Entrepreuneur Iwak Peyek

agus susanto

Oleh: Agus Susanto

Beberapa waktu lalu, saya diundang untuk menjadi dosen tamu di kuliah umum pondok pesantren (ponpes) Ibnu Katsir di Kecamatan Patrang, Jember. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kritis dari mahasiswa yang mondok di sana. Beberapa pertanyaan saya rangkum dan saya catat untuk media online www.titik0km.com tercinta ini.

Salah satu pengasuh ponpes Ibnu Katsir bertanya, apa saja yang diperlukan untuk memulai suatu usaha? Apakah harus mempunyai modal dulu baru berwirausaha atau mencari jenis usaha nya dulu baru memulai berwirausaha?

Pertanyaan yang sebenarnya sudah menjadi jawaban juga. Baik modal ataupun jenis usaha yang dipilih adalah sama-sama diperlukan dalam memilih atau memulai suatu usaha. Tapi saya menambahkan yang terpenting atau yang nomor satu adalah mind set atau cara pandang terhadap usaha yang akan dimulai.

Kalau modal itu sangat mudah memperolehnya. Apalagi di zaman sekarang ini di mana bank-bank sudah jor-joran mencari nasabah untuk mengucurkan kreditnya. Pengusaha yang dicari bank, bukan pengusaha yang mencari bank.

Kalau opsi yang kedua mencari jenis usaha dulu, baru mau berani berusaha, itupun zaman sekarang ini sudah terlampau banyak jenis-jenis usaha yang bisa dijalankan. Banyak tawaran-tawaran franchise atau peluang usaha yang terbuka lebar.

Yang paling penting adalah bagaimana cara pandang kita terhadap peluang-peluang yang terjadi setiap waktu melewati depan mata kita. Dan ironisnya peluang-peluang itu kita abaikan begitu saja. Seolah-olah kita tidak butuh atau bukan kebutuhan kita.

Saya mengajarkan bahwa entrepreunership itu bukan hanya mengajak orang berjualan atau menjadi pedagang dan sebagainya. Tapi semata mata bagaimana kita bisa merubah sesuatu yang tidak berharga menjadi sesuatu yang berharga.

Merubah rongsokan atau sampah menjadi emas. Botol kosong air kemasan yang kita minum, pasti kita buang begitu saja setelah kita meminum isinya. Itupun kalau kita jeli dan pandai memanfaatkan peluang akan bisa menjadi berharga. Rubahlah botol minuman tadi menjadi hiasan tempat pensil, misalnya. Dan pasti nilainya sudah berubah.

Kertas kosong tidaklah berarti kalau dibiarkan kosong. Coba tulis atau gambarlah sesuatu yang indah di atasnya. Maka akan menjadi sesuatu yang berarti dan bernilai lebih dari harga kertas itu sendiri. Contoh mudah adalah selembar ijazah kita. Ijazah itu cuma selembar kertas. Tapi setelah ada logo sekolah dan tanda tangan dari kepala sekolah, maka menjadi sangat-sangat berharga.

Contoh yang paling sederhana lagi adalah “iwak peyek”. Kita semua tahu bahwa iwak peyek itu barang nyatanya adalah sejenis makanan dan harganya pun sangat rendah sekali. Paling mahal sepiring atau seplastik cuma Rp 3 ribu.

Lain ceritanya kalau iwak peyek tadi berada di tangan seorang musisi. Lihat sekarang lagu iwak peyek yang cuma dimodifikasi sedikit diberi notasi dan irama. Nilainya pun naik berjuta kali lipat dari Rp 3 ribu.

Jadi setuju atau tidak bahwa yang terpenting di dalam memulai suatu usaha ada di dalam pikiran kita sendiri. Kemampuan untuk menangkan peluang-peluang yang ada dan jadikanlah peluang itu luar biasa. Iwak peyek .. iwak peyek .. iwak peyek.. nasi jagung … media online titik0km tetap disanjung! Semoga bermanfaat, Salam entrepreuner.

([email protected])

Agus Susanto adalah Ketua Ikatan Pengusaha Jember (IPJ)

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *