Just In Time

Just In Time

Oleh : Agus Susanto*

Tumpukan dus terlihat meninggi, seolah memang menunjukkan bahwa memang stok yang ada digerai itu memang siap untuk didistribusikan kepada konsumen-konsumen yang membutuhkannya. Kaleng-kaleng biskuit aneka merk berusaha menarik perhatian calon konsumen. Demikian juga dengan jejeran botol-botol sirup beraneka warna siap untuk dipinang kedalam rumah-rumah konsumen semua.

Manekin, atau boneka pajangan busana sudah tampil cantik dan ganteng, karena tubuhnya sudah dibalut dengan fashion terbaru untuk menyambut peak season kali ini. Setiap kali setiap tahun pandangan tersebut memang tidak pernah berubah bahkan cenderung semakin baik dan semakin bervariasi aneka makanan dan minuman juga busana yang ditawarkan. Bukan cuma satu dua sampai sepuluh merek yang bersaing di rak-rak etalase display,melainkan sudah mencapai ratusan merek.

Momen peak season, seperti kali ini menyambut Hari kemenangan yaitu Hari Raya Idhul Fitri, selalu ditunggu dan ditunggu oleh banyak pelaku usaha untuk meraup hasil yang lebih besar daripada bulan-bulan lain didalam satu tahunnya. Para pengusaha baik skala kecil sampai skala besar seolah berlomba ke arah satu tujuan dan finish nya di tujuan itu juga.

Banyak dari pengusaha-pengusaha tersebut sudah berjalan bahkan berlari kearah yang benar tujuannya tapi tidak sampai finish ke tujuan tersebut. Apakah tujuan tersebut? Hampir semua pengusaha berpikir untuk menyediakan kebutuhan barang-barang untuk dijual dan barang-barang tersebut harus habis. Mengenai keuntungan dari penjualan tersebut sekarang ini sudah  bukan lagi menjadi urutan di angka pertama melainkan sudah ada di urutan angka kedua bahkan angka ketiga dari prioritas tujuan tersebut.

Coba kita semua perhatikan, banyak barang makan minum yang terjaring razia di bulan peak season ini. Tanggal kadaluwarsanya sudah dekat bahkan tidak sedikit pula yang tanggal kadaluwarsanya sudah lewat sampai berbulan-bulan.Tumpukan baju dan dan banyak busana yang ditaruh di boks bertulisan “Sale” dan bukan lagi dipakai oleh manekin boneka pajangan busana tadi. Itu menandakan bahwa busana-busana tersebut sudah siap di obral habis-habisan. Discountnya pun tidak main-main.Hampir rata-rata diatas 40 persen.

Dan memang momen-momen seperti Hari Raya dan peak season lainnya adalah saat yang tepat untuk dalam tanda kutip membuang stok-stok yang sudah kadaluwarsa baik dari sisi tanggal maupun kadaluwarsa dari sisi tren mode dan designnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena stok yang ada melebihi dari penjualan yang sesungguhnya, jadi ada kelebihan barang-barang yang tidak laku, yang pada akhirnya barang-barang tersebut menjadi kadaluwarsa dan menjadikan banyak pengusaha mengalami kerugian besar. Baik dari segi waktu maupun kerugian dari segi biaya dan dana.

Sekarang kita lihat dari sisi yang berbeda,dilihat dari sisi konsumen tumpukan barang-barang yang dipajang di etalase-etalase toko dan pusat perbelanjaan membuat mata kita menjadi seolah-olah lapar. Semua yang ditawarkan sangat menarik hati,apalagi dengan iming-iming harga yang di obral dan barang yang sangat terbatas. Sehingga ada kesan harus membeli hari ini atau kita ketinggalan momen tersebut.

Akibatnya kita mau tidak mau kita sering terjebak dengan promosi-promosi yang ditawarkan banyak pihak. Lalu tidak sedikit pula dari kita yang ikutan membeli produk-produk tersebut.

Jikalau barang-barang yang dibeli itu memang menjadi sebuah kebutuhan yang sangat perlu saat itu, memang kita mengalami banyak keuntungan karena harga yang cenderung murah bahkan sangat murah. Tapi apakah kita bisa menahan diri terhadap serangan yang lain? Kadang sebuah keinginan juga disebut sebagai sebuah kebutuhan yang harus saat itu juga dipenuhi.

Just in time adalah jawaban dari semuanya tadi. Filosofi Just in time diperkenalkan oleh seorang pengusaha mobil di Jepang bernama Taiichi Ohno. Beliau memberikan inspirasi bagaimana mengatur pekerjaan dengan cepat dan tepat. Semuanya berdasarkan pada waktu yang tepat atau juga bisa disebut menyediakan berdasarkan waktunya. Akibatnya diterapkan just in time kepada perusahaan mobilnya Taiichi Ohno bisa menghemat berbagai hal yang terjadi didalam sebuah proses produksi. Mengurangi ruangan gudang untuk penyimpanan barang. Menghapuskan segala bentuk waste atau limbah dengan cara melakukan perbaikan terus menerus yang disebut dengan continuos improvement.

Mengadopsi semangat dan filosofi just in time tadi, kita bisa melakukannya didalam segi-segi kecil di kehidupan kita. Coba pengusaha-pengusaha tadi bisa dengan bijak membeli dan menyiapkan segala barang-barang yang dibutuhkan tepat pada waktunya (just in time), dan selalu melakukan pengawasan dan perbaikan secara terus menerus akan kebutuhan stok dan kebutuhan pelanggannya (continuos improvement) maka yang timbul adalah hasil yang maksimal. Tidak ada lagi barang-barang yang tidak laku bahkan tidak ada lagi barang-barang yang sampai kadaluwarsa. Semuanya habis tepat pada waktunya. Penggunaan dana juga bisa ditekan dengan hanya membeli barang-barang yang memang dibutuhkan konsumen. Ingat uang kita ada nomer serinya, peringatan tersebut harus selalu didengungkan di telinga kita saat kita akan membeli barang-barang yang akan kita jual di gerai-gerai kita. Akhirnya kita akan jadi lebih selektif dan bijak didalam mengambil sebuah keputusan.

Didalam sisi kita sebagai konsumenpun perbaikan terus menerus dan pengawasan terus menerus (continuos improvement) harus selalu dilakukan juga. Kadang kita membeli sesuatu barang yang saat itu rasanya sangat dibutuhkan (lapar mata). Tetapi kalau barang tersebut sudah terbeli akhirnya sudah sampai ditangan kita, sering barang-barang tersebut cuma menumpuk digudang dan cuma menjadi limbah saja.

Cobalah bijak didalam segi ini. Karena kalau kita bisa menekan lapar mata dan kita bisa melakukan prinsip just in time ini, maka hasil positif akan sangat terasa sekali. Pengelolaan keuangan sangat terasa lebih baik dan terasa lebih longgar. Karena kita melakukan pembelian dan pengeluaran pada saat yang tepat. Uang kita terasa tidak cepat menguap dan menjadikan uang tersebut bermakna disaat yang dibutuhkan saja. Lalu alirkan uang tersebut kedalam hal yang diperlukan. Dan jangan lupa selalu cek apakah ada aliran uang kepada pos-pos pengeluaran yang tidak perlu terjadi. Jangan sampai ada kealpaan disana. Karena sedikit kealpaan di pos-pos pengeluaran tadi bisa mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Terakhir rasakan kalau filosofi just in time ini kita lakukan didalam kehidupan kita, akan sangat bermanfaat! Untuk segala sesuatu ada waktunya! Semoga bermanfaat! (*)

Agus Susanto – [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: