Festival HAM di Jember Berbeda dengan Sebelumnya

Jember (titik0km.com) – Kabupaten Jember menjadi tuan rumah Festival HAM Internasional 2019, dimana tahun ini memasuki tahun keenam yang digelar oleh International NGO Forum on Indonesian Development (Infid), menurut Sugeng Bahagio yang juga Direktur Ekskutif Infid, Kabupaten Jember menyajikan hal berbeda dari pelaksanaan festival serupa sebelumnya.

“Kali ini ada partisipasi rekan-rekan perusahaan atau dari dunia industri, tahun sebelumnya tidak ada ini, hal kedua yang berbeda adalah dibukanya festival ini dengan acara budaya, yakni tari Bajol Ijo yang dibawakan oleh anak-anak, ini yang menjadikannya lebih berbobot,” katanya menyebutkan salah satu perbedaan itu.

Yang berbeda ketiga dari Festival HAM di Jember adalah dengan adanya wisuda 161 kepala desa yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang HAM, dimana diklat ini berlangsung selama tiga hari yang diselenggarakan oleh Pemkab Jember bekerjasama dengan Komnas HAM dan INFID adalah yang pertama kali di Indonesia.

Bupati Jember dr. Faida MMR menyampaikan pendapatnya, bahwa HAM adalah berbicara tentang kebahagiaan, kerukunan, sejahtera dan keberagaman, hal ini adalah bagian dari prinsip HAM.

Selain itu, terdapat prioritas dalam membentuk konteks HAM. Konteks HAM yang menjadi prioritas kali ini, lanjutnya, adalah negeri yang aman dan rukun. “Memang kita berbeda. Beragam suku, budaya, dan agama. Tetapi, menghargai hak dan menerima satu sama lain ini menjadi prioritas,” kata Bupati Perempuan pertama di Jember ini.

Sedangkan Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyampaikan, Bangsa Indonesia terkenal dengan keberagaman budaya dan tradisi yang menjadi kekayaan tersendiri, dari sabang sampai Merauke dengan ratusan bahasa.

Ini disebut sebagai Bhineka Tunggal Ika. “Meskipun beragam dan berbeda-beda tetap datang ke Jember dengan satu tujuan membangun negeri yang makmur, berkeadilan sosial, bisa menikmati hasil kemerdekaan dan pembangunan Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, HAM sejatinya menasbihkan ada hak atas budaya. Pasal 27 Deklarasi Universal HAM menyatakan setiap orang berhak untuk turut serta dalam kehidupan kebudayaan dengan bebas, menikmati kesenian, dan turut mengambil manfaat ilmu pengetahuan.

Deputi V Staf Kepresidenan, Jaleswari Pramodhawardani, dalam kesempatan yang sama mengatakan, tema yang diangkat dalam rapat pleno HAM di Jember adalah pembangunan daerah berbasis HAM dan berkeadilan sosial melalui pendekatan budaya ini.

“Tentu sangat strategis, mengingat tantangan yang dihadapi saat ini mengharuskan seluruh kepentingan untuk memberikan penekanan lebih pada nilai-nilai HAM berkeadilan sosial serta budaya,” jelasnya.

Menurutnya, Jember dapat memaknai sebuah keragaman. Keragaman tidak lagi menjadi sesuatu hal yang baru. “Tetapi, perbedaan tersebut dapat diakomodir menjadi sesuatu yang indah,” ungkapnya.

Jember juga dapat menjadi ruang untuk bertemunya berbagai keragaman, dengan mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan Festival HAM ke-6 yang berlangsung 19 – 21 November 2019 ini ada 17 sesi kegiatan dengan 81 orang narasumber dan 17 moderator, acara ini juga diikuti peserta dari 33 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, dan juga dihadiri 25 orang peserta yang berasal dari 12 negara.

Selain itu, ada 100 orang anak muda yang menjadi peserta dan relawan. Jumlah keseluruhan peserta sedikitnya seribu orang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: