Menggugat Indepedensi Media

MENGGUGAT INDEPENDENSI MEDIA

Oleh : Akhmad Fauzi*

Rada KECEWA dengan ……….. (sengaja penulis rumpangkan)

Kok getol banget dalam menguak kualisi…… (sengaja penulis rumpangkan)
Isyu BBM lebih HOT lho?
Ada apa ya? terusik nich rasa independensinya…..

Padahal kan ini demokrasi, toh setgab kualisi juga “adem ayem”.
Nggak elok loh kalo mesti agak miring?

………….. (sengaja penulis rumpangkan)  nggak jahat kok.
Hanya sedikit “genit”
Biarlah….

Apa ini ya namanya?
Sunguh saya termasuk agak kecewa kalau ada media yang harus di pesan temanya. Nau’dzubillah……

Nuansa demokrasitis dan objektif sudah cukup harum di Indonesia.
Mari kita jaga rasa demokratis ini seobjektif mungkin.
Karena rakyat sudah cukup pandai dalam mengintip.
Yakinlah,

yang kotor pasti ditinggal!!!

Ini hanya letupan rasa saya saja.
Yang begitu sayang dengan laju kehidupan negeri ini yang sudah dinamis.
tidak boleh terkotori lagi……..
Oleh siapapun!!!
TERMASUK MEDIA!!!
SEBESAR APAPUN, itu media…

Karena “Demokrasi” dibeli dengan amat sangat mahal!
Yang korbannya terkubur massal….
di tanah lapang,
yang bernama sejarah dan peradaban…..

Selamat INDEPENDEN media-ku.
Engkau termasuk “sang pencerah” bagi negeri ini….

Salam hangat untuk :
@Metro_TV
Dan
@tvOneNews
(CHANNEL FAVORIT KU)

Kertonegoro, 19 Juni 2013
Salam

 

—)***(—

Tulisan di atas adalah “OBROLAN SORE” yang terupload di laman facebook penulis di : Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif. Terinspirasi  ketika ada satu stasiun televisi yang “terkesan” menomorduakan dagdigdug-nya elemen bangsa menunggu kepastian BBM naik. Justru yang terblow-up adalah “genit”nya sebuah partai yang imbas untuk “perut” rakyat sama sekali memuakkan.

Bukan sekali ini saja nuansa pembidikan tema tayang media yang terkesan miring. Ingat saja ketika Bang Sutan Batugana (dengan gaya khas “melotot”) mengkritisi presenter dalam sebuah talkshow tentang pemberitaan partainya yang menurut beliau tidak proporsional. Beliau memberikan ilustrasi bagaimana sebuah bencana di Sidoarjo Jawa Timur yang “didiamkan” oleh sebuah media tetapi semarak ditayangkan di media lain. Atau senyapnya momen keluarnya seorang tokoh dari sebuah komunitas gerakan yang sebenarnya menarik untuk diberitakan.

Dalam pengamatan penulis, hanya beberapa tokoh saja yang berani mengkritisi media ini. Tentu hal ini bukanlah keanehan, rupanya prediksi Alvin Toefler terhayati betul oleh tokoh-tokoh negeri ini. Dalam Mega Trend-nya (tahun ’90-an), Alvin memprediksi akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan budaya manusia, efek dari perkembangan komunikasi. Rupanya prediksi ini tertangkap dengan baik oleh media dan tokoh yang ada. Gus Dur (Allahuyarham) bisa besar, di samping kapabilitas dan konsistensi idealis beliau, tidak bisa dipungkiri juga ada peran tangan media untuk ikut memoles kebesaran beliau. Jejak itu sekarang (sepertinya) terwariskan ke seorang Jokowi. Begitu juga dengan beliau yang sekarang “tenggelam” tertelan bumi, padahal dulu begitu “garang” di layar-layar media.

 Lebih dari itu, siapapun mengakui kalau media merupakan salah satu pilar demokrasi. Ketika reformasi meletus sampai sekarang hanya media yang terkesan melejit signifikan jatirinya, sementara yang lain masih terseok-seok untuk mencari pola yang ideal. Media termasuk yang cerdas dalam menyantap lezatnya buah reformasi. Bayangkan saja, batas masalah apa saja yang ada di negeri ini bisa terpangkas habis oleh kelincahan media. Hampir semua pejabat publik merasa “alergi” untuk berseteru dengan media (catatan: bahkan ditengarai ada pejabat/tokoh yang “menikah siri” dengan media, meski itu media lokal dengan ruang lingkup yang tidak seberapa). Atau, ini yang lagi tren, opini masyarakat mampu terbangun dengan mulus oleh pemberitaan media. Konten yang ingin penulis tekankan adalah ingin membuktikan betapa media begitu berarti bagi perkembangan hidup.

Penulis merasa bangga dengan binarnya media ini. Penulis meyakini kalau media mampu menjadi salah satu kontrol sekaligus penyeimbang segala regulasi peradaban. Tetapi penulispun termasuk yang “merasa takut” kalau media keluar dari huma indepensinya. Apakah itu sudah mulai terasa? Ada komentar dari teman penulis dalam menanggapi OBROLAN SORE di atas. Sang teman berkomentar begini : Sayang sekali ………… (sengaja penulis rumpangkan) yang kami orang awam kira sumber berita ?? malah sering cenderung tendensius. Kembali ke pertanyaan awal: siapa & parpol apa dibalik TV swasta. Komentar ini bisa jadi mewakili rupa masyarakat sekarang, jika mereka yang tadinya dianggap awam ternyata mampu dengan jeli melihat liukan media, meski disembunyikan sekalipun.

Tak terkira bahaya yang akan ditimbulkan jika media tidak berpihak pada kebenaran. Awam akan terombang-ambing semau yang memiliki media. Kebijakan akan terseok-seok bahkan kalang kabut karena dipental-pentalkan. Padahal kebenaran bisa dilihat ketika hilang segala tendesi. Munculnya kebenaran adalah jaminan kenyamanan dalam beraktifitas yang semua itu bermuara pada “kestabilan”.

Target tulisan ini bagi penulis adalah adanya komitmen media jika awam butuh penyegaran informasi yang objektif dan bertanggung-jawab. Dengan informasi yang segar itu bisa menjadi acuan awam untuk menapaki aktifitas keseharian, apapun stratanya. Karena awam begitu sederhana permintaannya, karena awam teramat lugu obsesinya, karena awam (terbukti) bukan istana yang ingin ditidurinya. Dan awam, begitu berharap banyak dengan keberadaan media. Tentunya media yang bisa menyambut permintaan, obsesi, dan kegelisahannya.

Tulisan ini hanyalah sebuah “koma” dari sebuah buku yang berjilid-jilid yang tertumpuk di rak besar kehidupan. Terlalu naif jika berharap besar dan memberikan efek simultan besar. Cukup sebagai ghiroh untuk mengetuk pintu. Apabila terbukakan, salam pertama yang terucap adalah, “Maaf, menganggu sebentar, kami membawa rombongan. Apakah punya sedikit waktu….?” Jika dipersilahkan maka masih harus ada diskusi-diskusi. Kalau toh tidak diperkenankan akan pulang kembali, tidur seranjang lagi dengan awam sambil bergumam, “Tuhan, hanya ini yang bisa aku ihtiari. Betapa besarnya Engkau…!”

 

Kertonegoro, 23 Juni 2013

Penulis adalah :

Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan

Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember-Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: