Membawa Indonesia Menuju Kebaikan

Oleh : Arin RM

Bulan Agustus lalu, Indonesia genap merayakan 68 tahun kemerdekaanya. Sebagai bangsa yang masih dalam status berkembang, pertambahan usia ini hendaknya bisa diorientasikan untuk semakin membuat Indonesia lebih baik. Sebagaimana perkataan bijak, bahwa semakin bertambah usia, hendaknya menjadi bertambah dewasa.

Kontribusi mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik bisa dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini terdapat peran yang saling mendukung antar keduanya untuk bersama menorehkan prestasi gemilang bagi kemajuan bangsa di berbagai bidang. Hanya saja perlu dicatat bahwa torehan prestasi tersebut haruslah terus memberi dampak positif di masa depan, khususnya bagi keberlangsungan hidup generasi, penerus peradaban.

Namun fakta di lapangan tidaklah demikian. Seiring pertambahan usia negeri ini, kontribusi positif bagi negeri masih terbilang sedikit dibandingkan dengan maraknya kasus yang menunjukkan merosotnya moral generasi. Berita seputar prestasi anak bangsa masih kurang massif dibandingkan tayangan kriminal, kekerasan, trafficking ataupun berita memprihatinkan lainnya seperti rusaknya generasi akibat paparan pornografi yang menyebabkan maraknya seks bebas dan penularan HIV/AIDS. Kondisi ini ternyata diperparah dengan fakta bahwa pada awal Septermber hingga kurang lebih sebulan ke depan, ada sebuah event internasional yang bertajuk Miss World 013 “Rasa Indonesia” yang sebenarnya berdampak semakin memperparah keprihatinan tersebut

Kontes Miss World 2013 yang akan digelar di negeri muslim terbesar ini sejatinya akan menyeret dan mengeksploitasi perempuan pada kompetisi jahiliyah. Kontes ini merupakan kontes bikini tertua di dunia,yang melahirkan kontes-kontes kecantikan, selain mengumbar aurat, juga merupakan ajang pelecehan wanita, karena mengeksploitasi tubuh wanita, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, demi meraih keuntungan berbagai produk kecantikan dan fesyen. Konsep 3B dalam kontes kecantikan, yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (kepribadian), adalah konsep dusta untuk membungkus kontes semacam ini agar diterima masyarakat. Kita akan bertanya-tanya, dalam kontes yang hanya dilakukan beberapa hari, bagaimanakah menilai kecerdasan, kecantikan, dan kepribadian? Yang dinilai hanyalah 1 konsep saja, yakni kecantikan. Maka, mendukung ajang ini sama saja dengan melanggengkan penjualan tubuh perempuan.

Bagi bangsa ini tentu saja berbahaya. Manfaat penyelenggaraan Miss World dengan dalih meningkatkan pariwisata dan citra bangsa di dunia internasional adalah alasan mengada-ada serta menunjukkan ketidakmampuan negara untuk mengisi kemerdekaan bersendikan moralitas bangsa yang mulia dan cerdas. Alih-alih mendatangkan keuntungan di bidang pariwisata, yang ada justru akan menjadikan jutaan pasang mata generasi yang melihatnya menjadi terpapar dengan aksi umbar aurat. Generasi akan terjebak dalam liberalisasi budaya yang memandang prestasi perempuan hanya dengan sudut pandang kecantikan dan keglamoran ala Barat semata.

Tentunya membawa Indonesia menuju kebaikan tidak perlu dilakukan dengan penyelenggaraan kontes Miss World semacam ini. Alangkah jauh lebih baik jika kontes semacam ini bisa digantikan dengan kontes sains internasional, dalam rangka menemukan teknologi termudah dan termodern untuk pengelolaan SDA. Dengan harapan SDA ini bisa dikelola dalam negeri dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran seluruh warga negara.(*)

Arin RM, pemerhati pendidikan di Jember

Catatan Redaksi :

Terima Kasih Ibu Arin yang sudi menulis artikel lepas di titik0km.com, jika tidak berkeberatan silahkan kirim foto diri anda ke email : [email protected]titik0km.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: