Ini Musim Debt Collector

Oleh : Akhmad Fauzi*

Peringatan bagi yang lagi nunggak! (utamanya untuk automotif wa bil khusus roda dua). Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mejeng dengan tunggakannya itu. Tahan dulu, paling-paling musim itu hanya berumur satu sampai dua minggu. Kalau kurang percaya, bisa anda coba terobos peringatan ini, saya jamin gerombolan lelaki kekar berambut gondrong akan siap menghardik (bisa jadi lebih kasar lagi).

Musim Debt Collector telah tiba, bukan satu dua mata yang akan jelalatan menatap hilir mudiknya pengendara dipinggir jalan. Bahkan bisa jadi puluhan pasang mata (kebanyakan berkacamata gelap) memoloti dan tidak ada senyum sedikitpun.

Kira-kira 15 kilometer perjalanan saya siang itu, tiga kejadian terjadi di depan mata. Pertama dua sejoli yang sedang mengantarkan sedekah maleman (istilah di desa saya). Tanpa ba bi bu, dipaksa berhenti oleh dua speda motor yang berarti empat orang yang berperawakan atletis, tegap, tinggi, sayangnya sedikit kumuh! Bak polantas, dipaksa sejoli itu mengeluarkan STNK-nya, sementara seorang lagi langsung mengambil kunci speda. Tanpa merasa berasalah, empat pemuda tegap itu memeriksa body dan mesin speda motornya. Masih nampak jelas di ingatan saya, betapa gemigilnya pasangan itu.

Kedua, seorang ibu dengan anak yang masih seusia SD. Kejadiannya hampir sama, bedanyanya, sang ibu sempat membantah, meskipun di spion saya sang ibu itu harus takluk juga, sama dengan pasangan sejoli tadi. Yang terakhir rada lain, seorang perempuan, masih belia, belasan tua umurnya (kira-kira). Mungkin merasa benar, hingga perdebatan dipinggir jalan itu dimenangkan si perempuan. Sayangnya, tanpa merasa bersalah sang penagih (atau tepatnya apa ya?) ngeloyor pergi begitu saja.

Kok saya tahu sampai sedetil mungkin, kebetulan saja mungkin. Mungkin juga saya termasuk yang sangat tidak setuju dengan gaya “penagihan” semacam itu!

Konon katanya, di belakang laki-laki tegap itu ada (oknum) aparat, bahkan saya pernah diberitahu oleh keponakan saya, yang aparat juga, kalau gaya penagihan itu sudah dilegalkan (dibacking-i) oleh (sekali lagi oknum) aparat yang punya cukup pengaruh di wilayah itu.

Agar lebih objektif, saya informasikan kalau kendaraan saya semua tidak memiliki masalah dengan angsuran. Yah, walaupun cukup sederhana tapi lunas total saat di beli.

Kasihan sekali, hukum harus di jalanan tak terawat. Dipelihara, tanpa ada yang mau menggugatnya!

Benar memang : ANJING MAKAN KUCING, KUCING MAKAN TIKUS, sayangnya… TIKUS HANYA BISA MAKAN sisa-sisa, sembunyi-sembunyi pula.

Selamat malam, hukumt Tidurlah dengan nyenyak malam ini. Ingat, besok engkau harus lari-lari lagi di jalanan, di musim ini, musim penagih jalanan. Di mendekati lebatan dan tahun baru.

Jangan lupa sapa kolegenya yang membackingi, atur pembagiannya ya, biar tidak ada yang berkicau macam-macam. Enakkan engkau bisa hidup di negeri ini?

Kertonegoro, Dini hari di awal bulan Agustus pada tahun 2013

(gbr. dari : blogarsena.blogspot.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: