Hidup Adalah Polemik

Oleh : Akhmad Fauzi

Allah SWT, Maha Benar denngan segala kesempurnaan ciptaanNya. Gerah hati dan fikir manusia jua yang kurang sabar dalam melihatnya. Seharusnyalah kesempurnaan kuasa Tuhan ini menjadi luluhnya ambisi untuk segera bersimpuh menuju kesadaran hamba yang dhoif, bukan semakin mempertanyakan seakan bisa untuk melakukan.

—–***—–

Ketika penulis menunaikan sholat Jum’at di sebuah tempat, di pinggiran kota Jember (yang menurut pantauan sekilas penulis “kebanyakan” warganya berpikiran polos) sang Khotib dengan lantang menyerukan agar ummat kembali bersatu. Dengan bebagai dalih dan tafsiran beliau, perpecahan bukanlah ruh Islam. Yah, saat itu belum genap satu minggu PILKADA Jember usai dilaksanakan. Jeli benar sang Khotib membidik tema tersebut; minimalis dalam berfikir tapi mendunia pandangan hatinya.

Seusai sholat Jum’at, kelantangan kebenaran sang Khotib mulai mengusik. Apa ya benar perbedaan itu musti pecah? Apa nggak seragam itu yang justru akan menimbulkan pembusukan yang berakhir pada pembebekan? Padahal di tengah-tengah pembebekan itulah “gaya lama” dan “gaya baru” sering tumbuh subur, lebih-lebih di rel birokrasi.

Filosofi sang Khotib dengan segala imbas polemiknya bukanlah hal baru di jagad ini. Selama manusia masih memiliki kepentingan, segala kebenaran bisa dipolemikkan. Tapi ada satu keadaan (menurut orang bijak) di mana tidak akan terjadi polemik, yaitu ketika budaya pembenaran yang salah sudah merajalela. Karena kebenaran tidak akan ada lagi.

Dinamika polemik kebenaran yang disuarakan sang Khotib, dapat dipastikan akan menjadi realitas dalam hidup ini. Konon, ketika Merapi akan meletus (beberapa waktu yang lalu), almarhum mbah Marijan bermain-main dengan polemik itu, antara harus turun gunung dengan resiko terjadi letusan yang dahsyat (karena marah ditinggal sang penjaga) atau tetap merayu sang gunung agar tidak meletus meski beliau akan jadi korban (maaf agak klenik, dalam banyak ulasan di media, demikian beliau selalu menyampaikan, sehingga dipilihlah beliau bersikukuh mengabdi sampai akhir hayatnya).

Maka, ketika PKL ditertibkan dengan dalih demi memelihara kenyamanan umum, semoga masih tetap tergambar dalam polemik sang penertib kalau harus ada jalan keluar untuk kelanjutan uang saku sang anak kaki lima nanti. Ketika hampir 100% (dengan biaya milyaran rupiah) sebuah proyek mendekati kerampungan sehingga terjadi euphoria kebanggan, semoga terjadi polemik di situ; “ach, itu sih belum seberapa, wargaku masih butuh yang lebih lagi, tunggu saja gebrakan yang lain”.

Ketika sebuah kebijakan mulai berkonsep mendunia, harus dipastikan ada polemik, jika jangan-jangan masih ada rakyatku yang belum pernah tersentuh modernitas. Atau, ketika nilai kekayaan sudah sampai ke titik melimpah, sampaikan juga dalam polemiknya; “bagaimana dengan mereka yang belum tentu satu tahun sekali dapat beli baju, walau lebaran sekalipun”.

Ketika ada “isu” (sekali lagi isu) guru disergah pejabat, mohon diyakinkan dalam polemik; bahwa guru juga manusia, anaknya juga, rupanya (mungkin) mereka rindu untuk dibelai.

Ketika ada juga fakta bahwa statemen berbuah gugatan, semoga masih ada harapan untuk berpolemik. Teriakkan dalam polemik itu kalau ternyata “pembisikku” kurang elegan dalam menafsirkan penyataan yang ada. Atau (ini yang sudah lumrah di mana-mana), ketika staf melapor yang serba baik, gemakan dalam naluri polemik pejabat; bahwa sebenarnya di laci meja kita ada yang lebih valid laporannya, sembari bergumam “lu kok gitu sich, ya sudah kalo itu mau lu. Semoga wargaku masih mau mengajakku ke jalan surga”.

Ketika pembaca membaca tulisan ini, semoga tidak saja mengamini tetapi juga mempolemikkan; ternyata beban pemimpinku meliputi segalanya, tidak ringan, tidak bisa segarang saat kampanye. Syukurlah, tidak semua harus menjadi pemimpin. Ternyata, ketika kebenaran sang Khotib berpolemik, miniatur gerahnya hidup negeri ini ada di dalamnya dengan segala nuansa harapan kebaikan jua.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 15.45, berarti hampir dua jam aku mengupas polemik ini. Terbayang melelehnya air mata mbak Ay Mahening yang harus rela berpolemik kehilangan teman karibnya. Terbayang pula manisnya mbak Esther yang beberapa waktu lalu sempat aku pinjam sebentar untuk berganti kernyitan dahi. Sangat terbayang polemik pula, menangiskah aku jika harus kehilangan (mbak Esther) teman diskusi satu ini?

Hidup Polemik! Bebaskan berpikir kita! Biarkan kebenaran yang menyatukan. (*)

Kertonegoro, 30 Januari 014

Gambar dari jannatulmawa.cc.cc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: