Gara Gara Suka Bola Ditraktir Fans Fenerbahce

Direktur UJAR UNEJ di Haga SophiaISTANBUL (titik0km.com) – Dapat berkunjung ke Turki bagi Abdul Aziz, Direktur Gerakan Universitas Jember Mengajar (UJAR) adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Selama tiga hari Aziz, mewakili gerakan UJAR menghadiri ajang “International Conference On Innovations and Challenges in Education” yang diadakan oleh Fakultas Pendidikan Dumlupinar University, Kutahya, Turki pada 26-28 April lalu.

Selain mendapatkan pengalaman bertemu, berdiskusi dan saling tukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara, Aziz juga berkesempatan berkunjung ke beberapa lokasi wisata dan yang paling mengesankan adalah dapat merasakan keramah tamahan penduduk Turki. “Saya terkesan sekali dengan keramah tamahan dan sambutan hangat dari masyarakat Turki selama di sana,” ujar Aziz.

Aziz pantas kagum dengan keramah tamahan masyarakat Turki, pasalnya selama di Turki, dirinya yang tidak faham Bahasa Turki banyak mendapatkan pertolongan saat mendapatkan masalah. Contohnya saat dirinya harus menuju ke kota Kutahya, lokasi kampus Dumlupinar University. “Begitu tiba di Istanbul saya disambut kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana. Namun karena kesibukan kuliah, kawan-kawan tidak bisa mengantarkan saya ke Kutahya, hanya mengantar sampai ke terminal saja,” ujar Aziz yang baru pertama kali ke luar negeri ini.

Di dalam bis, perawakan dan wajah Aziz yang berbeda jauh dengan umumnya warga Turki membuatnya menjadi perhatian. Kebetulan Aziz duduk dengan salah seorang warga Turki bernama Chalil Ibrahim yang akan menuju kota Izmir. “Masyarakat Turki itu hangat, terbuka dan ramah. Buktinya kami langsung akrab walaupun lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Tarzan, hahaha,” tutur Aziz sambil tertawa.

Keakraban keduanya bertambah erat saat mengetahui jika sama-sama suka bola. Chalil ini ternyata fans berat Fenerbahce, dan kebetulan lagi televisi di bis menayangkan pertandingan semifinal antara Fenerbahce melawan Benfica pada semifinal piala UEFA. Mereka berdua pun larut dalam pembicaraan mengenai Fenerbahce. Bahkan saat bis harus transit di terminal kota Izmir selama kurang lebih setengah jam, Chalil mentraktir Aziz makan.

“Sebelum berpisah Chalil memberikan nomor HP dan berpesan jika saya mengalami kesulitan agar menghubungi dia. Kami akhirnya berpisah di terminal Izmir. Jadi benar kata orang bahwa ternyata bola memang menyatukan dunia,” kata mahasiswa FKIP ini sambil tersenyum mengingat pengalamannya.

Peristiwa kedua yang membuat Aziz terkesan dengan kehangatan masyarakat Turki terjadi saat dirinya tersesat di Istanbul. “Saya jalan-jalan menikmati Istambul di malam hari, eh malah kesasar, lupa jalan ke apartemen tempat menginap. Untungnya ada penduduk yang menolong saya, bahkan memberikan tumpangan untuk bermalam. Esok paginya saya diantarkan ke apartemen tempat menginap,” kata Aziz mengenang sahabatnya yang hanya dikenalnya dengan nama Mohammed tadi.

Di sela-sela padatnya jadwal acara, Aziz juga menyempatkan mengunjungi beberapa lokasi wisata bersejarah di negara yang separuh ada di benua Asia dan separuhnya di benua Eropa ini. Misalnya saja Masjid Biru, Masjid Al Fatih dan Hagia Sophia. “Banyak pengalaman dan kenangan manis di Turki, dan yang paling penting Gerakan UJAR makin dikenal dan berjejaring dengan kawan-kawan dari berbagai belahan dunia,” pungkas Aziz. (iim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: