Kurikulum Baru, Rekayasa Ataukah Kebutuhan?

Oleh : Akhmad fauzi*

Kurikulum baru akan mulai diberlakukan bertahap sejak tahun ajaran baru 2013/2014. Beberapa mata pelajaran dilebur dengan yang lain, dibuat lebih terintegrasi secara tematik dan holistik. Untuk mata pelajaran SD yang semula 10 menjadi enam, sedangkan SMP dari 12 menjadi 10. Sementara pelajar SMA dibebaskan memilih pelajaran yang disukai karena penjurusan dihapuskan. Metode pengajaran dibuat untuk merangsang keaktifan siswa. Kurikulum pendidikan baru ini diharapkan dapat menjawab tantangan zaman. (JAKARTA, KOMPAS.com Jumat, 7 Desember 2012)

Esensi Kurikulum

Dalam KBBI, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan atau perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus. cakupan kurikulum berisikan uraian bidang studi yang terdiri atas beberapa macam mata pelajaran yg disajikan secara kait-berkait. Sementara dari Wikipedia bahasa Indonesia, Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen kurikulum. Pendapat para ahli mengenai komponen kurikulum sebagai berikut :

  1. Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu: (1) komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan prasarana); (4) komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.
  2. Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1) Objective (tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian). Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan: (4) Evaluasi.

Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan, dalam hal ini alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri. Maka, kurikulum yang ada di Indoneseia : 1) merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, 2) merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu, dan 3) merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Kesiapan Kurikulum Baru

Uraian di atas adalah gambaran teoritis dari sebuah kurikulum. Jarang orang memahami gambaran itu sekalipun pelaku pendidikan. Hal ini salah sebabnya adalah anggapan bahwa kurikulum merupkan konsep elit, maka yang berfikir dan membuat juga mereka yang berada di posisi elit. Sepengetahuan penulis, sebelum kurikulum 2013 ini menggema, sudah bermunculan wacana-wacana untuk menyempurnakan kurikulum yang sedang berlaku (kurikulum 2006/KTSP). Kemunculan wacana yang ada lebih ditekankan pada muatan/isi dari kurikulum itu sendiri. Salah satu contoh adalah gemuknya SK/KD dalam setiap mata pelajaran. Sebagai perbandingan, di negeri Kanguru, materi yang diajarkan di sekolah setingkat SD hanyalah yang berkaitan dengan menghitung, membaca, dan interaksi sosial. Lebih mengedepankan psikomotorik (pengalaman belajar) dari pada kognitif-afektif (teori).

Kalau dicermati dari beberapa setatemen Menteri (M. Nuh), penulis memang sedikit lega. Ambil salah satu komentar beliau, ”Karena itu, untuk penerapan kurikulum 2013, guru dilatih dulu agar metode pengajarannya berubah. Kurikulum ini mengharuskan guru bisa mendorong kreativitas dan rasa ingin tahu siswa,” kata Nuh ketika di tanya KOMPAS.COM tentang kekhawatiran sebagian pihak yang masih apriori bahwa walau kurikulum sering berganti metode pengajaran guru tidak berubah.

Statemen di atas menggambarkan betapa regulator telah menyadari dan (penulis yakini) memiliki peta akan “penyakit-penyakit lama” dari efek pergantian kurikulum. Menteri harus waspada bahwa pergantian kurikulum (dulu) identik dengan nilai politis, identik pula dengan bagi-bagi anggaran, dan (ini yang harus dibuang) identik dengan “inilah karya monumental saya”. Kalau Menteri telah memahami sepenuhnya penyakit itu, tidak ada salahnya kurikulum ini diterapkan, toh sudah melalui uji publik yang berarti ada suara bawah yang sudah terekam dan terakomodasi.

Pemerintah tampaknya juga sudah siap betul dengan perubahan ini, mulai dari pembuatan draft, uji publik, sampai pada sistem penerapannya di lapangan. Dari pernyataan pejabat terkait, tidak ada keraguan sedikitpun akan kesiapan perubahan ini. Kalau itu benar dan di yakini benar maka tidak ada alasan bagi guru dan siswa (sebagai objek perubahan ini) untuk menerima kurikulum baru. Selama kurikulum yang akan diterapkan ini tidak gemuk, lebih mengedepankan behavior, dengan target yang tidak terlalu berpihak pada kemampuan akademik semata, dan telah disiapkan piranti pendudkungnya, penulis meyakini, kurikulum ini akan menggelinding dengan baik.

Jangan Kontraproduktif

Namun, tidak ada salahnya Pemerintah sebaiknya memperhatikan dengan serius pernyatan Ketua Umum PGRI yang mengatakan bahwa implementasi perubahan kurikulum sering kali tidak berjalan mulus karena tidak mengakomodasi pemikiran sederhana para guru. Pernyataan ini bukanlah kekhawatiran apalagi ketidakpercayaan, tetapi lebih pada harapan agar pemerintah jangan “asal” memberlakukan padahal hal itu bukanlah kebutuhan yang sebenarnya diinginkan.

Penulis sebagai guru menyadari betul betapa sederhananya pemikiran guru. Mereka (guru) berharap :

  1. kurikulum nantinya jangan terlalu menjadi sarana wajib untuk mengukur kinerja mereka, sehingga kerja mereka harus dituntut oleh kurikulum apalagi kalau muatan kurikulum tersebut gemuk dan melebar
  2. kurikulum nantinya diikuti dengan pemenuhan perangkat-perangkat lain, misalnya alat peraga (media), kemudahan dalam menyusun, dan pelatihan pengembangan keprofesian.

Dua keingin guru itu sejatinya bermuara pada keseriusan kita dalam mengawal kebijakan. Betapa banyak perubahan-perubahan, betapa banyak pelatihan-pelatihan, dan betapa banyak anggaran-anggaran, tetapi sadarkah kita kalau yang diperoleh di lapangan seringkali berbanding balik dengan target yang diharapkan.

Kontraprodukti yang terjadi lebih banyak disebabkan tidak siap dan seriusnya suatu regulasi itu diterapkan. kontraproduktif muncul ketika elemen yang mengikuti masih dalam kondisi rapuh. Kontraproduktif muncul ketika regulasi itu berbasis sesaat.

Penutup

Kalau toh perubahan kurikulum sampai saat ini terlihat sudah siap, baik dari hilir dampai hulu, itu adalah kabar yang cukup baik bagi dunia pendidikan. Karena diakui atau tidak pendidikan di negeri ini memang butuh lompatan-lompatan. Semoga saja Kurikulum 2013 ini merupakan salah satu lombatan itu. Asal tahu saja, baru-baru ini dirilis sebuah kenyataan bahwa kita kalah dengan Palestina terkait urutan nilai rata-rata matapelajaran matematika (baca : http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/artikel_detail-35192.html)

Jadi, Perbaikan kurikulum adalah suatu ihtiar yang baik, namun jangan ditimpali lagi dengan “pembiaran-pembiaran” dan ketidakseriusan yang seolah-olah perubahan itu “harus” diterapkan tanpa melihat kebutuhan riil di lapangan.

Terakhir, selama perubahan ini berjalan sesuai aturan, apapun bentuk perubahannya nanti, guru dan masyarakat tidak akan terlalu mempermasalahkan. Karena mereka beranggapan bahwa kurikulum adalah produk elit, maka pasti baik. Hanya yang di sayangkan selama ini “elit” tidak pernah memahami mereka. Nah, kini saat dimulai perubahan yang berbasis kebutuhan, bukan perubahan berbasis kerlap-kerlip semata. Selamat datang kurikulum 2013! (*)

*Penulis adalah Guru SMP Negeri 3 Jenggawah danTinggal di Kertonegoro, Jenggawah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: