Fenomena Selebrasi

Oleh : Akhmad Fauzi*

 

Perjalanan hidup memang misteri, tidak ada yang bisa menebak walau sedetik kemudian. Tetapi anehnya, hidup dikibas-kibas hingga menimbulkan kontradiksi. Secara filosofi, kontradiksi hidup adalah perbendaharaan kata untuk menimbulkan ragam intonasi agar terjadi kemeriahan dalam kehidupan. Kemeriahan hidup itulah yang nantinya akan menjadi catatan sejarah apakah akan dianggap sebagai budaya atau hilang begitu saja.

Hidup memang panggung sandiwara. Ketika pagi harus berbusana putih berdasi, hakekatnya ia telah berani menukar piyama hijaunya yang semalam dipakai. Ketika siang dipaksa untuk berorasi setengah lantang, tanpa disadari telah diihlaskannya tersedu di subuh itu yang bercucur air mata. Bagaimana dengan sendaguraunya bersama beberapa teman kencan sore itu, di cafe?

Hidup mudah untuk berkamuflase, semudah ia menjiwai watak yang akan dikamuflasekannya. Jahatkah? Tidak! Lantas? Dunia memang memberi ruang untuk itu dan itu tidak aneh, sudah sejak dulu! Hanya saja sering ganti baju dengan merk produksi berbeda berasal dari pabrik budaya. Itulah dunia!!! Terlalu na’if kalau menyalahkan dunia, karena sama saja dengan meyalahkan orang lain sembari menepuk dada kalau “akulah sebenarnya yang bodoh!!!”

Ketika kasus Raffi mencuat, Seperti biasa, analisis mengalir dan merebak. Ketika “sapi” tiba-tiba terkenal, ada yang membiaskan kalau ini kasus lama tapi di temukan baru, agar (kata pengamat) bisa saling menyandra. Entahlah, begitu senangnya orang menanti “kasus” dari pada menutupnya.  Ada yang menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah konsekwensi logis dari status selebriti. Ada yang lebih vulgar dengan mengatakan ini rekayasa! Penulis tidak habis fikir, mengapa “keusangan” analisis itu terus mencuat setiap kali ada kasus, yang sebenanrya, tidak pernah berbeda? Hampir tidak pernah didengar adanya warna baru gerakan untuk menstop kejadian ini berulang.

Belum selesai berkedip, muncul Eyang Subur. Lebih hot dan menggegerkan. Hot dari sisi hentakan hati karena merambah keyakinan yang berarti akan terjadi kontradiksi dan pembenaran-pembenaran. Mengegerkan,  karena begitu luasnya yang membicarakan, sampai di sebuah televisi swasta dirancang menjadi beberapa episode tayang.

Dalam ilmu sosiologi dikatakan, setiap fenomena akan diikuti oleh bibit fenomena baru, karena telah terjadi penguatan pemahaman akan hidup. Jadi, kasus Raffi sampai Eyang, sejatinya adalah karena telah terjadi pergeseran pemahaman akan hidup. Bergeser, bisa berarti berubah, meloncat, pindah tempat atau kolaborasi dari semua itu. Yang pasti, telah terjadi konsep baru yang tercatat oleh peradaban.

Simak kasus Raffi, terbukti ada penamaan baru akan jenis narkoba yang dipakai. Berangkat dari jenis baru ini, dengan entengnya sang pengacara berkelit akan jerat hukum yang dipasalkan. Maka hukumpun kelabakan untuk menyesuaikan. Simak pula uniknya Eyang Subur, betapa kita ikut larut dengan ekspresi Adi Bing Slamet saat membeberkan “dosa-dosa” mantan guru spiritualnya itu? Dalam beberapa minggu kemudian, muncul “Eyang” Sigit yang mencoba menetralisir pembeberan Adi tersebut. Dengan entengnya pula sang Eyang ini membeberkan kalau “berkat” polesan Eyang Subur, dia (Eyang Sigit) insyaf total dari dunia hitam yang pernah ditekuni sebelumnya. Siapa yang benar? Ah… itu sih urusan mudah.

Simak kontradiksi di atas, jelas bukan hal baru kan? Setiap ada aksi akan muncul reaksi. Antara aksi dan reaksi ternyata sama-sama membawa amunisi pembenaran. Ajaibnya, amunisi pembenaran itu tidak jarang membawa kepentingan atas nama kebenaran. Lebih ajaib lagi, lembaga yang memiliki legitimasi untuk menentukan pembenaran itu sebegitu ringannya tercibir, baik karena memang lembaga itu sendiri yang mulai hilang pamor atau memang kita yang mulai terkikis nilai “tawaddu’nya” akan aturan yang ada.

Fenomena Apa Ini?

Kalau toh benar telah terjadi pergeseran pemahaman akan hidup, itu sah-sah saja, karena hidup memang harus berubah. Mungkin inilah yang dikatakan fenomena selebriti. Selebriti adalah sesuatu yang menarik, selebriti adalah kaum the have, selebriti adalah terdepan, selebriti adalah prestisius! (pengertian ini adalah pemaknaan penulis sendiri). Aurora selebriti yang semacam itu seharusnya tersandang untuk mereka yang “hebat” seutuhnya. Tapi apa lacur, ukuran “hebat” ini sudah terkotak-kotak. Jangan berharap kita bisa mengkuliti seorang seleb dari sisi yang bukan bidangnya. Maka akan mudah tercounter dengan jawaban “masalah buat lo?”

Selebriti yang seharusnya dalam tataran teladan, sekarang mulai bergeser. Seorang selebriti akan diteladani hanya di bidangnya saja, selebihnya, suka-suka gue! Apakah pergeseran ini berbahaya? Tergantung kita melihatnya. Bagi mereka yang literatur pemahaman hidup ini cukup baik, tidak akan berpengaruh banyak. Bagi yang setengah-setengah akan terjadi kebingungan. Bagi awam, ini yang berbahaya, akan terjadi pengkultusan habis-habisan yang artinya bergerak tanpa logika (sendiko dawuh).

Lihat bagaimana Olga tersedu mengenang Raffi yang sedang di jeruji besi, sementara dia dan teman-temannya sedang merayakan “ultah” sebuah mata acara hiburan di televisi. Padahal sebelumnya, “dosa” (kalau memang terbukti secara hukum) yang dilakukan Raffi adalah sangat tabu di masyarakat? Begitu juga dengan Eyang Subur, ketika ada testimoni seorang artis yang dilecehkan dengan uang agar mau menjadi istri ketujuh, ada yang mati-matian membela bahwa itu adalah hal wajar!

Pergeseran pemahaman ini semakin rumit ketika lembaga yang terakui oleh Undang-Undang sebegitu tumpulnya untuk menjustifikasi benar-salahnya. Bahkan lebih tragis lagi, pergeseran ini sudah terindikasi terskenario dengan indahnya lewat yang namanya “pembentukan opini”. Lengkap sudah kebingungan yang awam rasakan.

Benarkah ini yang dikatakan Roshululloh kalau di suatu waktu nanti kita tak ubahnya seperti buih yang begitu mudah terombang-ambing? Semoga awam masih setia dengan hati yang dimiliki dan menyadari hanya dengan hati, fenomena apapun dapat terbaca jelas hitam putihnya. Karena hati tidak mampu mengkamuflase apapun fenomenanya! Karena hatilah yang menyepakati norma itu,  baik norma dalam bahasa langit maupun norma dalam kategori dunia. Entahlah…….

SELEBRASI

Apa yang belum engkau genggam

Bahkan senyum di sudut bibirpun dari yang terjauh

adalah milikmu

Juga kegelisahan fans untuk membeli gaya

dari tampilan terbaikmu!

Derajat apa lagi yang ingin engkau panjat

Sementara lift kemudahan begitu mudahnya engkau panggil

Terbayangkah terlambaikan tanganmu mengajak, aku?

Atau menyusuri lorong-lorong kesusahan khalayak

Atau tidur sejenak merasakan gigitan nyamuk genit comberan

bawah jembatan

Tuntaskan kepiawaian selebrasimu, agar senyum teduh

yang mengagumimu bisa menjadi penghantar tidur malam

meski sesak menghimpit langkah di hari siangnya

Andai derajat itu mau engkau pinjamkan sejenak

Mungkin warna selebrasi itu akan menemui kesempurnaan

Andai!

*Penulis adalah :

Pemerhati sosial dan praktisi pendidikan

Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: