JFC Jember Banget Ya

Oleh : Akhmad Fauzi*

Dua tahun terakhir ini, rasanya menjadi sejarah emas bagi warga Jember atau yang pernah lahir di Jember. Rasa bangga yang selanjutnya menjadi kepercayaan diri mulai nampak di wajah masyarakatnya. Ketika saya menulis artikel “MELUKIS JEMBER” tegas saya katakan bahwa BBJ, yang salah satu rangkaiannya adalah JFC ini, adalah kerja brilian dari Bupati M.Z.A Jalal. Namun, sebrilllian apapun momen ini tetap perlu di jaga hal yang mendasar dari nilai-nilai lokal yang ada (lihat link ini : http://www.titik0km.com/melukis-jember.html).

Bukan saya apriori akan budaya luar (utamanya luar negeri), tetapi ada rasa empati yang tinggi jika gebyarnya JFC (yang konon sudah mendunia ini) harus meninggalkan budaya lokal sendiri, khususnya budaya yang ada di Jember.

Jujur saya katakan, sebagai “wong asli Jember”, setiap kali saya melihat event ini ada rasa yang aneh memang. Apakah ribuan penonton lain juga begitu? Entahlah! Yang jelas seolah saya merasa bukan di Jember ketika melihat wahnya event ini. Kolaborasi antara gaun dan hentakan langkah sampai pada mode gaun yang dipakai (tentunya dipoles pula dengan make up) benar-benar serasa di luar angkasa. Mungkin karena saya bukan ahli mode (alias jadul) atau memang saya terlalu kritisnya pada gejala sosial yang ada, sehingga saya merasakan hal ini.

Dalam artikel di atas, saya menulis pula bahwa Jember masih perlu warna, sementara sejarah membuktikan bahwa warna budaya akan lebih bisa diterima (dan tentunya lebih abadi) dari hasil akulturasi ragam budaya yang sudah ada di daerah sendiri. Betapa penting poin dari budaya sendiri ini, karena di dalamnya ada keikutsertaan emosional dan sejarah bagi daerah tersebut. Jika rasa emosional dan sejarah itu cukup familier di kita, warga Jember, bisa di prediksi akan mendapat tempat di hati mereka.

Jember, sebatas kajian saya memang cukup unik. Boleh dibilang semirip Jakarta. Warga urban cukup banyak yang sudah menjadi warga Jember. Penetrasi budaya yang dibawanya menimbulkan konsekwensi logis untuk menjadi warna budaya baru. Satu contoh saja, Jember bagi masyarakat di pulau Madura dianggap sebagai “saudara kandung”, karena begitu banyaknya warga kepulauan itu yang sudah menjadi warga Jember. Hampir bisa dipastikan (maaf tidak ada data yang valid karena saya belum menemukan hasil penelitiannya) di setiap komunitas warga pasti warga pendatang ada di dalamnya.

Mengapa potensi dari potret meriahnya warna warga ini tidak pernah di gali untuk memunculkan budaya baru yang akhirnya menjadi ikon budaya Jember. Andai selama rentang jeda tiga empat tahun ini pihak pemda dan juga komunitas JFC mau menggali, tentu sudah ditemukan warna itu. Yah, mungkin masih belum sekarang.

Yang pasti, realitas kini adalah, Inovasi karya cipta mode di JFC memang sudah menggaung di seantero nusantara. Tetapi saya termasuk yang curiga, jangan-jangan ini karena adanya campur tangan media dan gencarnya promosi sehingga mampu bersuara sehebat itu. Kecurigaan ini dilandasi rasa tidak rela jika jerih payah yang dibangun saat ini tiba-tiba hilang seiring menjauhnya greget event ini. Kecurigaan yang tidak perlu diperuncing dengan mementalkannya seolah-olah saya anti perubahan lewat JFC.

Konten kecurigaan saya berdasar pada sejarah kota ini yang selama berahun-tahun masih sulit menemukan warnanya. Masih ingat breakdance kan? Ternyata tidak lebih seumur jagung, karena dasar nilai lokal sama sekali tidak diberi tempat. Sebenarnya saya rada berharap banyak dengan musik patrol yang sempat beken beberapa tahun lalu. Tetapi sayang, meskipun diupayakan pemda dengan menggait perguruan tinggi terbesar di jember ini masih terlalu lama musik ini untuk tumbuh dan menggema. Hal ini bisa jadi karena media dan promosi tidak terlalu dilibatkan.

JFC boleh jalan terus kok, karena realitanya animo masyarakat begitu antusias. Terpetik kabar saat tulisan ini saya buat jika alun-alun kota tercinta kita ini penuh dengan manusia walau hanya sebatas melihat persiapan untuk event besok dan hanya berfoto ria belaka. Masuk pula info dari teman anak saya kalau untuk mengikuti JFC ini harus mengeluarkan sekian ribu hanya untuk propertinya saja. Bayangan genit saya berbicara : “wah, nggak mungkin sudah rakyat jelata mampu untuk ikut merasakan melenggok di festival ini”.

Kecurigaan dan kegetiran saya ini sedikit terobati dengan berita tentang diikut sertakannya “mantan pasien bibir sumbing” yang difasilitasi penuh oleh panitia (http://www.titik0km.com/defile-mantan-pasien-bibir-sumbing-di-jfc-12.html). Berita ini sedikit menjadi obat gelisahnya hati akan kekhawatiran eksklusifnya event ini.

Apapun warna JFC, saya sebagai warga Jember tetap mendukung acara ini. Hanya saja tingkat dukungan itu harus saya bumbui dengan rona analisis fenomena sosial yang ada sebagai bentuk tanggung jawab untuk ikut memelihara kratifitas yang sedang di gali lewat JFC. Selamat ber-event. (*)

Kertonegoro, 3 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: