Guru di Antara Tuntutan Dan Realita Kemampuan Di Lapangan

Oleh : Akhmad Fauzi*

Salah satu salah tafsir yang berkembang dikalangan pendidik dalam mensikapi penilaian kinerja guru ini adalah adanya anggapan bahwa seolah perubahan sistem penilaian guru ini sebagai konsekwensi logis akan adanya tunjungan profesi pendidik. Sangat disayangkan jika salah tafsir ini menjadi isyu sentral akan keberadaan PKB/PKG yang telah diatur dalam Permendiknas No. 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dampak yang paling tragis adalah adanya pensikapan dari guru sendiri seolah tuntutan penilaian ini paralel dengan tunjangan itu. Iroisnya, seringkali didengar adanya pemahaman (kadang juga penekanan) dari beberapa pihak yang menjadikan penilaian ini sebagai nilai tawar untuk menuntut guru lebih profesional lagi.

Gambaran di atas hanyalah sebagian kecil dari dampak psikologi yang harus segera diklarifikasi oleh semua pihak, baik oleh guru maupun struktur birokrasi yang menangani penilaian ini. Bukan tidak mungkin jika dampak itu tidak segera diluruskan akan menjadi bola salju yang akan menjadi antiklimaks dari tujuan penilaian guru itu sendiri.

1. Permasalahan
Tulisan ini tidak bermaksud mengajak untuk melihat kebelakang apalagi meluncur deras ke depan. Karena kalau kita melihat pada tuntutan jaman, Permendiknas No.35 ini cukup menjanjikan terbentuknya kualitas guru di masa datang. Lihat saja dengan diberlakukannya sistem induksi bagi guru K2 yang diterima menjadi CPNS. Pola induksi ini akan menjadi budaya baru dalam perjalanan birokrasi dan performansi kerja guru dalam beberapa tahun ke depan. Akan terjadi share antar teman, akan terjadi pemagangan profesi, dan lebih penting lagi menjadi penguat image jika proses menuju ke profesi guru tidak lagi semudah yang pernah terjadi.

Namun di sisi lain juga tidak bisa dinafikan jika keteledoran penanganan profesi ini di masa lalu masih cukup berdampak bagi sebagian besar pendidik yang ada sampai detik ini. Contoh yang paling aktual adalah kemampuan penguasaan IT, padahal kemampuan ini hampir bisa dipastikan menjadi syarat utama dalam menerapkan kurikulum 2013. Ketersendatan ini akan berefek domino, baik pada proses pembelajarannya maupun pada akhir penilaian untuk guru itu sendiri. Belum lagi jika bebicara tentang budaya menulis dan mengharuskan menjabarkannya dalam karya tulis. Apalagi masih diharuskan memproses dengan pola menseminarkan hasil karya tulis itu agar bisa menjadi nilai bagi penilaian kinerja guru itu sendiri. Tentu ini agak “asing” bagi budaya kerja pendidik selama ini.

Dua hal di atas merupakan variabel yang tidak terpisahkan dari penilaian guru, menjadi item penentu nilai seorang pendidik untuk menapaki jenjang kepangkatan (dan tentunya juga jenjang karir) selanjutnya. Bisakah guru (pendidik) menatap ini sebagai konsekwensi logis tuntutan jaman akan keprofesiannya? Mampukah mereka berlari mengejar tuntutan itu dengan kondisi realitas kemampuan yang dimiliki? Sementera Permendiknas No.35 adalah amanah dari jabaran UU sisdiknas, sebagai ejawantah konsekwensi logis keprofesiannya.

2. Pentingnya PKG/PKB
Bukanlah hal yang rahasia jika penilaian sistem lama (angka kredit) penuh dengan suara-suara sumbang, mulai dari cepatnya memproses kenaikan pangkat sampai pada menyulap berkas. Mungkin ada benarnya suara sumbang itu karena memang item yang menjadi penilaian angka kredit terlalu global dan kabur. Proses penilaian lebih dilihat dari bendel data yang diperoleh sementara pengawasan akan realitas data itu bisa jadi tidak pernah dilakukan. Gaya penilaian semacam ini melahirkan tuntutan yang bersifat verbal dan bernilai adminstratif, tidak bernuansa proses dan aksi kemampuan riil di lapangan (dalam proses belajar mengajar). Sistem pembalikan penilaian dengan PKG/PKB tentu wajar jika melahirkan keterkejutan bagi sebagian pendidik. Nilai keterkejutan itu justru menjadi energi kebaikan karena akan mengajak untuk berfikir lebih lagi akan profesi yang diembannya.

Kalau kita amati satu persatu item penilaian seperti dalam amanah Permendiknas itu, setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi fokus acuan kerja pendidik.

1. Guru memiliki wewenang penuh untuk menilai awal kemampuan diri, sehingga berhak meminta fasilitas jika ada kekurangan kemampuan.

2. Dari penilaian diri itulah aksi kerja terprogram sesuai item yang ada dalam penilaian. Hal ini akan berimbas pada pemenuhan tanggung jawab administrasi sekaligus pendidik terus berproses untuk menyempurnakan kemampuan yang dimiliki.

3. Dua poin di atas menimbulkan rasa demokrasi dan berkaca pada diri sendiri. Demokrasi karena ada share antara penilai (assesor) dengan yang dinilai (guru), ada tarik ulur pemenuhan kebutuhan yang diperlukan, dan ada diskusi berkelanjutan dalam memproses hasil penilaian assesor. Berkaca maksudnya adalah mampu mengukur diri sendiri dengan realitas kemampuan yang dimiliki.

4. Melahirkan pengawasan yang berkelanjutan baik bagi atasan langsung maupun bagi pengawas sekolah.
Jabaran di atas memberikan bukti jika proses penilaian baru itu begitu penting bagi proses pendidikan secara utuh. Jika proses penilaian itu berjalan dengan baik akan memberikan efek positif tidak saja bagi guru (pendidik) tetapi juga bagi proses birokrasi yang menyertainya. Ritme kinerja guru akan terukur dan pasti sementara pengawasan dituntut berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan regulator mempunyai kewajiban untuk memberikan pemenuhan akan kebutuhan guru. Lebih penting lagi, nuansa item penilaian itu selalu bermuara pada aktualisasi kemampuan guru di kelas.

3. Siapkah Guru?
Admosfir pelaksanaan penilaian ini tentunya tidak bisa serta merta berjalan sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Jika perubahan penilaian ini dilakukan secara frontal seperti yang diinginkan dalam Permendiknas dikhawatirkan justru akan terjadi kegaduhan profesi. Kegaduhan profesi yang dimaksud adalah adanya kebingungan dikalangan pendidik dan ada ketidak-tercapaian dari pengawasan yang dilakukan baik oleh Kepala Sekolah maupun jenjang birokrasi di atasnya. Pensikapan dengan hati-hati merupakan jalan tengah yang sangat mungkin dilakukan.

Dalam gambaran awal tulisan ini telah diuraikan beban psikologi sebagai dampak pemberlakuan sistem PKG/PKG. Adalah kewajiban bersama untuk mengurai beban itu agar segera hilang dalam mindset pendidik. Penghilangan beban itu tidak bisa dengan jalan tegas dan birokratif. Penghilangan itu bisa terjadi jika ada gerakan utuh dari regulator untuk memberikan fasilatas semampunya agar menjadi ajang tarik ulur perubahan diri pendidik.

Jika dipertanyakan siapkah guru? Idealnya guru memang harus siap dengan perubahan penilaian ini. Kapan dan bagaimana? Inilah yang menjadi benang merah untuk ditelusuri lebih arif lagi. Yang pasti, jaman menuntut profesional, profesional berarti ada keseimbangan antara tuntutan dan kemampuan yang ada. Konsekwensi keseimbangan itu bermuara pada mengupayakan adanya sinergitas antara pola pikir, kemampuan, sarana, layanan, dan ketegasan dalam memberikan penilaian hasil kerja. Sebuah tantangan yang tidak ringan bagi semua pelaku pendidikan dalam mensikapi sistem baru penilaian guru ini.

4. Refleksi
Sering kita dengar jargon jika seolah-olah pendidikan negeri ini tidak akan berubah warnanya sampai satu generasi lagi. Multi tafsir tanggapan akan menyertai jargon itu, karena benang kusut pendidikan yang tergambar beberapa tahun lalu tidak berasal dari sebab tunggal. Variabel sebab saling kait-mengkait sehingga menjadi timbunan beban sekarang. Biarlah itu fenomena silam, sebagai bentuk kekeliruan bersama.

Menatap jauh ke depan lebih menjanjikan dan pasti. Karena memang pendidikan bukanlah proses sederhana dan berbatas waktu. Pendidikan pun tidak bisa diukur hanya lewat hasil, karena proses perlu juga dilihat. Melihat proses berarti melihat piranti yang ada, pemenuhan piranti itulah yang sekarang harus disegerakan agar konsep pendidikan yang diamanatkan dalam UU sisdiknas menemui kepastian hasil. Bisa dalam Reformasi Birokrasi bisa juga dalam tahap demi tahap asal proses pentahapan itu saling terkait dan integral.(*)

Kertonegoro, 4 Pebruari 2014
*Penulis adalah Guru SMP NEGERI 2 JENGGAWAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: