Membuka Budaya Alternatif

MEMBUKA BUDAYA ALTERNATIF

Oleh : Akhmad Fauzi*

Setidaknya point penting ini yang sempat saya tangkap dari talk show Mata Najwa beberapa waktu lalu yang menghadir pakar pemasaran terlaris, Bang Rheinald K. Kebuntuan jalan tengah dari tema yang diusung di tayangan itu mencoba di tengahi oleh beliau dengan meletupkan alternatif. Sayangnya, kedua kubu bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Mata tajam mbak Najwa ikut terkerak, tumpul oleh kegigihan mereka.

Pesimis juga melihat kebuntuan akan kekukuhan itu. Alternatif yang mencoba di sodorkan seakan tidak menarik bagi keduanya. Padahal sang pakar sudah menjelaskan pengalamannya saat ditunjuk menjadi salah satu juri ajang bergengsi (kata yang pro) tersebut, yaitu Miss World. Bisa dibayangkan betapa berat nuansa tema itu sampai-sampai alternatif dengan segala argumentasi pengalaman diri tidak mampu menembus kelapangan yang ada. Terlalu panjang dan rumit kalau saya harus menjelaskan kekukuhan masing-masing. Kita letakkan dulu Miss World, biarkan istirahat dulu setelah terlaksana beberapa waktu lalu.

Ternyata memang mahal untuk bisa mempertahankan dan menerima sesuatu, lebih-lebih kalau hal itu berupa budaya. Budaya memang etalase terdepan yang nantinya bisa dibaca oleh dunia luar tentang pola keberadaban manusia dan kemanusiannya. Yang menyangkut marwah bangsa yang harus bisa menyapa semua elemen yang ada. Ironisnya, masih juga banyak yang kurang faham jika budaya dan peradaban di sebuah komunitas harus berbanding lurus dengan pola hidup masyarkatnya. Jika komunitas itu sebuah negara, maka ukuran pola hidup masyarakat adalah nilai-nilai yang tertuang dalam dasar negara tersebut. Dalam membudayakan pemikiranpun seharusnya demikian. Hanya nilai-nilai itulah yang seharusnya menjadi pengukur kemerdekaan ekpresi dan pemikiran.

Silahkan simak arti kebudayaan menurut kbbi di bawah ini :
kebudayaan /ke•bu•da•ya•an/ n 1 hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; 2 Antr keseluruhan pengetahuan manusia sbg makhluk sosial yg digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yg menjadi pedoman tingkah lakunya;- agraris kebudayaan yg hidup dl masyarakat yg mempunyai pertanian sbg mata pencaharian pokok; – asing Antr kebudayaan yg berkembang dl suatu wilayah atau negara yg berasal dr luar wilayah atau dr negara lain; – barat keseluruhan cara hidup, cara berpikir, dan pandangan hidup bangsa-bangsa di belahan bumi bagian barat (Eropa dan Amerika); – daerah kebudayaan yg hidup dl suatu wilayah bagian suatu negara yg merupakan daerah suatu suku bangsa tertentu; – nasional kebudayaan yg dianut oleh semua warga dl suatu negara; – rakyat unsur kebudayaan tradisional yg hidup dl golongan orang biasa dan yg dibedakan dr unsur kebudayaan yg timbul lebih kemudian dan yg dianggap lebih maju; – timur keseluruhan cara hidup, cara berpikir, dan pandangan hidup bangsa-bangsa di belahan bumi bagian timur (Asia)

Analogi sederhana bisa dicontohkan dalam dinamika pembelajaran. Keterkungkungan siswa dalam transfer ilmu tidak boleh terjadi, tetapi juga tidak diperkenankan siswa bebas lepas menafsirkan ilmu tanpa ada koridor batasan. Yang pertama biasa disebut guru gaya otoriter, yang kedua dianggap pembiaran. Jika salah satu atau keduanya terterapkan di siswa bisa dipastikan target capaian pembelajaran itu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) akan mengalami ketimpangan. Analogi ini memang terkesan sederhana, tetapi bisa menjadi rujukan juga karena kelas adalah miniatur ragam manusia yang nantinya menjadi pelaku sekaligus pencipta sejarah.

Kalau toh sekarang sedang marak gempuran budaya luar, dari manapun asalnya (baik belahan dunia timur maupun barat) seharusnya ini menjadi suatu kebanggaan, karena kemarakan itu sejatinya ada sesuatu yang sedang diperjuangkan yang ingin terakui oleh kita dan negeri kita utamanya masyarakatnya. Suara-suara tentang toleransi, perbedaan, fanatisme, lebih menukik lagi radikal, ekstrimes atau ada istilah yang lebih miris lagi (semisal : fustun dan sipilis) hanyalah koma yang masih harus diukur dan dicerna nalarnya lewat norma negara tuan rumah. Semua itu hanyalah pernak-pernik untuk semakin mengokohkan eksistensi yang sedang diusung.

Sebagai masyarakat yang sudah mulai menggeliat ke dewasa, fenomena ini tidak perlu dirisaukan apalagi dicounter balik dengan gaya yang sama. Sudah menjadi keharusan bagi semua yang mendiami negeri ini untuk berani mengatakan benar atau salah dengan basis pengukur yang ada dan terakui di negeri ini. Semakin berani tersuarakan untuk diukur dan semakin tajam alasan dari suara itu, bisa menjadi modal kuat semakin berpotensi diterima kontens yang sedang disuarakan itu.

1. Segera Membuka Budaya Alternatif
Bagaimanakah sikap bangsa ini dalam menyikapi gempuran itu? Menolak, jelas bukan suatu kearifan, menerima begitu saja juga terkesan riskan. Tentu semua sepakat sebaiknya memang harus ada terminal untuk menampung datangnya budaya itu yang seterusnya kita olAh agar menjadi menu yang pas (lahir dan batin) bagi semua. Gambaran letupan wacana yang bisa dilihat di berbagai media adalah fakta sosial yang harus pandai-pandai dalam mensikapi. Bentuk-bentuk euphoria dan pemaksaan (dari siapapun) bukanlah ancaman. Selama itu dalam wacana kemudian tersedia ruang untuk membicarakan dengan jernih dan wibawa, rasanya energi euphoria dan pemaksaan itu akan menguap sia-sia.

Memang, tidak jarang gaya penyuaraan itu terkesan arogan bisa juga sudah masuk ke wilayah yang cukup rawan. Kalau kita mau jeli, kearoganan dan penghantaman privasi itu masih sulit di terima oleh masyarakat, dalam artian, kalau arogansi itu sudah mengena pada ranah hukum apalagi ke ranah stabilitas negara bisa dipastikan tidak saja masyarakat yang menolak tetapi negarapun akan turun.

Itulah salah satu manfaat mengapa diperluka budaya alternatif ini. Suatu budaya yang menggodok untuk mematangkan kejiwaan bangsa. Alternatif yang berusaha meminimalisir turunnya pasal-pasal hukum dan tangan-tangan negara untuk lebih dalam bertindak. Alternatif agar jangan sampai terjadi penghakiman masyarakat.

2. Optimisme Membangun Kebhinnekaan
Memang benar, rasa kebhinnekaan bangsa sedang retak. Indikasi keretakan bisa dilihat dari beberapa kemunculan kejadian-kejadian yang setiap hari terjadi. Ambillah contoh isyu tentang lurah Susan, sebuah jabatan yang sebenarnya tidak terlalu signifikan tetapi bisa meregional suaranya. Penarikan fenomena bu Susan ini, dipermukaan, memang terkesan bisa merobohkan ketenangan kita sebagai negara majemuk, karena (terkesan juga) ada gambaran ketidakperecayaan dari satu golongan ke golongan lain.

Percayakah kita kalau fenomena Ibu kita ini tidaklah bisa menggambarkan sepenuhnya seperti kesan di atas? Siapapun bisa membaca kalau fenomena Ibu Susan bisa dimungkinkan menjadi menu yang lezat untuk dititipi menu-menu lain. Contoh kalau fenomena Ibu Susan hanya “ramai” saja adalah ketika kita melihat klarifikasi dari Staf Ahli Mendagri yang menjelaskan kalau riuh rendahnya suara di luar itu berbanding balik dengan konten pernyataan sang Menteri ketika di tanya wartawan (lihat acara DEBAT, TV ONE, Senin 30 September 013). Atau ada kabar juga (tidak ketemu sumbernya, mohon pembaca mengkoreksi) kalau ternyata MUI juga tidak mempermasalahkan. Bukankah dua contoh ini sangat memungkinkan kita untuk menghadirkan kepositifan jika ternyata masih ada keoptimisan kita membangun kebhinnekaan ini?

Optimisme ini bisa menjadi kekuatan kita kalau bangsa ini sangat terbuka oleh arus budaya apapun. Namun janganlah diartikan keterbukaan ini dengan menempatkan seenaknya saja nilai impor ke tanah pertiwi. Pemilahan nilai budaya harus diperketat dengan memegang teguh norma yang ada dengan tujuan utama menjaga kewibawaan kemajemukan bangsa ini. Jika ini terlanggarkan, maka jangan salahkan kalau ada gerakan untuk menentangnya. simbiosis mutualisme akan berlaku sepanjang peradaban.

3. Membuka Budaya Alternatif Lewat Dengan Menumbuhkan Rasa Percaya!
Bisa dibenarkan juga jika negeri inipun sudah mulai krisis kepercayaan. Hampir semua strata kehidupan (diberita-berita) sudah terjamah kenistaan hidup. Mulai dari yang kelas tertangkap di hotel sampai korup trilyunan rupiah. Wajar kalau masyarakat semakin mempertanyakan kebersihan setiap tokoh. Wajar pula kalau rakyat mencoba untuk menteladani itu.

Lihat bagaiman akun Twit Bang Yusril berkaitan dengan rasa percaya ini : “Jadi pemimpin itu sabdo pandito ratu. Gak boleh mencla mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe. Akhirnya boong melulu”. Terlepas dari kebenaran tengarai beliau, yang pasti, rasa percaya haruslah menjadi picu awal dari interaksi-interaksi, Rasa percaya yang seharusnya menjadi modal dasar dalam mengambil nafas sikap dan penilaian, rasa percaya yang sudah terlanjur begitu pasrahnya di letakkan oleh rakyat. Rasa percaya, yang bersamanya segala ucap siapapun akan menggetarkan rasa ketenangan dan keadilan.

Yang terbaik adalah, menyelesaikan ketidakpercayaan tempo dulu kemudian membangun sebisa dan sekuat mungkin pilar-pilar rasa percaya untuk kini dan yang akan datang. Bisakah…..? Kegaduhan wacana yang ada selama ini mencerminkan kehebatan semangat dengan segala keluasan faham, yang semua itu bisa menjadi indikasi kalau rasa percaya masih mudah untuk ditumbuhkan.(*)

Kertonegoro, 1 Oktober 013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: