Kata Moeldoko Panglima TNI “Indonesia sedang di infus….”

Oleh : Akhmad Fauzi*

Komentar yang cukup menarik, apalagi disampaikan oleh orang nomer satu di ketentaraan nasional. Simak komentar beliau seutuhnya berkaitan dengan hal ini, “Sekarang ini rasa-rasanya kita tidak bisa mandiri. Kita seakan jadi bangsa yang sedang diinfus, jika infusnya dicabut wafatlah kita”. (http://www.titik0km.com/panglima-tni-moeldoko-bangsa-indonesia-sedang-diinfus.html#ixzz2qfTwZ3JC)

Infus, simbol dari penolakan badan untuk menerima asupan makanan dari jalan yang wajar. Tentunya ada yang sakit di bagian tubuh kita. Ketika penyakit itu ditengarai ada oleh orang yang memiliki pengaruh di negeri ini, maka sulit dibendung tafsir dari tengarai itu. Analogi yang cukup membuat sedikit berfikir keras, ada apa ini? Benarkah begitu tergantung ke infus ini, hingga tercabutpun harus wafat akibatnya?

Yah, dari sumber yang menjadi rujukan penulis untuk artikel ini (www.titik0km.com) diberitakan bahwa Panglima TNI menyampaikan statemen itu dalam kuliah umum di hadapan 3 ribuan civitas akademika Universitas Muhammmadiyah Malang. Bisa jadi beliau merasa tidak perlu risih menyampaikan hal ini pada forum ilmiah itu. Atau, memang beliau sedang memberikan lampu kuning kepada elemen negara bahwa TNI sedang ingin bersuara ketika melihat negara dalam kondisi tergolek. Maka bergeraklah wahai elemen bangsa.

Dari pemberitaan di media online itu pula tampak jika Moeldoko merasa heran dengan gejala sosial yang ada di bangsa ini. Meski orde sebelumnya telah terasa lenyap, justru fase reformasi pun belum juga menemukan bentuk jatidiri kebangsaan yang pas untuk negeri ini. Malah beliau melihat ada fenomena baru di kehidupan bangsa ini yang mulai manja dan tergantung oleh bangsa lain.

Menurut penulis, statemen ini merupakan pernyataan yang cukup berani dari tokoh bangsa ini. Berani karena yang tersuarakan beliau hampir semuanya adalah simpul-simpul kerapuhan bangsa ini yang menumpuk selama kurang lebih satu dekade. Berani karena yang menyampaikan dapat dipastikan memiliki data yang cukup akurat akan apa yang disampaikan. Berani karena empat bulan ke depan ego dan emosi bangsa ini mencapai titik puncak keadaaan.

Sulit memang menengarai kepada siapa statemen beliau ini ditujukan. Yang bisa terbaca dengan jelas (dari statemen itu) adalah TNI ingin menunjukkan kekokohan jatidirinya sebagai lembagai yang ingin independen dan ingin pula ikut bersuara dengan karut-marutnya tatanan kebangsaan dan ketatanegaraan yang mulai tidak steril dengan penguatan dan penggenggaman jatidiri bangsanya. Penulispun masih belum melihat ucapan Panglima itu adalah warning. Penulis lebih suka mengatakan TNI sedang membunyikan terompet pagi agar elemen bangsa ini kembali terjaga dan siuman dari kebengongannya.

Apapun bias opini dari kuliah umum beliau di UMM ini, ada kemirisan yang tidak bisa kita abaikan. Apa itu? TNI telah menengarai bangsa ini sakit, ironisnya, akan wafat jika infus yang menjadi asupan tubuh negeri ini tercabut begitu saja.

Betapa tidak miris, dari sisi ekonomi kita hanyalah boneka. Bang Ihsanuddin Noersi menyebutnya “terjajah ekonominya”, sementara sebagian ekonom yang bergaris keras (anti liberalisasi ekonomi) mengatakan ekonomi negeri kita hanyalah “sapi perahan”.

Penulis melihat ekses keterjajahan ekonomi ini, kalau istilah Panglima TNI ketergantungan, telah memunculkan ekses-ekses domina dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masih teringat bagaimana kita tersenyum saja dengan insiden hambalat, atau tidak berani membalas serangan OPM yang telah menyerang dengan gilanya hanya dengan alasan terlalu sulit dan luasnya medan yang ada. Penyadapanpun sebatas menggertak, selebihnya senyap tanpa makna lagi.

Ekses budaya pun diambing kehancuran. Betapa tidak, gelontoran budaya asing begitu masivnya masuk dan diterima begitu saja oleh elemen bangsa yang ada tanpa perlu mempertanyakan plus minusnya bagi keberadaan budaya dan psikologi masyarakatnya.

Hantaman pemberitaan tentang HAM pun seringkali membuat pemerintah kelabakan, lebih-lebih jika menyangkut peristiwa sara, padahal kenyataan di lapangan hanyalah kasus per kasus. Seakan musnah kebaikan yang selama ini digairahkan oleh semua elemen bangsa untuk selalu dijaga.
Komentar dari Panglima TNI, Moeldoko, yang seharusnya dirasakan sebagai halilintar menurut penulis, sebisa mungkin menjadi simpulan kasar dari perjalanan reformasi selama ini. Koridornya jelas, bangsa dan kehidupan bernegara. Bukan golongan per golongan apalagi individu dan faham. Apa maksudnya?

Sudah waktunya semua elemen negeri ini merapatkan barisan, menyadari seutuhnya jika bangsa ini sedang dirawat dengan infus yang (harus) terus menancap. Saling bahu membahu untuk mencari alternatif pengobatannya untuk mengakhiri tetesan infus itu.

Akhiri banyolan yang tidak berguna, yang lebih mengedapankan pembelaan figur yang ternyata muaranya hanya untuk 014. Hentikan saling berargumen apalagi masalahnya hanyalah banjir atau kicauan di twiter ataupun di instagram. Memijiti pertiwi yang sedang tergeletak dengan infus di tangan lebih tinggi nilainya dari pada bersorak dan beradu alasan untuk bisa menyembuhkan. Berdo’a sambil berharap lebih diperlukan daripada membawa figur yang teryakini pantas dipuja ke salon kecantikan.

Pertiwi belum koma, masih diinfus. Kalau toh memang ketergantungan akan infus itu sudah sulit terlepaskan. Mari terus saja bergerak, pelan tapi pasti, untuk mengumpulkan energi dan piranti yang ada agar tetap terjaga wibawa bangsa. Infus itu tidak bisa diganti dengan hebatnya pencitraan, gebyarnya janji-janji, dan brilliannya strategi kepartaian dan golongan. Infus itu butuh kesefahaman dan kesadaran, maka belai dan sapa pertiwi ini dengan lebih bermartabat lagi.

Infus dan kematian, telah tersuarakan oleh salah satu elemen bangsa ini, jangan sampai pada saatnya nanti semua harus tiarap karena hanya mampu berjanji dan membuat ilusi-ilusi saja. Pertiwi menangis dipembaringan dengan sebotol penuh infus mengalir dilengannya. Semoga bukan TNI saja yang menyadari tergoleknya pertiwi ini, dan semoga pula TNI pun tidak akan membiarkan pertiwi semakin tergolek, nantinya! Tentunya dengan upaya yang ramah demokrasi.

Mana kesadaran elemen bangsa yang mampu membangun kebesaran media, wacana, dan rencana-rencana…? Lihat, rakyat terhimpit sesak di balik tergoleknya, pertiwi.(*)

Kertonegoro, 17 Januari 014
*Penulis adalah Pemerhati sosial budaya

Literatur berita dari : www.titik0km.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: