Melukis Jember

Oleh : Akhmad Fauzi*

 

“Hebat Om,

Dengan MUSIK klasik; Gus Dur (sedikit banyak) bisa melupakan “busuk”nya politik, dan tetap segar sampai akhir hayat beliau. Dengan ROCK; jokowi bisa mengaktualisasikan rasa “kerakyatannya” dengan penuh penjiwaan. Tapi jangan lupa om, banyak juga yang bersembunyi di balik musik untuk berbuat yang aneh-aneh, bahkan berakhir tragis. Anda sudah mencoba membuka wacana om, bahwa musik adalah salah satu sarana untuk bisa menghimpun energi yang positif untuk bisa menembus luasnya kreatifitas. usul saya; anda punya background, punya perangkat (lunak maupun keras), mungkin juga punya link, MOHON jangan sia-siakan itu. Ingat, Jember hanya butuh “SINERGI” untuk menghimpun kekuatan musik. Ingat, tanpa literatur sistem yang sempurnapun, Jember punya D. Persik, A. Hermansyah! …… ndahniyo kalo ada greget untuk menyempurnakan sinergi itu? Woww …., Jember akan bisa menggeser Bandung untuk menjadi barometer BIBITBIBIT SELEBRITIS. Yakinkan,om?

Salam untuk potensi Jember”

 

“thanks to mr ahmad fauzi for your comment in “kekuatan music” article.We all hope that music can make sinergicity with all..succes for you brother!”

 

“Komentar yang luar biasa. Hanya butuh sinergi. Jember punya house music punya master music punya purwacaraka yang perlengkapannya standar nasional. Maukah pak agus dkk bersinergi dgn yang lainnya untuk jember? Jgn nunggu pemerintah. Dgn memberi kita bersyukur dgn bersyukur nikmat ditambah. Tidak ada ceritanya dgn memberi dan bersyukur orang tambah melarat. Betul kan?”

 

Ilustrasi di atas adalah cuplikan dari dialog penulis dengan Ketua Ikatan Pengusaha Jember (Om Agus Susanto) di sebuah media online Jember (@titik0km.com : http://www.titik0km.com/kekuatan-musik.html#axzz2QW1QJ1f6) dalam rangka menangapi artikel beliau tentang Kekuatan Musik. Entah kebetulan entah tidak, dalam rentang waktu tidak lama “SINERGI” menjadi jargon dinamika kegiatan yang ada di Jember tercinta ini. Kegiatan yang paling terkini adalah Operasi Bibir Sumbing yang terbungkus dalam sebuah gerakan SINERGI AKSI KEMANUSIAAN.

Kembali, Jember menunjukkan geliatnya, tampak jelas ruh sinergi membawa kekuatan penuh akan potensi yang dimiliki kota yang nuansa pluralnya cukup kental ini. Setidaknya ada beberapa kegiatan yang cukup menarik untuk dicermati. lihat bagaimana selama sekian bulan “dokter cilik” melenggok di wacana kehidupan warga, sampai-sampai konon, atribut yang berbau “dokter” laris manis terjual. Lihat pula “Gitaran Sore” beberapa waktu lalu, wowww..!  bukankah “stok” gitaris Jember begitu bejibun? Ini masih belum bicara tentang mendunianya JFC. Apalagi yang diragukan oleh Jember?

Diakui atau tidak, ide brillian akan Bulan Berkunjung Jember (BBJ) memang membawa efek percepatan dinamika di kota ini. Berangkat dari gerakan BBJ ini melahirkan konsep trend yang cukup fenomenal, yaitu JFC. Info terakhir yang penulis dengar, JFC mulai dilirik oleh sebagian rumah mode transnasional. Fenomenal bukan? Yah, Jember mulai bergeliat untuk melukis, melukis warna khas yang selama bertahun-tahun (belum) pernah jadi. Akankah lukisan yang sedang tergores ini mampu mampu menggambarkan “wajah Jember” secara utuh? Entahlah

1. Membangun Blue Print Yang Jelas

Yang pasti, Jember adalah kota ketiga terbesar di sebuah propinsi terbesar kedua di negeri ini. Sudah tak terhitung kalkulasi pakar tentang “kekayaan” yang dimiliki kabupaten Jember. Sudah tak terhitung pula “kerja hebat” yang telah terakui. Dan coba hitung pula, berapa putra Jember yang mampu berbicara di tingkat nasional. Jadi benar memang bahwa tanpa konsep yang jelas pun (selama puluhan tahun lalu), toh Jember mampu juga melukis prestasi.

Piranti untuk menciptakan blueprint Jember yang jelas sebenarnya cukup tersedia, hanya saja selama ini masih berserakan. Kota ini punya Universitas Negeri yang cukup representatif dengan beberapa praktisi akademik yang (menurut penulis) juga cukup mumpuni. Jember punya potensi wisata, Jember punya orang-orang hebat di Jakarta, dan jangan lupa, Jember punya Pabrik Semen! Jember kota yang plural dengan segala kedamaian yang terbukti mampu terpelihara, Jember melahirkan beberapa ulama kharismatik untuk negeri ini, Jember adalah prototipe masyarakat madani yang nuansa dinamisnya cukup menggairahkan, baik untuk kalangan bisnis maupun dunia perbankkan. Apa yang belum dimilik? Hanya sinergi kan? Pertanyaannya adalah, bagaimana mensinergikan piranti itu?

Sebenarnya sederhana kok, mari kita tanyakan pemerintah daerah yang memiliki semua fasilitas untuk memfasilitasi sinergi itu. Track record kapabilitas (baik dana maupun perhatian) pemerintah daerah di lima tahun terakhir cukup menggambarkan yang menggembirakan. Tinggal “go” saja yang belum dilakukan.

2. Melukis Jember Dengan Warna “AKU JEMBER”

Dari beberapa daerah yang penulis amati, hampir semuanya mengalami kesulitan memilih “aku” ini. Memang, aku cukup mahal harganya, karena harus lahir dari keunikan asli masyarakat, harus juga mampu terasa unik di luar, harus “beda”, (dan untuk sekarang) harus juga mampu menjawab tantangan jaman ke depan. Bagaimana “aku” untuk Jember?

Di titik inilah (sebatas pantauan penulis yang asli Jember) lukisan jember yang sempat tertoreh selama ini berhenti tanpa ada kelanjutan lagi. kita masih ingat musik patrol, dua tiga tahun saat awal munculnya menggeliat begitu aktifnya. Tapi apa yang terjadi? Belum sempat musik ini terpatenkan di hati warga, sudah muncul JFC. Kemana musik patrol? Masih eksis tetapi tidak lagi segebyar awal-awalnya. Dari satu contoh fenomena ini saja, warna yang tergores di kanvas lukisan jember sering mengalami rasa ambigu. Boleh jadi JFC ini juga akan berumur pendek. Mengapa? Ada satu kelemahan fatal yang masih belum bisa di urai di JFC, yaitu nuansa kultur yang (tampak jelas) bukan kultur “wong Jember”.

Kalau penulis mengungkapkan hal ini bukan berarti penulis apriori, justru penulis menunjukkan ada kegelisahan yang cukup kuat dari hati akan ketakutan ditinggalkannya JFC ini oleh warganya. Lantas, apa yang harus dilakukan? Inilah yang penulis katakan “Akankah lukisan yang sedang tergores ini mampu mampu menggambarkan wajah Jember secara utuh?” Mengapa tidak ada ihtiar (walau itu hanya wacana) untuk mematrolkan JFC? Atau apalah istilahnya….

 Kapan yang berserakan itu akan menggumpal

menjadi warna abadi di kanvas,

bisakah senyuman mengiringi

setiap detil goresan akan lukisan itu.

Bukankah lukisan-lukisan kecil yang selama ini tercipta

bisa menjadi inspirasi lukisan besar yang bernama Jember?

Sekali lagi, sinergi! Sinergi antara ulama-umaro, sinergi dengan alam, sinergi dengan dinamisasi anak muda, sinergi dengan mereka yang jauh yang (kebetulan) belum pernah “melihat” ramainya kota, sinergi dengan hati yang meliputi keberagaman warna. Sinergi untuk menyatukan. Menyatukan lukisan yang belum pernah jadi, sementara penggores-penggores ulung gelisah untuk dipanggil. Dipanggil atas nama cinta

Salam untuk potensimu Jember,

sedepa lagi aku akan menyapamu,

agar aku bisa melukismu dengan warna abadi

dan membumi.

 

Kertonegoro, 18 April 2013

*penulis adalah

Pemerhati sosial dan praktisi pendidikan

berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: