Jejak yang Hilang di Pilpres 2014

(Renungan Malam Jum’at: “Terjepitnya Dua Kandidat di Minggu Kecepit”)

Oleh : Akhmad Fauzi*

Ada yang selalu mempopulerkan “jasmerah”, meski harus membedakan “merah” yang mana. ada juga yang fasih menarik garis lurus keterikatan dengan “jasmerah”, lengkap dengan catatan-catatan. Sayang, keduanya lupa jika sejarah tidak harus didewakan ataupun dijelaskan tanpa hikmah. Lebih konyol lagi, masing-masing tutup telinga jika hidup ke depan adalah proses perbaikan.

Ketika langkah harus dibuka dengan tidak sewajarnya atau membiarkan diri dipotret dengan tidak benar, itulah awal energi diri disibukkan untuk menangkis ekor rumbai-rumbainya. Bisa dipastikan tangkisan itu akan membentuk kerucut rumbai baru lagi, padahal jalan pintas yang paling memungkinkan adalah menyatakan salah dan berani meminta kerelaan untuk diberi kesempatan benar.

Negeri ini bukan sedang bermain drama, hentakan langkah puluhan tahun yang menguras makna perjuangan tidak boleh dipandang sebagai warisan yang tiba-tiba ada. Tidak juga hanya satu dua sosok yang lebih mengemuka, juga tidak harus menganggap ada elemen yang lebih mulia. Keterputusan mensikapi hal inilah yang menjadi bibit lahirnya keterasingan pada makna langkah diri dalam perjalanan melukis negeri. Seakan tidak pernah ada coretan yang dituliskan dalam kanvas besar negeri.

Sangat bagus berniat membangun negeri dengan kekokohn idelisme, tetapi jangan pernah mencoba suara kekokohan itu hanyalah gincu semata. apalagi menggiring opini untuk membuat jarak dengan yang lain. Robohnya bangunan lebih pada kesalahan memulai langkah saat meletakkan pondasi perjuangan. Menghembuskan keterseokan orang lain untuk menjadi tangga kemulusan singgasana hanyalah emosi yang mudah dibaca dalam langkah selanjutnya. Menutup efek hembusan itu ketika istana direngkuhnya lebih sulit rasanya.

Korelasi keberlangsungan sejarah merupakan konsekwensi logis untuk ditatap sebagai rasa syukur, bukan untuk dikebirikan bukan pula untuk dinafikan. Kini mulai terasa seolah sejarah lalu adalah kelam, karena diri pernah terpinggirkan oleh keadaan. Berbahaya sekali jika hal ini menjadi pintu masuk untuk mengumpulkan pundi keberpihakan agar tercapai tujuan kekuasaan. Konyol, jika negeri ini harus dibesarkan dengan menindih dan menindih.

Kepandaian menatap arti kekuasaan sejatinya sudah harus pada taraf kesempurnaan langkah yang tertuang dalam konsep yang dimiliki. Tetapi mengapa sistem publik relasinya selalu bersaura lain? apakah memang demikian wacana perumusan yang menjiwai konsep itu? Atau ada strategi siluman yang memang disengaja digulirkan untuk melempangkan sayap konsep yang ada. Sejujurnya, jika perhelatan ini nantinya memporak-porandakan sendi-sendi moral bangsa, maka sangat logis jika keduanya harus berani berebut salah!

Sakit hati seperti apa hingga harus memaksa menutup kemungkinan yang lain bisa benar? Langkah negeri yang mana yang harus digugat setinggi langit? Apakah karena saya tidak dalam takdir dilingkaran kemelut itu, sehingga semudah ini menatap pergerakan negeri? Apakah justru bukan karena tersiksanya saya yang terlalu sering melihat kemelut itu? Pentas kemelut hanya dirasa ditataran atas, bawah sejatinya tidak akan pernah melihat keculi setelah merasa menjadi akibat.

Pergerakan langkah sang kandidat semakin hari semakin terjepit, meliuk-liuk berkelit-kelit. Di minggu kecepit ini aurora pelik semakin menyesakkan suara kebesaran keduanya. Sementara sang pencerah tidak juga kunjung turun di arena. Mengapa? Bukan karena tidak ada pencerah itu, bukan pula semua telah terjun mencarutkan arena. Bukan! Lebih karena warna negeri sudah semakin sulit mengenal lagi jejak-jejak sejarah, seakan sejarah dibangun bergelombang dalam rupa berbeda. Jejak-jejak yang hilang, hangus atau memang sengaja diberangus.

Penggugatan media, pencibiran langkah karena memutuskan hak berpihak, meninggikan citra sampai pada penohokan esensi kemanusian yang dimiliki, mengalir deras menjadi amunisi penguakan-penguakan. Sejarah lalu ditatap secara parsial seakan pernah perjalan sendiri tanpa ada kewajiban moral untuk menjaga marwah sejarah itu.

Jejak yang hilang
Menyisakan cemberut wajah geram
Menjadi hiasan panggung kemanusian
Kadang ditatap sebagai virus
Tidak jarang disesal-sesalkan untuk pemulyaan

Ini bukan masalah status quo dan quo vadis
Bukan pula perang melawan penculik
Bukan karena bergeliat ingin keluar dari pencitraan
Bukan
Bukan sedang bermain sandiwara

Inilah letupan dari sebagian kecil yang tidak percaya
Jika negeri ini harus diisi sebagai bangsa
Melihat ke belakang sebagai makna
Menatap ke depan sebagai kesatuan jiwa

Jejak-jejak yang hilang
ditelan mereka dengan gaya seolah-olah
Yang ingin negeri ini gerah
Dengan justifiksi yang meriah
Seolah hanya mereka yang terniaya

Padahal jejak-jejak itu
Yang telah melahirkan mereka
Untuk mengerti perspektif sejarah

Catatan :
Tulisan ini aku persembahkan untuk anak cucu yang ada. Agar mereka nantinya lebih legawa memberi hormat dan salam kepada siapapun penulis sejarah negeri ini. Agar mereka tahu jika pernah ada jejak langkah yang dibaca aneka rupa. Agar mereka tahu jika membangun negeri tidak harus dengan sakit hati. Agar mereka tahu jika negeri ini telah kokoh dan serius membangun persada. (*)

Kertonegoro, 29 Mei 014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: