, tidak perlu kita menuduh dia telah melakukan itu, tetapi kita bisa mempradugakan kalau dia (dengan latar belakang rumah tangga orang tuanya dan berangkat dari pengalaman penulis menangani siswa yang bermasalah dengan keluarga) besar kemungkinan dia masuk ke salah satu dari lima indikasi itu. Potensi dia untuk terjerat salah satu dari kelima kasus di atas cukup besar. Tetapi tetap, kita tidak perlu menguaknya, cukuplah kita memahami dari fakta yang ada kalau Dul termasuk rentan untuk mengalami masa yang sulit tersebut.

Artikel ini sama sekali tidak ingin mengkuliti latar belakang hidup sang orang tua, disamping karena tanpa artikel inipun kita sudah tahu bagaimana latar belakang mereka (dalam arti positif maupun negatif) juga fakta sosial yang saya temui pada setiap siswa yang mengalami keganjilan rumah tangga pasti mengalami trauma psikologi semacam itu, ujung-ujungnya akan melakukan (salah satu atau kelima) dari lima hal di atas.

Dimana indikasi egonya? Yaitu ketika sang orang tua dengan sadar melakukan pisah ramah tangga yang berarti pula dengan sadar melakukan sesuatu yang menyebabkan pisah itu. Keegoan yang dikedepankan ini tanpa tersadari menyeret hak anak untuk dibuang ketika masanya dibutuhkan. Akan terjadi gugatan fikir ketika melihat dikesehariannya hidupnya tidak seperti layaknya rumah tangga yang normal (pulang sekolah ada ibu, tinggal menanti sang ayah pulang kerja kemudian senda gurau di seperempat awal malam dan tidur di satu rumah setiap malamnya).

Nilai kebersamaan orang tua ketika menyatakan sayangnya dalam gerak dan ucap menjadi hawa segar bagi si anak untuk tumbuh meniti masanya. Belum ada penelitian yang meyakinkan kalau fasilitas menjadi unsur penentu kesehatan hidup si anak. Belum ada yang menjamin kalau kesempurnaan fasilitas ini menjadi kepastian sehatnya si anak (baik sehat fikir, sehat hati, sehat sosial). Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada sang orang tua, Dul-pun mengalami gejolak itu. Keseimbangan vitamin kehidupan ada yang hilang dari hidupnya. Bisa jadi sang orang tua justru menutupi kekurangan vitamin itu dengan menyempurnakan fasilitas, jadilah kegersangan itu semakin parah.

Musibah Dul ini menjadi air mata tersendiri bagi saya, ini alasannya :

1. Kondisi psikologi Dul bisa saya rasakan seiring rutinitas profesi yang sering bersentuhan dengan masalah itu,

2. Masih banyak orang tua yang “seakan” sudah menjadi orang tua, padahal sang anak menjerit karena kebekuan kasih sayang, baik karena sibuk, retak, atau ekonomi,

3. Jarang disadari orang tua kalau menyapa merdu dengan melihat si anak merupakan interaksi yang fital bagi pertumbuhan psikologi anak,

4. Mudahnya orang tua mempertontonkan problemnya padahal sang anak tidak berhak mengetahui problem itu.

Artikel ini hanya ingin mengingatkan lagi, kalau toh saya contohkan Dul dalam artikel ini, itu tidak lebih sebagai fakta sosial yang sedang aktual untuk bisa diambil hikmahnya. Saya termasuk yang merasa kasihan dengan orang tua Dul, karena beban beliau sekarang berganda, harus merawat Dul (dalam arti lahir bathin) juga harus berani menyatakan dalam hati kalau ini adalah kesalahan orang tua. Kedua hal itu bagi orang tua adalah pertarungan hebat yang harus diterima sebagai kenyataan dalam melihat musibah ini. Semakin berani hati menyalahkan diri semakin ringan beban kesalahan yang membebani fikirnya.

Kalau judul di atas bicara tentang ego, memang berangkat dari itulah indikasi besar faktor penyebabnya. Dul bagi saya adalah seorang anak yang begitu rindu akan keharmonisan rumah tangga. Dalam keseharian, Dul punya hak untuk mendengar teguran. Dalam keseriusannya memupuk bakat, diapun punya keinginan untuk mendengar tawa kedua orang tuanya berbarengan. Namun Dul, juga siswa saya dan mungkin juga anak yang lain, dipaksa oleh keadaan harus menterjemahkan ketimpangan hidup ini semampu ia. Bukankah ini menjadi momok yang sering ditakutti anak? Bukankah suatu ironi jika mereka harus dipersalahkan? Maka benar kalau Undang-undang harus melindungi haknya agar tetap terawat dengan baik dalam sejarah hidupnya. Jangan sampai musibah ini menjadi trauma baru lagi bagi dia yang itu akan menjadi gelagat tindakan yang akan semakin meluas negatifnya.

Cukuplah bagi kita mengatakan, Dul adalah korban ego. Beri dia kesempatan untuk menghilangkan trauma kejadian itu dan mengisi hidup selanjutnya dengan lebih baik. Akan lebih baik lagi kalau ego orang tua diletakkan sementara kemudian menatap sang anak dan berbisik lirih : “Nak, maafkan kami, mari kita kembali tersenyum dan tumbuh bersama kasih sayang yang engkau butuhkan…”

Ini adalah suara hati guru yang sudah terlalu lama melihat ketimpangan hidup siswa didik. Dan nilai ketimpangan itu adalah nilai moral, nilai psikologi, nilai nurani, dan nilai-nilai yang selayaknya. Sekarang nilai itu semakin tertelan ego….

Hanya dengan melawan ego, semua itu bisa diatasi.

Semoga Dul, tumbuh lagi dengan sesegera mungkin dan melupakan musibah itu. Bantu dia melupakan trauma yang ada…!!! (*)

Kertonegoro, 8 September 013

One thought on “Dul Hanyalah Korban Ego Orang Tua Semata

  1. Maaf ya Red, ada ralat lagi

    UU yang benar itu Nomor 23 tahun 2002
    Demikian, maaf sedikit mengganggu kenyamanan dalam menyimak
    Terima kasih

    salam kreasi,

    Akhmad Fauzi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: