Jember Jadi Kota Polisi Tidur

Oleh : Feris*

Polisi-Tidur adalah rintangan-halangan sebagai bagian dari fasilitas keselamatan dijalan, yang bertujuan mengurangi kecepatan kendaraan pada titik-titik yang dianggap rawan kecelakaan.

Namun sayangnya, dari tahun ke tahun, penempatan polisi-tidur di JEMBER ini semakin sembarangan.

Dan bukan hanya penempatannya, ukuran dan kualitas polisi-tidur itu sendiri juga semakin tidak memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
Mengenai kesalahan ukuran Polisi-Tidur, salah satu contoh yang mungkin paling terasa adalah ukuran Polisi-Tidur di jalan Melati, tepat sebelum Perlintasan Kereta-Api.

Dan juga masih banyak lagi Polisi-Tidur di Perumahan-Perumahan yang sama-sekali tidak mengindahkan kenyamanan pengguna jalan.
Mungkin bagi saya sebagai pengguna kendaraan roda empat, hal itu tidak terlalu mengganggu, namun saya bisa bayangkan betapa tidak nyamannya jika yang melintasi polisi-tidur tersebut adalah becak, atau sepeda.

Dan hal terbaru yang sangat mengganggu saya adalah..
JEMBER…. ya.. hanya di JEMBER…
Cuma di JEMBER…. terjadi keajaiban dunia…
Jalan Utama… Jalan Protokol…. Ruas Jalan Sultan Agung — Gajah Mada… diberi puluhan polisi tidur…
zzzzzzz…….

Entah apa kajian yang telah dilakukan oleh dinas-dinas terkait mengenai hal tersebut hingga melahirkan keputusan yang super-aneh seperti ini.

Dan entah apa pula yang akan terjadi terhadap penumpang/pasien dalam kendaraan transportasi Gawat-Darurat (ambulan) yang dalam ke-tergesa-gesa-an mereka menyelamatkan nyawa sang pasien, harus mengalami fenomena kuda-lumping manakala melalui poros Jalan Sultan Agung – Gajah Mada.

Tulisan ini hanyalah uneg-uneg saya sebagai warga asli Jember, yang telah puluhan tahun melihat segala perkembangan dan juga beberapa kemunduran kota Jember. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: