Mari Kita Bicara Terorisku

Mari Kita Bicara Terorisku

Oleh : Akhmad Fauzi(*)

Jujur saja, ada rasa takut juga untuk memulai tulisan ini. Ketakutan terbesarnya ada pada diri saya sendiri. Ekses akan tidak bernilainya diri di antara besarnya tema yang akan saya ungkap, itulah yang saya takuti. Untuk mati, rasanya terlalu naif jika harus ditakutkan, karena KEMATIAN BUKANLAH TRAGEDI. Untuk kebermanfaatan tulisan, saya pikir harus mengakui kalau tulisan ini tidak akan pernah mampu merubah sesignifikan mungkin fenomena teror yang ada. Untuk merubah persepsi? Apalagi lagi ini, karena, saya termasuk yang percaya warna persepsi (seiring meluasnya akses global dan kompleksnya permasalahan) sulit untuk di giring, kecuali ADA HIDAYAH.

Sejatinya, besarnya tema ini bukan pada terorisme itu, karena bagi saya, terorisme adalah konsekwensi logis dari aksi dan reaksi sebelumnya. Tidak ubahnya kita mendiskusikan antara telor dan ayam. Sederhananya, terorisme adalah rumbai-rumbai saja, bukan fondasi yang harus digali.

Oleh karena itu, terorisku, perkenalkan, saya hanyalah hamba yang ditakdirkan Tuhan, Allah SWT, untuk diberi kekuatan menyapa anda, kalian semua. Meski sapa saya ini tekesan abstrak dan absurd, tetapi saya yakin kalian punya eksistensi dan lahan yang sama, yang telah diberikan Tuhan (maaf, saya memakai kata Tuhan saja ya untuk menyebut kemuliaan dan kebesaran Tuhan, Allah subhanahuwata’ala) kepada kita di dunia ini. Seperti terurai di atas, ada juga ketakutan saat menulis semua ini. Syukurlah, fikir saya masih mau untuk sejenak menata hati yang kemudian muncul bisikan, “teruslah menulis, nilai kemanusiaan memanggilmu untuk itu”.

Terorisku, maafkan kalau aku memanggilmu demikian. Saya tahu persis engkau pun tidak ingin dipanggil itu. Saya juga tahu persis engkau lebih senang terpanggil “jihad” dengan dasar utama karena panggilan hati yang engkau yakini. Saya tidak akan mendiskusikan hal ini, karena saya tahu apalah diri saya. Lebih dari itu, saya menyadari saya tidak perlu ambil bagian untuk menjadi penengah.

Aku memanggil teroris, karena dalam kajian keilmuwan yang saya miliki mengatakan demikian. Siapapun yang menimbulkan ketakutan dan kerusakan, menurut ilmu yang saya pelajari, adalah teroris. Iya, terorisku, yang di dalam negeri saja berapa yang harus di sebut teroris, apalagi yang di luar sana. Jadi, semoga semua memaklumi pemanggilan saya ini seperti itu. (lihat link ini : http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_terorisme)

Terorisku, kita mulai dari aktifitas saya ya. Setiap kali ada aksi kalian, pasti besoknya puluhan pertanyaan selalu terlontarkan oleh siswa didik saya. Bukan lelahnya untuk menjawab, terorisku, tetapi setiap kali jawaban normatif saya sampaikan, siswa selalu mengalami kebingungan. Kasihan siswa saya, karena sesuatu yang normatif dari saya selalu dijawab kejadian-kejadian yang ada. Saya khawatir saja, jangan-jangan siswaku juga antipati dengan yang normatif itu. Padahal terorisku, selama saya jadi guru, hanya tiga empat anak yang ingin (entah guyon apa serius) menjadi teroris, meskipun kenyataanya sekarang empat anak itu “tidak jadi” mewujudkan cita-citanya.

Di keluarga saya juga begitu, kebetulan semua wajar-wajar saja, tidak ada yang berminat menjadi teroris. Ada sih dua tiga orang saudara yang senang menjadi teroris, tetapi sebatas teroris tingkat keluarga. Ada juga satu keluarga saya yang sedikit beraliran keras ketika saya tanya, “Kenalkah anda dengan teroris itu?”. Jawabnya kok begini : “Hanya khilafah yang bisa mengatasi semuanya…”. (jangan protes dulu ya, karena wacana yang ada selama ini –katanya- teroris itu dekat dengan aliran keras ini. Untuk saya, saya termasuk yang tidak setuju kalau ada justifikasi itu).

Terorisku, mari kita bicara, atau lebih tepatnya, “bicaralah”. Wujud dari keinginan akan engkau bicara sangat kuat kok. Masih sangat buram di pemikiran saya, mengapa Bapak polisi (kemarin itu) harus seperti itu. Masih kabur logika saya, ada apa di berdarah-darahnya demonstran itu? Lebih kabur lagi, mengapa yang jadi otak selalu remang-remang. Semakin kabur saja ketika gelimpangan noda itu di wacanakan BENARSALAHNYA.

Terorisku, coba adakan pendekatan dengan mantan-mantanmu yang sekarang mencoba menjadi pengamatmu. Siapa tahu mereka tidak saja menjadi pengamatmu bahkan bisa jadi menjadi “jembatan” akan hasrat yang engkau miliki. Saya termasuk yang heran kok dengan analisis mereka yang kadangkala menjadikan “bekas komunitasnya” menjadi titik satu-satunya. Padahal, kesempatan teroris itu cukup luas untuk dijajaki. Yang mengambil situasi juga bisa dikatakan teroris, yang ingin mengalihkan perhatian pun juga bisa dikatakan teroris, apalagi yang memang berprofesi teroris.

Terorisku, negara ini punya salah apa di kalian. Sungguh, saya tidak ingin mengatakan “korban itu punya salah apa”, karena, siapapun korbannya tetap negara juga yang repot merawatnya. Saya pernah ditanya anak saya yang sudah menginjak dewasa, ini pertanyaannya : “Pa, apa maksudnya negara tidak boleh kalah dengan teroris?”. Aku menjawab begini : “Itu artinya negara harus bijak, mbak. Satu kaki sebagai pelindung, kaki lainnya harus bisa melakukan pencegahan”. Teroris, anak saya tanya lagi, “Apakah negara sudah melakukan itu?”. Singkat jawaban saya, “Sudah, mbak…”. Rupanya anak saya semakin bingung, saya tahu, dalam fikirnya adalah : “Kok masih juga ada teroris, ya…?”

Sama dengan yang saya fikirkan apa yang menjadi tanda tanya anak saya itu. Bedanya, terorisku, saya sudah faham kalau kalian, terorisku, tidak akan berhenti selama tidak ada kelapangan hati dan fikir. Dan saya sangat faham, teroris itu, terorisku, akan tetap ada karena hanya ada satu manusia yang dijaga hatinya untuk menjadi teroris, yaitu Muhammad SAW. Terorisku, semua berpotensi untuk menjadi teroris kok. Makanya, mari kita bicara.

Bicaralah, terorisku, saya menulis ini karena termasuk yang ingin menghargai isi pembicaraan kalian. Banyak kok yang masih tidak ingin terjebak kebencian dengan kalian. Kalau toh saya dan mereka “geram” (bahkan benci), itu bukan karena geram akan yang engkau bicarakan, tetapi lebih pada tindakan yang terlanjur dilakukan. Jangankan engkau teror seorang polisi, sebuah penjarapun engkau teror, maka kegeraman itu pasti akan mengarah ke kalian.

Mari bicara, terorisku, alternatif pemecahan permasalahan sudah tertumpahkan tuntas kok oleh Tuhan, jauh sebelum dunia mengenal teror ini.

Kertonegoro, 20 Agustus 2013

Catatan :
Tulisan ini mengalir begitu saja seiring tangis anak istri kerabat keluarga Sang ANUMERTA mengantarnya ke lahat yang abadi. Sembari menatap anak istri sendiri yang ikut menangis bersandar di relung hati saya. “ingin rasanya rasa kemanusiaan ini aku kembalikan lagi ke asalnya……”

2 thoughts on “Mari Kita Bicara Terorisku

  1. Yth. Redaksi @titik0km.com

    Ada sedikit perbaikan tulisan di alinea 11,

    tertulis :

    “Dan saya sangat faham, teroris itu, terorisku, akan tetap ada karena hanya ada satu manusia yang dijaga hatinya untuk menjadi teroris, yaitu Muhammad SAW”.

    YANG BENAR :

    “Dan saya sangat faham, teroris itu, terorisku, akan tetap ada karena hanya ada satu manusia yang dijaga hatinya untuk TIDAK menjadi teroris, yaitu Muhammad SAW”.

    JADI DITAMBAHI KATA “TIDAK”

    Demikian, semoga pembaca setia memaklumi klarifikasi ini.

    Selamat berkarya

    Akhmad Fauzi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: