Ludruk Dan Bu Risma

Oleh : Akhmad Fauzi*

“Lho, siapa bilang tidak ada kata asal dari Ludruk!”, ujar Cak Markaban, tokoh Ludruk Triprasetya RRI Surabaya. “Ludruk itu berasal dari kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Jadi yang membawakan ludrukan itu, kepalanya menggeleng-geleng (gela-gelo) dan kakinya gedrak-gedruk menghentak lantai seperti penari Ngremo. Ya, itulah Ludruk“, kata Cak Markaban dengan serius, tetapi yang mendengarkan terpingkal-pingkal.

“Oh, oh, bukan demikian”, sahut Cak Kibat, tokoh Ludruk Besutan yang hadir pada diskusi itu. “Ludruk itu asalnya molo-molo lan gedrak-gedruk. Artinya seorang peludruk itu mulutnya bicara dengan kidungan dan kakinya menghentak lantai – gedrak-gedruk”, jelasnya. “Oke-oke, kalau begitu hampir sama”, ujar Bawong dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang membuat kesimpulan dengan suara agak lantang. (diskusi ini diambil dari http://budayanegrikita.blogspot.com/2010/12/sejarah-dan-asal-usul-ludruk.html)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan nonintelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, dll.).

Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerankan “Pak Sakera“, seorang jagoan Madura. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

Itulah Ludruk, seni drama khas Jawa Timuran, lebih pasnya adalah khas Suroboyoan. Kata kunci dari ludruk adalah drama dan guyonan (lawakan) yang dipentaskan. Sengaja saya panjang-lebarkan pengertian Ludruk ini dengan asumsi :
1. Biar tulisan ini tidak unsich politik, tetapi penekanan lebih pada bidikan sosial budaya
2. Ludruk sudah mati suri, tinggal ketegaan peradaban saja untuk menguburnya. Ini lebih pada sindiran kepada masyarakat Jawa Timur yang pelan tapi pasti mulai meninggalkan kesenian ini. Untunglah masih ada JTV yang mencoba menggugah kembali lewat tayang siarnya.
3. Bu Risma sedang jadi selebritis media, sah saja rasanya jika saya ingin meramunya dengan kesenian Ludruk ini, pendek kata, sambil menyelam minum air. Seiring melejitnya beliau (Bu Risma) dalam wacana ketokohan nasional ingin saya menitipkan nilai budaya di sana.
4. Adanya upaya mbak Mega memediasi kasus Risma ini, (ingat) setelah sebelumnya pejabat teras partai termasuk Ning Puan menanggapi dengan sedikit pedas.

——)***(——

Tidak bisa dipungkiri jika tangis bu Risma tempo hari menjadi daftar yang panjang dari potret budaya perpolitikan bangsa. Kecenderungan beliau sebagai simbol yang tertindas sebagai konsekwensi tarik ulur kepentingan menjadi penguat jika negeri ini lebih pada mengedepankan bermain drama saat di depan publik. Bu Rismapun tidak akan pernah menjadi selebritis berita jika selama ini beliau terlibat pula dalam adegan drama itu. Untunglah endapan kesabaran untuk tidak ikut-ikut mensandiwarakan dirinya ditangkap oleh Mata Najwa.

Sangat aneh jika mbak Mega dalam keterangan persnya pasca bertemu bu Risma lebih pada penyalahan pemberitaan, bukan pada pembelaan sekuatnya kepada posisi bu Risma yang sebenarnya. Siapapun mahfum, mbak Mega lahir dari ranah oposisi, menjadi putus logika keoposisiannya ketika beliau tidak cepat-cepat merangkul bu Risma yang jelas-jelas dalam “oposisi” di arus perpolitikan kasus walikota ini? Malah membiarkan putri dan bawahannya bersuara memojokkan sang teroposisi ini.

Beliau, mbak Mega baru turun setelah pemberitaan semakin menguak realita jika memang bu Risma dalam persimpangan kepentingan! Dari sisi politik gerakan mbak Mega ini memang bisa dimaklumi, karena banyak melibatkan nuansa partainya di sana. Tetapi dari sisi idealisme demokrasi, hal ini menjadi pembuktian jika “siapapun” akan rentan dengan nilai-nilai kepentingan bawah. Semua sudah mahfum jika tangis bu Risma ini tidak hanya masalah wawalinya. Nilai ketegasan, kelurusan, dan keberpihakan bu Risma kepada kepentingan umumlah yang ditengarai menjadi bibit-bibit ketidaknyamanan di sebagian elemen.

Ketidaknyamana itu menjadi arus beban sang walikota sehingga menjadi tangis di Mata Najwa. Mengapa sejak awal mbak Mega tidak menyapa dengan manis, merangkul secepatnya kemudian membisiki : “Sudahlah, Ibu di belakangmu selama kamu dalam koridor yang benar…”.

Perangkulan mbak Mega di Sabtu, 1 Maret 014 menjadi menipis maknanya setelah tangis bu Risma sudah terlanjur ditangkap oleh siapa saja. Malah semakin kabur maknanya mendengar isi jumpa pers mbak Mega Sabtu itu. Bukan hal yang aneh jika sesaknya bu Risma ini menjadi komoditas yang empuk bagi semua pihak untuk ikut nimbrung menitipkan kepentingan di dalamya. Maka, jadi tidak berlaku lagi jika dianggap ada yang menunggangi, karena 014 memang butuh fenomena-fenomena semacam ini.

Sangat disayangkan memang, masa-masa emas ketika bu Risma menguraikan air mata dipandang sebelah mata oleh beliau-beliau yang seharusnya memeluk erat walikota. Untunglah bu Risma menangis bukan untuk minta belas kasihan, bukan pula untuk mengumpulkan nilai tawar apalagi memiliki agenda tersembunyi di 014. Bukti nyata dari ketidak-adanya yang terselubung dari beliau bisa dilihat dari semakin gairahnya beliau menutup lokalisasi yang ada di Surabaya. Bisa juga di lihat dari statemen beliau (baik tentang persepsi pemilihan wawali maupun agenda tersembunyi lainnya) yang tetap datar dan tanpa ada sayap-sayap kepentingan, diimbangi pula dengan istiqomahnya beliau menyapa warga di setiap harinya.

Ludruk dan bu Risma memang beda. Bu Risma tidak dalam kondisi meludrukkan diri, tetapi bisa jadi Ludruk akan mengambil inspirasi dari beliau untuk menjadi lakon tersendiri (entah kapan, tentu dengan catatan jika Ludruk tidak tergesa-gesa terkubur). Ludruk dengan bu Risma bisa juga sama, sama-sama berangkat dari imajinasi. Jika Ludruk hasil dari imajinasi penulis ceritanya, maka kalau bu Risma dari imajinasi politikus yang ada.

Seharusnya Ludruk dan bu Risma saling melengkapi, ketika ada yang guyonan dalam kepentingan birokrasi, siapapun orangnya, bu Risma cukup menanggapinya dengan gela-gelo (geleng-geleng kepala) lantas ngedruk (menghentakkan kaki) tanah sekuatnya. Ludruk pun harus menjadikan bu Risma adalah inspirasi cerita atau malah jadi inspirasi kelangsungan hidup ludruk (dan pemainnya juga) dalam menapaki konstelasi hidup berbangsa saat ini. Ambil saja inspirasi dari beliau jika toh dalam setiap lakonnya selalu berkubangan guyon (lawakan, tidak serius, main-main), tetapi ending cerita tetap harus tegas di koridor skenario yang ada. Kebenaran di tegakkan, tawar-menawar biarlah berjalan dalam guyonan saja asal akhir cerita Ludruk itu menjadi pencerahan bagi penontonnya. Perkara penonton kecewa lantas di pertunjukan lain sepi penonton, istiqomah saja pasti suatu saat penonton butuh yang sebenarnya.

Saya memang tidak bisa memastikan sama-bedanya Ludruk dan bu Risma, itulah sebab judul tulisan ini cukup seperti itu. Dua ikon (yang menurut saya) sedang diuji eksistensinya, diuji ruh visinya, diuji keihlasan dalam langkahnya. Ludruk harus beradu dengan mainstream budaya baru, menggeliat-geliat memanggil penggemarnya. Sementara bu Risma sosok yang berada dalam pusaran, mengeliat-geliat juga memanggil insan-insan yang masih respek akan kebenaran dan keadilan.

Kedua-duanya sudah menjadi pengingat Surabaya, jika Ludruk adalah produk budaya maka bu Risma diharapkan bisa mencipta budaya beretika dalam khazanah perpolitikan bangsa. Ludruk dan bu Risma sama-sama fenomena, yang sekarang memang harus menjadi perhatian warga. Fenomena untuk dikuatkan eksistensinya agar tidak kalah oleh arus perubahan yang ada. Bukan fenomena untuk dikaji keruwetannya sehingga menghasilkan hikmah tak bermakna.
Ludruk dalam riwayatnya memang panjang dan beraneka tafsir, dalam perjalanannya penuh dengan warna yang berbeda-beda. Begitu juga dengan bu Risma, tafsir dan analisis sah jua adanya dengan warna yang berbeda pula.

Kesamaan yang jelas ada adalah, kedua-duanya harus melakonkan cerita dan akan mengakhiri lakon itu pada saatnya nanti dengan meninggalkan bekas kepuasan dalam hati penontonnya, tanpa harus terfokus pada siapa penontonnya, apa isi ceritanya, di mana mementaskannya. Karena keduanya sudah masuk daftar catatan sejarah. (*)

Kertonegoro, 2 Maret 014
*Penulis adalah praktisi pendidikan
www.bermututigaputri.guru-indonesia.net

Link terkait :
1. http://budayanegrikita.blogspot.com/2010/12/sejarah-dan-asal-usul-ludruk.html
2. http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/artikel_detail-36412.html
3. Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Perkembangan Ludruk di Jawa Timur, Kajian Analisis Wacana, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997. Hlm. 6-9.
4. http://www.tribunnews.com/nasional/014/02/24/puan-maharani-bantah-risma-ditolak-temui-megawati

gambar dari budayanegrikita.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: