Kita Sungguh Merindukan Beliau

Oleh : Akhmad Fauzi*

Aku rindu, benar aku sangat
Bukan pada apa yang dikerjakan
Apalagi dari mana, milik siapa
Rindu akan olahan hati
Yang melihat dunia ini adalah ayat-ayat Tuhan
Untuk kemesraan

Kemesraan dengan menafikan yang menggugat
Menggugat seakan untuk yang lebih
Dari dalam diri!

Aku, Merindukan beliau
Yang pernah hadir dalam khasanah keteduhan hidup
Yang pernah menenggelamkan ego sesaat
Untuk tersenyum bersama

Aku rindu
Ditengah berseraknya hentakan gelegak darah
Yang setiap saat tertahan, berat tak terkira

Kini, Rindu aku masih ada
Untunglah,
Masih ada

Sekitar tiga dekade lalu, di sebuah seminar, ada adegan unik (setidaknya menurut saya). Begitu sesi Cak Nur (Nurkholis Madjid, Allahu yarham, semoga untuk beliau) menyampaikan makalahnya. Di seberang meja, berdiri, memberi hormat ke Cak Nur, lantas keluar dari arena seminar. Siapa beliau, yah, beliau adalah Gus Yus (K.H. Yusuf Muhammad, Lc. Allahu yarham, semoga untuk beliau).

Eskalasi dampak dari “tidak ada tuhan selain Tuhan” memberikan suasana perang dingin di kalanga tokoh kala itu. Apakah adegan di seminar itu adalah puncaknya? Ternyata tidak, penulis yang saat itu termasuk yang ikut mencermati fenomena tersebut tidak pernah menemukan puncak dari eskalasi itu. Mengapa? Ternyata memang tidak pernah ada puncaknya. Kedua tokoh kharismatik tersebut berhasil memerankan sebagai tokoh ummat. Yang membiarkan eskalasi sebagai khasanah untuk wacana, ummatnya.

Begitu juga ketika ada rencana Paus Yohannes Paulus untuk berkunjung ke Indonesia ketika masa Orde Baru dulu. Konser adu opini marak di media massa. Apa yang terjadi? Tanpa terduga Bapak AR (K.H. A.R Fachruddin, Allahu yarham, semoga untuk beliau) menulis buku saku dengan judul “Manghayubagya …….” (lupa lengkapnya, maaf). Jangan dikira tidak bermakna buku saku itu? Buku saku itu memberikan makna keteduhan yang luar biasa di dalamnya tatkala Sri Paus mendarat di Jogya, tempat lahirnya persyarikatan ini,. Makna yang paling terasa saat itu adalah : kunjungan Sri Paus berjalan dengan baik dan lancar, termasuk khusuknya Sri Paus mencium tanah Jogya sebagaimana keinginan beliau.

Ketika Pancasila dipertanyakan sebagai dasar negara, juga di tiga dekade itu, harus diakui kalau K.H. Achmad Siddiq (Allahu yarham, semoga untuk beliau) adalah salah satu tokoh yang berani menerima Pancasila ini sebagai dasar negara Indonesia. Sebatas yang saya ketahui, ekses penerimaan Beliau atas dasar negara ini tidaklah ringan. Beliau tetap istiqomah, dan dalam istiqomah beliau (setidaknya) menjadi benang emas untuk menyulam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kita.

Atau bagaimana runtang-runtungnya Romo Mangun dengan Gus Dur (Allahu yarham, semoga untuk beliau) juga dengan Cak Nun, yang selalu tanpa lelah menyuarakan rasa penggugatan akan penguasa dan kampanye kemanusiaan di setiap seminar.

Yah, itu terjadi tiga dekade lalu, mungkin tidak sama persis cerita riilnya dengan tulisan ini. Oleh karena itu apabila ada yang memiliki cerita lain di balik sejarah itu penulis patut mengapresiasinya sebagai kekurangan penulis dalam melihat fenomena yang ada. tetapi sentilan nilai hati yang “nyegoro” bisa penulis pastikan telah cukup kerasan di hati baliau-beliau.

Sebenarnya masih banyak “beliau-beliau” lain yang bobot hati dan ketokohan sepadan dengan beliau yang terulas. Cukuplah bagi penulis menyampaikan, “Hentakan apa yang belum pernah terjadi di negeri ini?” Terbukti, sehebat apapun eskalasi kontradiksi yang ada, minimal melahirkan dua hikmah :
1. Semakin dewasa negeri ini
2. Lahir tokoh yang bisa memediasikannya

Maka terlalu berat kalau makna kehidupan bangsa kekinian terlampau jauh ditafsirkan. Tokoh, masyarakat, dan budaya (termasuk rasa keragaman beragama yang ada) cukup mampu mensikapi dinamika yang ada. Terlalu naif, kalau kebesaran bangsa ini “kalut” oleh warna-warna yang ada.

Perjalanan sejarah dari tokoh di atas merupakan fakta tak terbantahkan jika negeri ini menghendaki kebeningan hidup. Bening memerlukan proses, proses tidak akan pernah berhenti. Proses adalah gugatan diri dalam mensikapi keadaan, sementara gugutan itu sejatinya adalah untuk baik. Alur gerak ini adalah filososfi sederhana dari rangkaian makna-makna yang sedang disuarakan oleh anak bangsa. Dan memang sederhana pula dalam merangkainya, karena gugatan ala kadarnya (tanpa dasar dan tanpa arah) pasti akan mundur dengan sendirinya. Bukan oleh fihak yang menggesek, tetapi oleh kerentanan yang dibawa dalam makna-makna itu sendiri.

Luas untuk menjabarkan kerinduan ini, seluas hati merindukannya. (*)

Catatan :
1. Mohon maaf apabila dalam penyebutan nama untuk tokoh-tokoh tersebut salah eja atau tidak seperti adanya. Hal ini jauh dari niatan yang tidak baik.
2. Begitupun dengan ilustrasi moment cerita sejarah dari tokoh yang ada, semua sebatas pemahaman yang penulis punya, tidak ada tendensi untuk menyudutkan (dalam bentuk apapun), lebih mengedepankan “bahwa beliau telah menjadi bukti sejarah sebagai anak bangsa yang pantas untuk diteladani”.
3. Kontroversi yang mungkin muncul dari tulisan ini akan penulis jawab sebatas pada koridor kerinduan akan ketokohan bangsa. Selebihnya akan penulis tampung dalam tulisan tersendiri dan sangat mengapresiasi kontroversi yang ada itu.

Salam Kebangsaan

Kertonegoro, 1 September 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: