Low Cost Hospital

Oleh: dr. Sholihul Absor, MARS*

Kalau dengar kata low cost carier atau low cost airline pasti dalam benak kita terbayang maskapai penerbangan yang berbiaya murah, diantaranya yang kita kenal adalah  Lion Air, Sriwijaya Air, dan Air Asia. Dengan tiket yang murah kini banyak orang bisa merasakan naik pesawat terbang, bahkan menjadi pilihan pertama jika berpergian mengingat waktu tempuh yang lebih cepat dibanding moda transportasi lainnya. Cocok dengan tag line maskapainya yaitu “membuat semua orang bisa terbang”.

Karena tiketnya murah maka fasilitas dan pelayanan yang disajikan serba minimal dan standart,  bahkan terkesan kurang nyaman.   Jarak kursi yang rapat membuat kaki tidak bisa bebas bergerak, lutut mepet dengan kursi di depan, bahu kita dengan bahu penumpang sebelah bersinggungan, apalagi kalau penumpang sebelah  berbadan besar bisa bisa tubuh kita tidak dapat bergerak hingga turun pesawat. Tidak ada layanan makan ataupun snack selama perjalanan, dapat permen aja sudah untung. Untuk cek in kita harus sabar antri karena banyaknya jumlah penumpang. Begitu pula saat menunggu di ruang tungu keberangkatan, suasanyanya mirip dengan terminal bis, saking kroditnya sering tidak kebagian tempat duduk. Kalau ingin nyaman tunggu saja di launge, bisa makan sepuasnya, duduk santai sambil minum kopi dan baca Koran, tapi bayar sendiri. Jadi kalau kena delay tidak terlalu gerah dan gelisah.

Tapi dibalik keterbatasan pelayanan di atas, semua maskapai memberikan jaminan keselamatan selama penerbangan. Oleh karena itu dalam kondisi  apapun prosedur keselamatan selalu dilakukan seperti memperagakan cara penyelamatan diri. Paling tidak  lolos dari persyaratan keselamatan penerbangan dari pihak otoritas yang berwenang. Inilah yang disebut sebagai fungsional benefit, dalam kontek penerbangan yaitu menawarkan manfaat berupa mengantarkan penumpang dengan selamat sampai ke tujuan, sedangkan emosional benefit diminimalkan agar bisa menekan harga, yang penting sampai.

lalu bagaimana dengan Low Cost Hospital, pernah dengar?. Yah kita mungkin dengar pertama kali saat Tony Fernandes sang pemilik Air Asia menyampaikan ide itu dan dimuat di surat kabar. Kemudian disusul dengan berita bahwa BUMN akan membuat rumah sakit berbiaya murah. Selain itu kita juga dengar bahwa salah satu konglomerasi Indonesia akan mendirikan beberapa rumah sakit dengan kapasitas 1000 tempat tidur. Tapi bagaimana gambaran low cost hospital ini, apakah seperti low cost airline, fasilitas dan pelayanan terbatas yang penting sembuh. Saya akan coba merekonstruksikan sebuah rumah sakit dengan tarip murah tapi tetap memenuhi standar pelayanan.

Sebenarnya diskusi tentang rumah sakit yang efisien sudah banyak dan lama dilakukan di luar negeri, khususnya Amerika dan India karena kecenderungan biaya pelayanan di rumah sakit yang terus meningkat, tentu pada akhirnya akan memberatkan masyarakat dan pemerintah. Robert S. Kaplan dan Michael Porter dalam jurnal Harvard Business Review edisi september 2011 membeberkan data bahwa lebih dari 17% produk domestik bruto Amerika habis untuk biaya perawatan kesehatan, dan terus meningkat tiap tahunnya,data di negara lain juga diperkirakan sama. lebih lanjut mereka mengatakan bahwa komponen biaya di rumah sakit berasal dari biaya pegawai, obat dan bahan habis pakai, ruang dan fasilitasnya, alat medis, dan sarana pendukung. Berdasarkan komponen biaya inilah saya akan merekonstruksi.

Rumah sakit yang low cost berdiri di atas tanah yang cukup luas (sekitar 9000m2) di daerah pinggiran kota dengan bangunan satu lantai yang tampak sederhana namun asri. Kapasitas tempat tidur antara 50 sampai 100 bed dan melayani perawatan rujukan tingkat dua atau melayani kasus penyakit dalam, anak, bedah, dan obsgyn. Kapasitas kamar perawatan 6 tempat tidur dan tidak ada kamar kelas 1 atau VIP. Semua ruang perawatan tidak pakai AC, cukup kipas angin saja kecuali yang disyaratkan yaitu ruang operasi dan intensive. Tempat tidur pasien tidak bermerek, tapi sederhana namun kuat dan aman. Walaupun begitu semua fungsi dan kelengkapan bangunan disetting memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam hal tenaga kerja jumlahnya dioptimalkan paling banyak dua kali jumlah tempat tidur. Ada 5 dokter umum tetap  yang jaga di poli dan UGD dan empat dokter spesialis dasar yang praktek. Meski biaya murah, karena efisien tenaga maka gaji pegawai di atas rata rata pasar.  Penanganan kasus sub spesialistik dilakukan rujukan ke rumah sakit yang lebih mampu di pusat kota.

Obat yang digunakan adalah obat generik, tidak menggunakan obat paten yang berharga jauh lebih mahal. Semua bahan medis dan habis pakai dicarikan dari pabrikan dalam negri atau dari importir yang harganya bersaing.

Rumah sakit ini dilengkapi dengan peralatan medis standart; usg 2 dimensi, X ray 500ma, peralatan laboratorium fotometer dan hematologi, satu set alat operasi, dan peralatan emergency di UGD. Semua alat ini bukan buatan eropa atau Jepang karena mahal. Air limbah diolah dengan sistim terbuka yang minim perawatan, sedangkan limbah padat dikerjasamakan dengan pihak luar.

Walaupun fasilitas pelayanannya standart tapi rumah sakit ini pasiennya banyak karena selain taripnya murah, proses pelayanannya tidak birokratis, ramah dan cepat. Semua prosedurnya jelas dan sederhana. Semua ini bisa berjalan karena dukungan sistim informasi yang kuat serta tenaga yang muda tapi terlatih.

Di era BPJS rumah sakit seperti inilah yang akan menggaet kue dana jaminan kesehatan dari pemerintah trilyunan rupiah, sama seperti low cost airline yang saat ini merajai bisnis penerbangan di Indonesia. Rekonstruksi di atas hanyalah bayangan atau angan angan saya saja, mungkin ada pembaca yang bisa melengkapi atau mengkoreksi sehingga sesuai dengan yang diharapkan, yaitu menguntungkan pengelola rumah sakit tapi juga tidak merugikan pasien atau bahkan pasiennya puas. Lebih senang lagi kalau angan angan ini ada yang mewujudkannya, semoga. (*)

 [email protected]_absor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: