Jangan Takut Jadi Kaya

Oleh : Agus Susanto*

Menurut Wikipedia ensiklopedia bebas didunia maya, Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.

Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup: Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.

Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan diluar profesi secara halal.

Beberapa hari ini saya mengikuti seminar dan workshop tentang data kota saya Jember dalam menghadapi era globalisasi Jember menyongsong Asean Economic Community 2015 dan workshop kemitraan pemerintah dan dunia usaha/industri dalam upaya penanggulangan kemiskinan dikabupaten Jember tahun 2013. Data yang diberikan oleh pemateri bapak Kresnayana Yahya dosen dan pakar statistik di Institut Teknologi Surabaya dimulai dari negara-negara besar didunia yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Dilanjutkan dengan data dari beberapa kota di Indonesia dan sampai juga ke data kota Jember beserta kecamatan dan desanya lengkap.

Ternyata data yang diberikan banyak memberikan sebuah fakta bahwa di kota Jember masih banyak penduduknya yang hidup didalam garis kemiskinan.Beberapa hari setelah seminar tersebut dilanjutkan dengan workshop bagaimana cara pemerintah kabupaten bersama pelaku dunia usaha dan industri didalam menanggulangi kemiskinan di kota Jember.

Ini berarti bahwa pemerintah kabupaten Jember tidak tinggal diam saja didalam menghadapi kenyataan tersebut. Sadar tidak bisa bekerja sendiri dan memang masalah kemiskinan ini bukanlah tanggung jawab bupati dan pemerintahannya sendirian, melainkan semuanya itu adalah menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan warga Jember, maka bersama para pengusaha, BUMN, BUMD, Perbankan dan pelaku industri langsung mengadakan suatu jalan keluar untuk menghadapi keadaan kemiskinan yang ada di kabupaten Jember.

Sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah sangat dibutuhkan disini.pelaku usaha dengan keuntungan yang didapat dari hasil usahanya diharapkan tidak menutup mata kepada keadaan sekelilingnya yang memang membutuhkan uluran tangan dari para Taipan dan pimpinan perusahaan beserta Usaha Dagang dan Perseroan Terbatasnya. Ada tiga type pengusaha didalam memandang sinergi antara dunia usaha dan dunia sosial bahkan dunia spiritual.

Pertama type polar, polar yang berarti kutub, antara dunia usaha dan dunia sosial serta dunia spiritual adalah dua dunia yang sangat berbeda. Seperti kutub Utara dan kutub Selatan. Kalau bekerja ya bekerjalah dengan segenap hati dan sekuat tenaga. Kalau harus berbagi dengan kegiatan sosial dan spritual? Tunggu dulu, karena harus dihitung laba rugi dan berbagai neraca yang membuat staff perusahaan pusing.Untuk kelangsungan perusahaan bisa bernafas saja hebat, lalu koq masih mau berbagi dengan sosial dan komunitas spritual ?

Kedua type balancing, tipe seimbang antara dunia usaha dan dunia sosial serta dunia spiritual. Pengusaha type ini jikalau mendapatkan keuntungan selalu berusaha untuk berbagi dengan yayasan sosial dan tempat-tempat ibadah sesuai dengan agama dan amalannya.

Ketiga adalah type integrasi, tipe ini menempatkan pengusaha dilevel sosial entrepreneurship. Pengusaha yang mau dan rela untuk berbagi dan memberi kepada Tuhan dan sesama dan sadar bahwa semua hasil keuntungan dari dunia usaha dan industrinya itu adalah semata-mata berkat daripada Tuhan dan seyogyanya berkat itu juga harus di berikan kepada yang membutuhkan. Tanpa harus ditakut-takuti atau harus di tarik-tarik.

Lantas dimanakah posisi yang harus saudara dan saya ikuti? Kalau posisi tipe pertama yang saudara pilih, saya yakin ada banyak keuntungan materi yang bisa ditimbun didalam dunia usaha saudara. Dan pastinya dengan sendirinya diposisi ini akan disebut dengan orang kaya. Tipe ini yang selalu merasa kurang kaya dan kurang kaya dan sekali lagi kurang kaya kalau dibandingkan dengan yang lebih kaya lagi dari orang tersebut. Kalau ditanya selalu berkata “rugi” dan jarang berkata “untung”.

Di posisi tipe kedua adalah posisi yang sadar diri, tapi masih maaf selalu berkata, “Kalau nanti saya ada berkat atau keuntungan, saya akan memberikan sesuatu kepada … bla .. blaa .. blaa .., type orang yang penuh dengan janji dan penuh dengan harapan. Berkat diibaratkan bermain lotere. Kalau orang ini memberi selalu bertanya kembali “Aku dapat apa?”

Posisi ketiga adalah posisi yang “paling bodoh” karena selalu berkata semua hasil yang didapat adalah hasil daripada berkat Tuhan, dan sudah selayaknya harus dikembalikan lagi kepada Tuhan lewat sesamanya. Kalau dihitung secara materi, tipe ketiga seharusnya tidak bisa menjadi kaya, tetapi kacamata Tuhan bukanlah kacamata kita. Terlebih berkat memberi daripada menerima. Lihat apa yang akan Tuhan berikan kepada kita di posisi yang paling suka untuk memberi ini. Pada posisi ini kekayaan bukanlah hanya sebuah kekayaan materi saja, tapi kekayaan yang utuh penuh karena didalamnya ada kasih, ada cinta, ada rasa syukur, ada rasa memberi dan ada rasa iklas! Kekayaan yang sempurna dan kekayaan akan materi akan datang sendirinya kepada orang-orang di posisi ini.

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Suatu hal yang sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain daripada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. Setuju? Semoga bermanfaat! (*)

*Agus Susanto ([email protected])

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: