Hindari Gaya Hidup Tidak Sehat

Oleh : Falihah Dzakiyah*

Pergaulan bebas rupanya masih menjadi persoalan paling rumit khususnya bagi remaja. Berbagai kasus yang di timbulkan dari aturan pergaulan yang tidak sehat ini bisa dikatakan sangat memprihatinkan, sebut saja kasus perkosaan di Jember beberapa waktu yang lalu dan menimpa seorang siswi kelas 3 SMP oleh seorang pemuda yang dilakukan setelah korban dicekoki minuman keras, hingga tidak sadarkan diri. Namun ironisnya, bukan malah pemerintah melarang peredaran minuman keras tetapi malah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Ini berarti Mihol boleh beredar dengan peraturan.

Pergaulan bebas ini pun juga mampu menarik perhatian seorang Menteri Kesehatan RI Nafsiyah Mboi, hingga muncul pernyataan aneh yaitu pacaran ‘sehat’. Menurut beliau, dalam berpacaran harus saling menjaga, tidak melakukan hal-hal yang berisiko. Masa remaja adalah masa yang tepat untuk membekali informasi, penguatan mental, dan iman dari keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar, sebelum mereka mulai aktif secara seksual (antaranews.com, 13/07/2012).

Pernyataan Menkes ini tidak malah menghentikan pergaulan bebas malah melegalkan hubungan pacaran diantara muda-mudi, padahal berawal dari pacaranlah mereka akhirnya terjebak dalam jeratan pergaulan bebas,akibatnya ada pelajar yang hamil di luar nikah, tingginya angka aborsi, dan meningkatnya jumlah pelajar putus sekolah karena menikah.

Dalam sistem kehidupan yang serba bebas dan sekuler saat ini, kebebasan berperilaku begitu diagung-agungkan. Negara pun kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskan untuk mengakomodir semua kepentingan dan kelompok, termasuk kelompok para kapitalis dan liberalis. Akibatnya, benar dan salah menjadi kabur, halal-haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret ‘orang baik’ untuk berbuat maksiat dan pelaku maksiat semakin kuat.

Di sisi lain, tindakan gaul bebas sebenarnya tak bisa dilepaskan dari banyaknya rangsangan seksual. Sebab, sebagai manifestasi dari naluri manusia, kecenderungan kepada lawan jenis pada umumnya muncul apabila ada rangsangan. Sebaliknya, bila tidak ada rangsangan maka dorongan seksual kepada lawan jenis tidak muncul. Banyaknya sarana yang merangsang munculnya naluri seksual memang tak bisa dilepaskan dari sistem sekuler liberal yang saat ini diterapkan.

Dengan sudut pandang ini, maka yang perlu dilakukan tentu bukan saja membentengi individu dengan pemahaman yang benar melalui penanaman nilai-nilai agama saja. Namun, diperlukan pula upaya lain untuk mencegah munculnya rangsangan bagi kecenderungan kepada lawan jenis tindakan meminimalisir semua bentuk rangsangan. Sebab, betapa banyak muda mudi yang sebenarnya mengetahui bahaya bahkan dosa di hadapan Allah SWT akibat gaul bebas, namun ternyata mereka terjerumus juga. Itu terjadi karena derasnya arus rangsangan di lingkungan sekitarnya sehingga mereka tidak kuasa menolak dan menahan gejolak jiwa yang mulai terpengaruh.

Oleh karena itu, persoalan mencegah munculnya rangsangan harus menjadi perhatian semua pihak. Karena masalah pergaulan bebas remaja ini akan berpengaruh pada moral generasinya, jika moral generasi ini rusak maka rusaklah negaranya, karena generasi adalah asset bangsa.Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki remaja yang berkualitas Indonesia memiliki remaja yang berjumlah besar, jangan biarkan mereka hancur karena pergaulan bebas dan tindakan kriminal lainnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: