KH Achmad Shiddiq Pahlawan Pancasila

Sarasehan Membumikan Pancasila Peringatan Hari Lahir Pancasila Univeritas Jember (1)JEMBER (titik0km.com) – Berbahagialah masyarakat Jember memiliki tokoh yang berperan besar dalam pengembangan Pancasila, dia adalah KH. Achmad Shiddiq. Pendapat ini dilontarkan oleh KH. Hasyim Muzadi dalam acara Sarasehan Menyambut Hari Kelahiran Pancasila bertema “Membumikan Pancasila Di Tengah Ancaman Neo Liberalisme Dan Neo Komunisme” yang diadakan oleh Universitas Jember di Gedung Soetardjo (25/5). “KH. Achmad Shiddiq menurut saya pantas diberi gelar Pahlawan Pancasila atau Pahlawan Nasional karena jasa-jasanya dalam mengembangkan Pancasila terutama dalam hubungan dengan Islam,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam ini.

Jasa terbesar KH. Achmad Shiddiq menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini karena beliau mampu menggali landasan syar’i dari Islam untuk Pancasila sehingga bisa diterima oleh ummat Islam di Indonesia.  “Jika Kyai Achmad menggali landasan syar’i, maka Gus Dur yang mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara Mbah Muchid yang bertugas menjadi sekertarisnya,” tambah KH. Hasyim Muzadi.

KH Hasyim Muzadi di Sarasehan Membumikan Pancasila Peringatan Hari Lahir Pancasila Univeritas Jember (2)KH. Hasyim Muzadi kemudian menceritakan bagaimana KH. Achmad Shiddiq mengambil kisah Perjanjian Madinah sebagai contoh untuk menerima Pancasila. “Dalam Perjanjian Madinah, Rasulullah SAW menjamin kebebasan penduduk Madinah yang saat itu tidak hanya ummat Islam untuk melaksanakan syariat agamanya masing-masing. Dan di sisi yang lain Nabi Muhammad SAW memberikan perlindungan yang  sama terkait hak atas keamanan, hak hidup dan hak atas perlindungan kepada semua penduduk Madinah tanpa melihat apa latar belakang agamanya,” jelasnya.

KH. Hasyim Muzadi kemudian menegaskan bahwa Pancasila itu bukan agama sehingga tidak akan diagamakan. Namun Pancasila menjadi koridor bagi semua agama sebab pada hakikatnya Pancasila memiliki substansi agama. “Perlu diingat Pancasila adalah dasar negara, filsafat bangsa, ideologi negara, sumber hukum, way of life dan pemersatu bangsa dalam konteks bernegara,” tambahnya.

Pembicara kedua adalah Brigjen. Dr. Anton Tabah yang mengajak para hadirin yang sebagian besar mahasiswa untuk mewaspadai neokomunisme dan neoliberalisme. Menurut staf ahli Kapolri ini sebenarnya ada tujuh hal yang patut diwaspadai yakni Sekularisme, pluralisme yang keliru, liberalisme, hedonisme, kapitalisme, neokomunisme dan gerakan radikal. Pembicara ketiga adalah guru besar Fakultas Sastra Universitas Jember, Prof. Dr. Ayu Sutarto yang banyak memberikan solusi budaya untuk masalah Indonesia saat ini.

bulan juni lahirnya pancasila @rosodarasSementara itu dalam sambutannya, Rektor Universitas Jember, Drs. Moh. Hasan, MSc., PhD menjelaskan jika sarasehan kali ini adalah kegiatan awal yang membuka rangkaian kegiatan dalam rangka “Bulan PancasilaBulan Bung Karno” yang tahun ini memasuki tahun kedua pelaksanaan. “Tujuannya sebagai sarana memahami, menerapkan dan melestarikan Pancasila dan sebagai bagian sumbangsih Universitas Jember bagi Indonesia,” tuturnya. (ias)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: