Kalau Google Bangkrut Hancur Warisanku

Oleh : Akhmad Fauzi*

“Maafkan papa ya mbak, hanya ini mungkin warisan yang bisa papa berikan ke kalian”, kataku dimantab-mantabkan.

Bakda Maghrib, ketika kondisi fikir dalam kejernihan lagi, di ruang tamu.

Dengan menghela nafas dalam-dalam, aku utak-atik lagi laptop itu. Dengan sedikit serius, kedua putri itu, sulung dan putri keduaku mencoba menghayati apa yang aku sampaikan. Kadang melirik ke beberapa web, kadang menatapku dalam tanda tanya.

“Papa harap kalian masih tetap menghargai pemikirin sebagai sesuatu yang tinggi nilainya. Pemikiran adalah ijtihad, mbak. Kalau salah dapat satu pahala kalau benar kamu tinggal mengumpulkan dalam karung syukur hatimu”, ulasku rada panjang.

Kedua putri itu, semakin bingung tampaknya. Tersadari kemudian kalau ternyata bahasaku terlalu berat untuk mereka. Tanpa menghiraukan kebingungan mereka, aku terus saja berucap, “Tapi hati-hati dengan pemikiran, kalau sampai terjadi kemudhorotan, berat resikonya. Bisa-bisa tidak lagi mampu ampunan Tuhan menyanggahnya. Jadi, kuatkan saja keilmuwan yang kalian miliki, asah terus seiring keimanan yang harus selalu kalian minta, keduanya adalah piranti yang bisa kamu panggil untuk menentukan kebenarannya”.

Yah, dialog sore di suatu waktu (lupa aku waktunya). Dialog yang ternyata memiliki arti yang besar bagi diriku sendiri. Aku yakin kedua putriku pun sudah mulai mengerti apa yang aku maksud. Kala itu, aku tutup dengan pemberian pasword untuk semua link yang aku punyai ke mereka setelah aku tunjukkan beberapa tulisanku yang terpampang selama aku belajar menulis ini.

Kini, aku merasa khawatir juga, bukan karena takut mereka tidak mau mengikuti jejakku (maksudnya semangat untuk menuangkan pemikiran), tetapi khawatir, ternyata hampir semua tulisanku dalam bentuk file di internet (kecuali beberapa hasil penelitian dan buku yang sempat aku print out dan terjilid).

Pernah, beberapa bulan lalu, blog ku tidak dapat terbuka beberapa hari, bukan hanya putriku yang bingung, siswaku pun (apalagi aku) juga kesulitan. Maklum, hampir 75% media pembelajaranku ada di situs itu. Untunglah, blog itu kembali normal lagi. Untunglah hanya provider web-nya saja yang sedang dalam masalah. Umpama googlenya, bisa jadi hapus sudah keringat ini yang tercurah setiap kali menitipkan tulisan ke blog itu.

Google, rupanya titik rawan tulisan-tulisan saya. Yah, warisanku ada di sana …… Meski hanya tulisan-tulisan ala kadarnya! (*)

Kertonegoro, 28 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: