Keperawanan Siswa Dalam Kacamata Guru

PERAWAN (SISWA) DALAM DISKUSI

Oleh : Akhmad Fauzi*

Bukan karena ramainya frame ini menjadi tema akhirakhir ini, bukan pula ingin mengkritisi Pejabat Dinas Pendidikan yang sedang melaunching kebijakan ini sehingga dalam sepekan ini menjadi “geger nasional”. Biarlah perdebatan itu bergulir dengan dasar masing-masing. Sekilas saya melihat masing-masing punya ukuran yang (juga) cukup meyakinkan. Lihat kebijakan itu di link ini :
http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/91/news/130820111949/limit/0/DPRD-Sumsel-Tolak-Kebijakan-Wajib-Tes-Keperawanan-Siswi-SMA.html

Dalam novel Anak Perawan Di Sarang Penyamun (APDSP) karya STA terasa benar perawan teramat sakral kala itu, dan kebetulan watak sang perawan dalam cerita itu berkategori protagonis alias baik. Sedikit saya ulas sinopsis novel ini, diceritakan seorang juragan kaya yang dirampok oleh gerombolan (kelompok Madesing). Dalam kejadian itu juragan dan istri serta pengawalnya harus meninggal, tinggallah anak perawan tadi. Logikanya, anak perawan tersebut harusnya dendam ke perampok itu, namun oleh pengarang di ceritakan harus menangalkan dendamnya itu untuk mengobati Madesing, kepala perampok, yang terluka parah ketika melakukan aksi merampoknya. Lebih jelas tentang novel ini, lihat link :
http://www.yadi82.com/2012/02/sinopsis-novel-anak-perawan-di-sarang.html

Lain lagi ketika saya masih usia SD, ketika saya mengaji, guru saya menyampaikan sebuah hadits tentang perawan. inti hadits tersebut adalah diharapakan kita mengawini seorang perawan, karena semua yang ada di dia cukup menarik. Diakhir pembelajaran ngaji itu, sang ustad wanti-wanti agar berupaya semaksimal mungkin menikah dengan perawan.

Saya menemukan tulisan di sebuah webs yang mengupas tentang nilai keperawanan dalam Islam. Kupasan ini juga cukup menarik sebagai wacana berfikir, masih bisa diterima oleh akal. Inti dari tulisan itu adalah melihat keperawanan sebagai simbol “keluguan” akhlak. Dalam tulisan ini juga tidak menampik kalau tanda keperawanan teramat rentan untuk terhapus. Di akhir ulasan sang penulis mengungkapkan : “Namun ketika hal itu terkoyak sebelum waktunya (kecuali alasan pemerkosaan, atau kecelakaan) patut kita pertanyakan dimana rasa malu yang merupakan cerminan perempuan. Di manakah keimanan yang akan membuat akhlaknya semakin menawan dan dimanakah harga dirinya sebagai manusia yang diistimewakan. Maka wajarlah jika terdapat perempuan yang tidak menjaga harga diri dan keperawanannya dianggap tidak punya iman”. Untuk link ini lihat : http://www.fimadani.com/nilai-keperawanan-dalam-islam/.

Saya pernah menulis tentang : http://sosbud.kompasiana.com/013/06/22/murid-kita-mucikari-567548.html. Lebih banyak terbelalak, bercerita tentang kesalahan saya sebagai pendidik. Meski itu tidak terjadi di siswa saya, tetapi nilai moral akan “mirisnya” fenomena itu menjadi beban fikir juga di saya. Selama saya jadi guru, kurang lebih delapanan siswa yang harus mengubur masa depannya karena harus menikah dulu, berarti di awali hamil karena sudah tidak perawan tentunya.

Ada keirian ketika membaca sebuah komen (disebuah media sosial) yang begitu ringannya menceritakan temannya yang sudah hidup “sekamar”, bahkan dia yang “berjasa” mencarikan tempat kost itu. Hebat memang karena (menurut cerita di komen itu) sang wanita bisa menjadi “wanita karir” yang (kata yang berkomentar) bisa berjasa bagi nusa dan bangsa. Sayang sekali link saya ungkapkan ini sulit saya lacak lagi, maaf.

M. Nuh dengan tegas melarang adanya kebijakan tentang tes keperawanan ini. simak ucapan beliau : “Kalau ada bukti tentu kami akan membuat edaran. Kita kan punya kewenangan untuk intervensi, tapi kita pelajari dulu”. Miris sekaligus senang melihat pernyataaan ini. Miris karena beliau (maaf) hanya bisa melarang tetapi (sejauh yang saya amati) tidak ada pernyataan yang cukup menggigit dari beliau (M. Nuh) untuk menghentikan fenomena “ketidak perawanan” yang mulai menggejala di anak didik negeri ini. Senang karena saya termasuk yang setuju pendidikan itu tidak bisa dihambat oleh “hanya karena tidak perawan”. Lha wong ketika ada anak didik saya yang mengalami itu (HALIM duluan), lembaga saya begitu “hati-hati” dalam menyikapi. Dalam artian, melepas dia sebuah dilema, tidak melepas takut ada cela (meski akhirnya atas kesadaran sendiri beliau mengundurkan diri).

Kembali ke Mendikbud kita, dari apa yang di ulas di :
http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/91/news/130821110418/limit/0/Mendikbud-M-Nuh-Larang-Adanya-Tes-Keperawanan.html
tampak tidak ada nuansa Pak Menteri yang setuju jika fenomena perawan ini menjadi wacana publik yang berkepanjangan. Semoga saja demikian.

Uraian di atas menggambarkan betapa NANO-NANOnya perbincangan keperawanan ini, lebih khusus jika di korelasikan dengan norma dan etika serta ruh pendidikan di negeri ini. Yang melihat keperawanan ini adalah hal yang biasa, biasanya segaris dengan istilah kesetaraan gender dan HAM. Dan biasanya pula mengimpr fenomena yang ada di belahan barat (ini menurut saya lho). Bagi yang melihat keperawanan itu sakral bisa di tebak dari yang rada hijau dengan dasar agama.

Sebenarnya keduanya bisa disatukan kok, asal mau duduk semeja dengan melepas fanatisme ide yang mereka bawa. Fondasi negeri ini untuk mengukur itu juga sudah memadai. Norma ketimuran dengan filosofi “malu” bisa menjadi pintu awal untuk menyatukan berseberangnya ide tersebut. Jujur saya katakan, fihak-fihak yang mencoba mengopinikan (lewat tulisan utamanya) tentang pro dan kontra akan keperawanan ini sudah berangkat dari penjustifikasian masing-masing. Andai masing-masing berani memaparkan kelebihan dan kelemahan akan keperawanan ini, tentu akan cepat menemukan titik temu.

Bagaimana dengan posisi saya? Saya punya tiga anak, semua perempuan. Mencoba mengikuti yang kiri rasanya kok masih kurang ihlas. Untuk mengikuti yang kanan, (maksudnya yang melihat keperawanan sebagai indikasi birokrasi kehidupan) juga miris. Terus? Yah, bisanya hanya “wanti-wanti” saja kepada anak saya kalau di lingkungan sekitar kita paradigma keperawanan ini seperti ini. Bukan perawannya yang saya tekankan tetapi piranti untuk menjaga perawan (bukan dalam indikasi selapat dara lho). Dikuatkan aqidah, dipoles perilaku seindah mungkin, bergerak sewajarnya, terakhir adalah pasrah.

Saya yakin, ending tuisan ini memang masih tanda tanya, belum bulat atau lonjong. Tetapi itulah, tergantung kita melihatnya. Dari sisi agama sudah lengkap terurai begitupun dari sisi peradaban kekinian. Tinggal kita memilih yang mana? Ternyata tulisan ini berakhir ke pribadi-pribadi, karena memang hanya sebuah diskusi. Diskusi dari banyaknya persepsi yang kesemuanya itu harus dihargai sebagai masyarakat yang mulai menapaki kedewasaan demokrasi. Entahlah… (*)

Wallahu’alam bisshowab
Kertonegoro, 21 Agustus 013

Tambahan :
“Hai orang-orang yang beriman, jaga dirimu dan keluarga dari api neraka” (Al-ayah)

KLIK :
1. https://www.facebook.com/akhmad.fauzi.77736
2. https://www.facebook.com/bermututigaputri
3. www.bermututigaputri.guru-indonesia.net
4. @FAUZI_AKH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: