Memeluk Indonesia

Ari Sutedja-Asep Hidayat JakArt ASAH Indonesia Tour 2013 JEMBER (titik0km.com) – Denting piano yang ditekan secara pianissimo assai bersamaan dengan gesekan Cello yang menentramkan suasana membuka pergelaran ASAH Indonesia Tour 2012-2013 di gedung Soetardjo Universitas Jember (7/03). Pianist kelahiran Jember tepatnya di desa Jelbuk, Ary Sutedja merasakan tour kali ini ke Jember merupakan tour yang sangat emosional secara pribadi karena Ary Sutedja kembali ke kota kelahirannya setelah sekian tahun melanglang buana keluar negeri.

Dengan dihadiri oleh pimpinan rektorat Universitas Jember, Ari Sutedja membuka pagelaran dengan komposisi duet bersama Asep Hidayat seorang cellist, juga dosen master cello di Institut Seni Indonesia Yogyakarta memukau sebagian besar mahasiswa dan undangan yang hadir di acara “Memeluk Indonesia” Tour 2012-2013.

Musik adalah bahasa universal yang gemanya selalu mewarnai keseharian kita. Berbagai ragam jenis musik telah berkembang dan sudah ada pangsa pasarnya sendiri. Kondisi demikian menimbulkan stigma yang seharusnya tidak perlu terjadi, dimana kemudian timbul anggapan bahwa jenis musik tertentu hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu pula.

Seperti halnya juga dengan musik klasik, anggapan bahwa musik klasik itu hanya bisa dinikmati dan dimainkan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya kelompok elite, dan juga harus dimainkan di kota-kota besar dengan gedung yang harus mewah juga. Hal ini yang mau tidak mau membuat musik klasik belum diterima oleh banyak kalangan secara umum.

Sementara disisi lain masyarakat yang mempunyai persepsi tersebut cenderung bersikap pasif serta menerima persepsi yang belum tentu benar ini sebagai suatu realitas. Dan tidak berusaha untuk mengenal salah satu jenis musik ini. Hal ini disampaikan oleh Ibu Ary Sutedja di awal sambutan mengawali ASAH Indonesia Tour 2012 – 2013 ini.

Segera setelah menyelesaikan prolognya, Ary Sutedja bersama Asep Hidayat menghadirkan suasana carut marut dunia saat ini yang dimusikalkan dengan apik melalui karya Gabriel Faure musisi kelahiran Perancis 12 Mei 1845. Suasana melodi yang lirih hampir tak ada emosi disana, seolah memberikan suatu gambaran yang sangat sedih dan melodi-melodi melankolis tanpa accent yang berarti.

Frederic Chopin komposer dan pianist virtuoso dari Polandia dihadirkan didalam sebuah permainan yang sebenarnya digunakan untuk berlatih jari didalam pelajaran piano klasik, yang disebut Etude. Etude Oppus 10 dan 25 masing-masing terdiri dari 12 komposisi yang memang diciptakan untuk melatih jari atau fingering.Tapi ahli-ahli musik mensejajarkan Etude, sehingga juga disebut sebuah lagu atau komposisi.

Ari Sutedja JakArt ASAH Indonesia Tour 2013Etude in Gb, Op 10, No 5 diberi judul black keys7 karena melatih kemampuan jari dalam berpindah tangan menggunakan tuts-tuts piano yang hitam.Tristesse menggambarkan suasana kesedihan ditulis di Etude E Major,Op 10, no 3. Ary Sutedja memainkan Op 25, no 1 dimainkan didalam nada dasar A flat Major, disusun ditahun 1836 dan diterbitkan ditahun 1837 diberi judul “anak gembala” yang menceritakan seorang anak gembala yang bersembunyi di gua karena badai. Melodi Aeolian yang dimulai dari nada a, b, c, d, f, g, a dimainkan secara arpeggio cepat dan modulasi harmonic.

Karya Tri Sutji Djuliati Kamal komponis dan pianis kelahiran Jakarta dengan aliran art musiknya coba dihadirkan dengan denting piano yang dihadirkan dengan dinamika crecendo dan decrescendo menggambarkan bunyi-bunyian yang membius. Suasana Ramadhan dikomposisinya dimainkan dengan cara memetik dan memukul dawai untuk menghadirkan efek mistis dan religius didalamnya.

Tak mau kalah cellist Asep Hidayat yang sudah melanglang buana menghentak dengan suasana di sebuah stasiun kereta api lengkap dengan suara lengkingan whistle dari kereta api dan dipadu dengan sedikit unsur jazz,blues dan boogie woogie.

Menutup acara di tampilkan komposisi dengan tempo Allegro untuk memberi effek Semangat didalam semua kehidupan manusia, jangan patah semangat tetap move on. Berkaryalah bagi bangsa dan sesama, bermimpilah bagi bangsa dan sesama, tetap memberi kontribusi yang positif meski keadaan kadang tak memberi semangat itu! Demikian disampaikan team Memeluk Indonesia di akhir pergelarannya.

Disepanjang pertunjukan, di belakang panggung terbentang kain putih yang diwarna, di kuas, dicoret, dipercik dengan pepaduan warna yang menggambarkan suasana musik yang disajikan. Siapa dia?

Dia adalah Mikhail David visual artist yang juga suami dari pianist Ari Sutedja. Kuas yang mewarnai kain putih bukan saja kuas-kuas cat biasa melainkan ada juga sapu-sapu lantai yang ikut bergerak menari di kanvas putih dan akhirnya menjadi penuh warna, seperti negeri Indonesia yang penuh warna.

“Luar biasa apa yang dilakukan oleh perupa Mikhail David,yang sudah mensinergikan sebuah bunyi dan harmoni tercetus terekspresi didalam warna-warni kehidupan, ada coretan, ada liukan, ada sapuan dan percikan emosi warna itu, ungkap Agus Susanto owner House Music Jember dan Ketua IPJ yang juga menyaksikan pagelaran JakArt ini.

Bagaimanapun juga effek dari sebuah karya seni apapun itu akan sangat bermanfaat jikalau kita menanggapinya secara baik. Ada sesuatu yang menyayat hati dikala Ibu Ari Sutedja berkata,”saya seharusnya tidak bermain di piano upright yang kecil ini diruangan hall auditorium yang sangat besar, sangat tidak cocok”, katanya.”Di ujung gedung Auditorium Soetardjo ini teronggok grand piano yang seharusnya bisa “berbicara”menyuarakan dirinya tapi, seolah tak berdaya dimakan ketidak pedulian dari kita semua yang tak mau tahu dengan sebuah karya seni. Grand piano yang masih ber tuts gading yang dipunyai oleh Universitas Jember, seharusnya bisa bangkit untuk memberi arti akan indahnya suara yang dihasilkannya”.

Sungguh menarik pagelaran musik klasik JakArt kali ini. Sajian musik kamar ASAH Memeluk Indonesia memberikan sajian yang bermutu walau teramat sangat singkat untuk ukuran pagelaran musik klasik. Namun semangat memberi tercermin ketika Ary Sutedja mengungkapkan bahwa pagelaran JakArt melalui ASAH Memeluk Indonesia ini, adalah semangat memberi dan bakti sosial dari masing masing anggota JakArt untuk memajukan kesenian musik klasik di Indonesia.

Ari Sutedja-Asep Hidayat-Mikhail David JakArt ASAH Indonesia Tour 2013“Semoga dengan pagelaran ASAH Memeluk Indonesia ini membuka mata kita untuk mendengar dan membuka telinga kita untuk melihat yang sesungguhnya apa yang kita butuhkan, apa yang keluarga kita butuhkan, apa yang kota kita butuhkan, dan apa yang bangsa ini butuhkan, dan bagaimana semangat memberi itu memberikan energi yang luar biasa. Seperti yang kita lihat malam ini, sungguh paduan pertunjukan dan semangat memberi yang luar biasa,” ujar Agus Susanto yang juga instruktur piano di House Music School. (atk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: