KPAI – Masih Eksiskah Anda?

(Renungan Malam Jum’at : Fokus Saja Ke Rehabilitasi Korban)

Oleh : Akhmad Fauzi*

Baru saja sebulan kasus Iqbal menghilang, kembali menindih lagi kasus kekerasan untuk anak-anak. Sempat geram juga, apakah ini karena terlalu banyaknya manusia atau memang manusia sudah lupa dengan rasa kemanusiaannya, atau (maaf) KPAI dan juga aparat negeri yang memang hanya bekerja ketika kasus kekerasaan anak terjadi.

Sangat mengerikan jika kekerasan kali ini (kasus sodomi siswa TK) harus terjadi di lembaga sekaliber JIS. Logikanya sederhana, JIS adalah lembaga berkelas, tentu memiliki pelayanan yang melegakan. Apa jadinya jika lembaga sekelas JIS saja sudah rentan dengan kekerasan anak? Mengkorek keteledoran JIS hanya sia-sia, tidak akan mengembalikan terkoyaknya mental anak yang menjadi korban. Ikut prihatin merasakan sedihnya orang tua hanyalah peletupan rasa toleransi belaka. Toh kasus demi kasus terulang dengan mudahnya. Beratnya ancaman hukuman ternyata masih membutakan pelaku-pelaku terhadap kekerasan anak ini. Kalau dilihat dari pemberitaan, mudahnya pelaku mengeksplorasi tindakannya karena terbuka peluang pelaku untuk mengakses korban, sementara anak yang menjadi korban begitu lemahnya untuk melakukan perlawanan. Menurut persepsi saya, kunci penanggulangan kekerasan pada anak ini ada pada pengawasan. Maka seharusnya dari sisi ini semua bergerak untuk memberikan penguatan sekaligus mempersempit ruang gerak siapapun untuk melakukan tindakan kekerasan.

Kasus JIS tidak bisa menyalahkan orang tua, disamping karena begitu percayanya orang tua dengan lembaga yang menjadi pilihan untuk mendidik putranya itu, juga kejadiannya terjadi di dalam lingkungn pendidikan. Sementara sistem mewajibkan adanya jaminan keamanan penuh bagi peserta didik selama anak didik itu berada dalam lingkup lembaga pendidikan. Inilah yang saya maksud betapa mengerikannya peristiwa pelecehan seksual ini. Sungguh sangat mengherankan jika diberitakan pihak sekolah tidak mengijinkan pihak Kemendikbud untuk membantu menjernihkan masalah. Maka menjadi sangat bias dan meluas kasus ini di permukaan. Di satu sisi ada pelecehan anak yang bersifat terus-menerus dan keroyokan di sebuah lembaga yang dianggap bonafide, di sisi lain berkembang isu jika lembaga ini belum memiliki ijin yang tentunya menjadi kesalahan fatal pihak regulator sebagai pengawas pendidikan. Sementara KPAI di berita malah sibuk memamerkan pelakunya dan meyayangkan sikap kepolisian karena terkesan menutupi wajah pelaku.

Apakah seperti ini gaya mensikapi kasus yang terjadi pada anak selama ini? Masing-masing mencoba untuk memprotek diri dengan pembenaran-pembenaran? Maka klop sudah praduga saya jika wajar saja kejadian demi kejadian senantiasa terulang dengan mudahnya meski seberapa beratpun hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku tindak kekerasan pada anak ini. Mengapa semua pihak tidak saling bahu membahu untuk mengurai akar permasalahannya? Mengapa kondisi ego lembaga begitu kental dipegang?

Saya tertarik dengan gaya KPAI setiap kali menangani perkara kekerasan anak ini. Mengapa komisi ini terlalu sibuk dengan menjelaskan detil kejadian? Mengapa setelah semua penanganan itu lantas senyap tanpa gerakan preventif sebagai tindak lanjut atas kejadian itu? Bukankah saat kejadian yang lebih penting adalah menjaga mental anak?

Pengkritisan ini bukan berarti mengabaikan gerak langkah perjuangan lembaga perlindungan anak selama ini. Butuh kreasi langkah lebih cerdas bagi lembaga ini untuk menyambut pola kekerasan yang ada. Singkatnya, kejahatan akan eguivalent dengan perkembangan jaman, maka perlu update pola yang terus menerus bagi KPAI untuk mengikuti perkembangan pola kejahatan itu. Lingkup fokus yang perlu mendapat perhatian bukanlah pada detil kejadian atau penanganan pelaku, tetapi lebih pada memutus simpul-simpul yang menyebabkannya serta menangani korban secara serius. Ingat, ini kejahatan pada anak, ketidak-berdayaannya diri serta potensi kecerahan hidup selanjutnya lebih menjadi prioritas komisi untuk ditangani secara utuh, integral, dan terus menerus.

Ajak lembaga-lembaga yang terkait untuk mendisain pencegahan dan penangan korban dengan sungguh-sungguh. Sangat diragukan jika persoalan dana yang menjadi penghambat. Kolaborasi pemikiran dengan sama-sama mencurahkan sumber daya yang dimiliki oleh lembaga terkait akan menjadi sistem yang utuh untuk memperkecil ruang kejahatan pada anak ini. Begitupun ketika sudah terjadi, proses penanganan korban adalah segalanya. Merehabilitasi trauma atas kasus yang dialami lebih menjamin resistensi kejadian selanjutnya. Ingat, efek trauma korban lebih berbahaya dari pada kejahatan itu sendiri, karena bisa jadi, efek itu membentuk kejahatan baru di kemudian hari sebagai pelampiasan dendam dari yang pernah dialami!

Anak-anak adalah investasi masa depan, menjadi berantakan jika investasi itu (gara-gara) salah penanganan. Anak, tanggung jawab manusia dewasa apapun statusnya, dimanapun kedudukannya, dan apapun jalur faham dan politiknya. Hancur negara ini jika anak ditatap hanya setengah hati.

Dengarkan tawanya, menjadi energi cerahnya masa mendatang. Usap tagisnya, bak menyibak redupnya lentera malam perjalanan peradaban. Kasih sayang menjadi sebab geliat hidup dibelantara nyata. Berikan kepadanya… . (*)

Kertonegoro, 17 April 014

*Penulis guru SMP Negeri 2 Jenggawah

Link terkait :
(http://megapolitan.kompas.com/read/014/04/16/2112240/Komnas.PA.Tunjukkan.Wajah.Pelaku.Pelecehan.Siswa.TK.JIS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: