Kampung Ketandan Jogja Gelar Pekan Budaya Tiongkok 2014

YOGYAKARTA (titik0km.com) – Pluralisme memang menjadi ciri khas kuat Bumi Nusantara. Ini terlihat saat Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang didampingi GKR. Hemas, beserta Walikota Yogya Haryadi Suyuti, secara resmi membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2013 ke-8, yang ditandai dengan pemukulan tambur, pada hari Rabu (20/02) bertempat di Kampung Ketandan, Yogyakarta.

Sri Sultan mengemukakan, bahwa kawasan Ketandan diharapkan semakin mampu menunjukkan identitas budaya dalam rangka mengisi dialog transformasi dan akulturasi budaya antar etnik di Yogyakarta yang menjadi bagian dari kebhinekaan budaya Indonesia. “Pekan Budaya Tionghoa di kawasan Malioboro tidak hanya terfokus bicara pada masalah kuliner atau belanja, namun juga bisa mendekatkan budaya etnik masyarakat Tionghoa dengan masyarakat Jogja lainnya,” kata Sultan.

Pembukaan Pekan Budaya Tiongkok 2014 ini juga ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur DIY. Gapura permanen yang diresmikan ini terletak di gerbang barat Ketandan, di jalan A. Yani untuk menandai keberadaan Ketandan sebagai China Town mini di Yogyakarta. Pembukaan acara juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni, seperti barongsai dan tarian, salah satu diantaranya yaitu tarian dari Paguyuban Hakka yang mengisahkan keanekaragaman suku bangsa yang ada di China, yakni Han, Mongolia, Uighur, dan Tibet.

Sementara itu Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, berpendapat, keragaman budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa telah memperkaya khasanah budaya di Yogyakarta. Hal ini benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, dimana masyarakat Jogja mampu menerima keberagaman secara positif dan memberi ruang yang besar bagi masyarakat Tionghoa. Hal itu sesuai dengan keinginan pemerintah yang menginginkan terjadinya heterogenitas budaya dan menimbulkan interaksi positif antar budaya. “Dengan adanya Pekan Budaya Tionghoa 2014 ini, saya berharap, dapat menjadi media untuk memperkuat toleransi antar masyarakat yang heterogen, jangan sampai menimbulkan pengkotak-kotakan antar etnis,” ungkapnya.

Menurut Ketua Umum PBTY, Tri Kirana Muslidatun, gelaran PBTY ke-8 tahun ini akan berlangsung hingga 24 Februari mendatang, dimeriahkan dengan penampilan Liong (naga) terpanjang se-Asia dalam Jogja Dragon Festival II. Selain itu juga akan menghadirkan tumpeng setinggi 2,564 meter lebih yang isinya 6.666 kue ranjang.

PBTY ke-8 bertema ‘Harmoni Budaya Yogyakarta‘. Karena itu, selain dimeriahkan oleh bazar kuliner, di panggung kesenian utama juga digelar pertunjukan kesenian selama lima hari penuh, baik dari etnis Tionghoa maupun etnis suku bangsa lain di DIY. (asd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: