Komik “Cinta Sejenis”

(Adakah Ini Perselingkuhan Menggerus Karakter Anak Bangsa)

Oleh : Akhmad Fauzi*

Beberapa hari lalu kita dikejutkan dengan beredarnya komik anak yang mengekploitasi perilaku yang menyimpang. Why : Puberty, komik remaja karya terjemahan terbitan Alex Media. Tak urung komisioner KPAI, Asrorun Niam, angkat bicara jika penggambaran kisah percintaan sejenis dalam komik ini bisa berdampak yang kurang baik dari sisi norma agama dan etika kemanusiaan. Bagaimana respon penerbit? Dengan ringannya Alex Media, pihak penerbit, menyampaikan terima kasih atas masukan yang diberikan. Sama dengan kasus sebelumnya (mis. tersisipnya nama tokoh dalam soal UN, atau cerita vulgar di buku pegangan siswa), kasus tidak perlu diperpanjang, kasus di tutup.

Seakan tidak pernah habis ujian bangsa ini, ketika disebagian elemen negeri bersusah payah menyuarakan pentingnya membangun karakter bangsa, di sisi lain malah mencoba (dengan sembunyi-sembunyi) merobohkan bangunan itu. Ketika sebagian berharap ada keanggunan dalam perilaku prosesi pilpres, justru carut marut etika dan emosi kemarahan yang tampak. Ketika negeri ini menitipkan kepercayaan bangunan karakter bangsa kepada dunia pendidikan, nyatanya, titipan itu tidak diiringi rasa ikut menjaga tatkala ada tangan-tangan halus yang mengusik pondasi bangunan yang sedang dibuat itu.

Kasus komik Why : Puberty ini seharusnya ditatap sebagai kejahatan moral yang sistematis dan terbuka. Mungkin ada yang menganalisis kalau fenomena ini sebagai hal yang wajar dan biasa dengan asumsi melihat lemahnya semangat membaca warga dan terbatasnya publikasi. Bahkan ada yang membandingkannya dengan “sakitnya” perilaku (dari sisi pornografi dan etika) di dunia maya yang terus mendekati tingkat gawat dan darurat. Tidak salah asumsi logis itu! Tetapi membandingkan komik sebagai media bacaan maenstream dengan internet sebagai kemayaan tentu saja ada kesenjangan sebab. Tidak relevan pula jika nilai keterbatasan publisitas dan gairah membaca sebagai pengukur kemasivan akibat. Jangkauan motivasi serta kepastian sumber berbeda dalam perbandingan itu.

Alex Media bisa saja “iseng” ketika menerbitkan komik ini dengan target hanya untuk menuai keuntungan. Bisa jadi juga menutup mata akan dampak sosialnya. Sungguh, mewajarkan suatu fenomena sosial, apalagi berkaitan dengan resistensi sendi-sendi moral bangsa, sama artinya telah memberi peluang hadirnya masalah dari ihtiar kita membangun budaya yang beradab.

Simak bagaimana geramnya ketua umum PGRI mensikapi komik ini. Kelantangan beliau yang menilai bahwa dunia pendidikan di Indonesia berkali-kali kecolongan dengan terbitnya buku-buku yang berkonten penyimpangan moral (termasuk komik ini) menggambarkan lelahnya salah satu pilar pengusung moral bangsa ini dalam membaca kegenitaan fenomena sosial yang ada. Tragisnya, kegeraman yang penuh semangat itu diyakini akan ramai sesaat. Uniknya, tidak lama akan hadir kembali buku yang semirip ketika suasana sudah dirasa sunyi.

Perselingkuhan Antara Kepentingan Materi Dan Dinamika Etika Luar

Ada sedikit keirian pada diri penulis, begitu gerakan ISIS berdampak dan terdeteksi di Indonesia, hampir semua pihak negeri ini padu menyuarakan penolakannya. Bisa dimaklumi dan sangat membanggakan respon yang terlihat ini, mengingat memang keberadaan gerakan ini berpotensi menghancurkan nilai keutuhan hidup berbangsa. Tetapi mengapa ketika bibit kehancuran merambah ranah etika dan moral anak bangsa seakan suara negeri terbelah menjadi dua?

BNN memprediksi tahun 2015 ada 5,5 juta pengguna aktif obat berbahaya ini, yang berarti naik 1,5 juta dari tahun sekarang. Diprediksi pula pemakai internet juga naik kisaran 20%, sekitar 85 juta pengguna -plus di dalamnya- pemilik akun FB. Yang bisa diartikan pula negeri ini akan tetap menduduki posisi teratas sebagai penggunggah situs-situs porno. Data yang ada ini sangat mungkin tidak akan semiris pensikapannya saat membayangkan ISIS dan faham radikal lainnya yang menggurita.

Paradoksi melihat “bibit kehancuran” ini tidaklah mengheranan. Di samping phobisitas sektarian, keterkaitan unsur bisnis cukup berpengaruh. Teringat bagaimana hampir berimbangnya yang pro dan kontra saat penutupan Lokalisasi Dolly beberapa waktu lalu. Dampak negatif hampir saja kalah oleh guliran opini yang kontra dengan mengatas-namakan HAM. Pengambil kebijakan dihantam dengan opini-opini dan tekanan-tekanan untuk membatalkan niatan penutupan itu. Nyatanya, terbersit berita jika ada beberapa anak di bawah umur, di gang itu, yang telah mengalami kecanduan bermain seks.

Moralitas Negeri Harus Diprioritaskan

Apa yang ada di benak kita ketika ditemukan hasil kajian dari BKKBN bahwa 46% remaja bangsa ini pernah berhubungan sex? Masihkah ini suatu kewajaran ketika semangat belajar dan mimpi menggapai cita telah dibumbui perilaku yang tidak sewajarnya ini. Masihkah tidak bisa dipercaya jika sex dan pornografi adalah pintu masuk untuk membuka dis-moralitas negeri yang berdampk pada pola pikir dan cara pandang hidup. Bisakah pula dipercaya, jika gejala ini memang menjadi salah satu sasaran tembak pelaku bisnis haram lainya (semisal, perdagangan narkoba, miras, perjudian, sampai perdagangan anak/manusia).

Komisioner Komnas HAM dalam talkshow di stasiun televisi swasta mengharap agar informasi yang menyentuh kepentingan anak sebisa mungkin 50% bermuatan karakter hidup. Karakter yang berbicara tentang etika, perilaku pergaulan dengan sesama termasuk karakter memandang fakta pluralitas. Sisanya adalah informasi edukasi, pengetahuan, dan hiburan. Manis sekali jika semua wacana yang berkaitan dengan kepentingan anak bermuatan ideal semacam itu.

Adalah menjadi tanggung jawab semua anak bangsa untuk saling membagi perhatian serta berkonsep yang padu. Derasnya arus perilaku baru yang begitu mudah sampai pada pikir anak menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk dikritisi sekuat mungkin. Indonesia amatlah plural, tetapi bukan menjadi sebab pluralitas itu bisa membedakan makna dekadensi moral pada umumnya. Keberlangsungan negeri dengan berpijak pada moralitas sudah menjadi keharusan untuk diprioritaskan.

Pancasila sudah mengakomodasi semua kepentingan, dan Pancasila pula yang mengedepankan Ketuhanan Yang Maha Esa untuk menciptakan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Membisunya elemen negeri ketika ada yang mencoba mengusik moralitas bangsa lebih pada ketertampakan terbelahnya suara dalam mensikapinya. Sangat disayangkan jika ini terus berkembang apalagi terbelahnya pendapat ini terasa bermuatan faham dan kepentingaan.

Menarik perdaran suatu terbitan yang rentan penyimpangan moral memang suatu keberhasilan, tetapi mendiamkan tanpa ada peluang menelusur lebih dalam merupakan kekalahan juga. Mewaspadai adanya tangan-tangan usil untuk mencacah moral dan norma etika bangsa tidak boleh berhenti di tengah jalan. Karena perubahan peradaban sebegitu cepatnya terjadi. Ironisnya, nilai moral tidak lagi menjadi unsur utama pertimbangan perubahan itu. (*)

Kertonegoro, 11 Agustus 014

Literatur tulisan :
1. http://news.detik.com/read/014/08/06/191236/2655220/10/kpai-soroti-komik-tentang-cinta-sejenis-yang-beredar-minta-agar-ditarik?nd772205mr
2. http://metro.sindonews.com/read/889633/31/komik-why-puberty-beredar-pgri-anggap-sekolah-kecolongan
3. http://metro.sindonews.com/read/889635/31/gawat-46-remaja-sudah-pernah-berhubungan-seksual

Ilustrasi : detik.news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: